Sukun dan Devide et Impera (bag. 5)

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sukun dan Devide et Impera (bag. 5)

"Abah memilihkan nama Sukun untukmu agar tidak hanya kamu yang mendapatkan ketentraman, namun juga kamu bisa menularkan ketentraman itu kepada sekitar," terang Abah dengan intonasi yang santai namun jelas.
 
"Kamu harus belajar dari sukun yang memberikan keindahan, dengan semua potensi yang kamu aktualkan. Baik itu gerakmu, ucapmu bahkan diammu." Abah berhenti sejenak sambil menatap sekeliling pekarangan rumah. Dedaunan manggut-manggut ikut menyetujui ucapan Abah. Jangkrik pun tidak kalah takdzim mendengarkan pelajaran berharga dari Abah. Bahkan Tonggeret yang biasanya saling bersiulan di waktu senja, kala itu mereka memberikan kesempatan alam sekitar untuk mengambil hikmah dari Abah. Sukun? apalagi. Ia tidak ada keberanian untuk sedikitpun menyela. "Gerak, ucap dan diammu harus bermuara pada Sin-Kaf-Nun. Semuanya harus melahirkan ketentraman." Pungkas Abah. Tegas.
 
"Tapi Bah, masyarakat di Indonesia sekarang sudah terbagi dua. Dan masing-masing merasa benar dan yang lain salah. Padahal argumentasinya lemah yang berpatokan pada hoax-hoax." Sukun memuntahkan unek-uneknya yang sejak dari awal ia tahan di tenggorokan.
 
"Apa masalahnya?"
 
"Mereka ada yang mengadu domba, Bah," jawab Sukun. Nampak keraguan tergurat di wajahnya.
 
"Kamu tahu atau dugaan kamu saja?" Tanya Abah.
 
"Di lapangan, orang saling hujat, orang saling caci. Orang saling klaim benar dan sesat. Orang saling klaim saya pancasila kamu tidak, tali persaudran putus. Seolah tali agama tidak lagi kuat. Tali kebangsaan ikut lapuk. Tali kemanusiaan juga terbakar. Saling menghewankan satu sama lain." Sukun tidak menjawab pertanyaan Abah. Namun kalimat yang panjang itu memberikan jawab tersirat bahwa dirinya tidak tahu pasti tentang tuduhan adu domba tersebut.
 
"Itu karena kita selalu menganggap yang baik itu hanya dommah, fathah dan kasroh." Jawab Abah tidak jelas. Abah menyebut tiga harokat dalam bahasa Arab.
 
"Maksud Abah?" Sukun tidak mengerti perumpamaan yang disampaikan Abah.
 
"Orang mengira kebenaran itu adalah ditentukan dengan kuantitas, maka mereka saling berlomba untuk mempengaruhi yang lain agar menjadi kumpulannya. Itulah sifat dommah; berkumpul. Orang menganggap setiap keterbukaan adalah baik, bahkan maunya debat terbuka yang disaksikan oleh banyak pasang mata. Saling bantah di media sosial menjadi keharusan. Seperti halnya fathah yang punya arti keterbukaan. Bahkan kalau perlu bisa mengalahkan dan menghancurkan lawannya. Yang penting mengancurkan. Sebagaimana kasroh adalah pecah. Hancur." Abah sering memberikan jeda dalam pembicaraanya. Seperti jeda kali ini. Tampaknya jeda yang dilakukannya merupakan kesengajaan. Jedanya merupakan metode yang sudah matang dari seorang pembicara ulung untuk sebuah tujuan komunikasi.
 
"Harokat itu ada 4. Satu lagi Sukun. Keempatnya saling melengkapi. Kita harus memanfaatkan keempat harokat itu sesuai fungsinya." Lagi-lagi Abah mengambil jeda, memberi kesempatan alam untuk mencerna setiap kata yang keluar dari lisannya. Sukun diam sambil keningnya mengerut. Sepertinya dia berusaha mengatur frekuensi pikirnya agar sama dengan Abah.
 
"Berkelompok, keterbukaan dan menang adalah suatu hal yang baik. Mereka simbol aktif. Tapi tidak selamanya baik. Makanya ada sukun; diam. Diam biasanya dianggap tidak berdaya. Diam dianggap pasif. Padahal demi kedamaian dan ketentraman diam bisa menjadi pilihan terbaik. Coba kalau dua kelompok di negeri kita belajar tidak menanggapi berita. Keduanya diam. Negara ini gak akan sepanas seperti sekarang."
 
"Tapi kalau diam, dianggap Abu-abu, Bah?" Sanggah Sukun.
 
"Oleh siapa?"
 
"Oleh kedua kelompok. Kelompok yang satu bilang, bahwa yang demikian munafik. Yang satu bilang tidak mempunyai rasa kebangsaan."
 
"Itu poin nya. Saat Abah masih ngajar di sekolah SD dulu. Ada dua anak yang berantem. Abah lerai keduanya. Kedua anak yang masih ingusan itu tidak terima. Yang satu membela diri dengan nafas naik turun karena emoasi. Ia yakin bahwa dia yang benar. Anak satu lagi berteriak-teriak sambil menangis bahwa kawannya yang salah. Abah tidak membela salah satu dari mereka. Apa yang terjadi? Keduanya malah marah ke Abah. Mereka bilang Abah guru tidak adil. Abah guru tidak bisa objektiv. Begitulah anak kecil. Ingin selalu ada pembelaan. Mereka akan menyalahkan orang yang tidak membelanya. Betul tidak?" Abah mengakhiri kalimat panjangnya dengan pertanyaan. Sambil melihat Sukun.
 
Sukun hanya tersenyum menyadari sesuatu dan berucap, "iya ya, Bah."
 
"Coba kalau waktu itu Abah ikut membela yang satu dan membantu berantem dengan yang satu lagi. Apa kata para orang tua? Atau Abah mencari anak lain untuk dipersalahkan dengan tuduhan dia mengadu domba? Padahal Abah tidak mengetahui dengan pasti. Kalau demikian Abah tidak jauh beda dengan anak-anak ingusan itu. Abah yang sudah dewasa tentu gak mau terpengaruh dengan pikiran dan nafsu anak kecil."
 
Abah mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan begitu lembut. Lalu ia berkata, "kamu faham?"

  • view 41