Sukun dan Devide et Impera (bag. 4)

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sukun dan Devide et Impera (bag. 4)

"Coba kamu jelaskan makna-makna tersebut!" Abah malah menyuruh Sukun menjelaskannya sendiri.
 
Walaupun kuliah di jurusan HI di Yogyakarta. Sukun mempunyai bekal yang cukup untuk sekedar mengutak-ngatik dengan radikal kata arab. Abah memilihkan pesantren modern Gontor untuk menjadi kawah candradimuka bagi Sukun dalam pencarian jati dirinya. Abah tahu persis Gontor adalah lembaga pendidikan yang tepat untuk Sukun.
 
Sejarah berbicara, negara tidak pernah melirik Gontor saat berdirinya. Namun justeru ia tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang merdeka dari kepentingan politik pendidikan negaranya. Ia lahir bukan dari embrio pendidikan Belanda. Ia menjadi lembaga pendidikan indigenous Indonesia.
 
Berbeda dengan negaranya yang baru mengakui pendidikan Gontor tahun 1998 melalui Depag dan tahun 2000 melalui Dinas. Sudah sejak lama Mesir, Arab Saudi, Malaysia dan Pakistan sudah mengakuinya.
 
Tidak ada dikotomi ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua ilmu yang dipelajari demi mengisi akal dan hati. Tujuan utamanya adalah dengan ilmu yang dipelajari, semua siswa mampu menjalankan dua tugas penting diutus ke bumi; Kholifah Allah dan Hamba Allah.
 
Bahasa arab dan bahasa inggris tidak pernah diadu dombakan dengan istilah bahasa Islam dan bahasa Kafir atau bahkan provikasi lainnya. Keduanya difungsikan saling membantu untuk menjalankan dua peran yang telah dimandatkan kepada manusia.
 
Sukun menikmati buahnya.
 
"Sakana artinya menetap. Sakan atau Maskan digunakan untuk menyebut rumah atau tempat tinggal. Sikkin artinya pisau. Sakinah artinya ketenangan," jawab Sukun sambil merinci kata-kata arab beserta padanannya dalam bahasa Indonesia.
 
Angin sore di kaki gunung Gede mengusap wajah Abah dengan lembut. Menghilangkan kerutan yang dibuat di keningnya. Sepertinya abah mulai serius mendengar apa yang disampaikan Anak tunggalnya.
 
"Lalu?" Ujar Abah.
 
"Semua kata-kata itu bermuara pada ketentraman. Setiap orang membutuhkan tempat tinggal. Mereka akan berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memiliki rumah. Demi apa? Demi ketentraman. Demikian dengan sikkin. Pisau digunakan untuk memotong. Saat digunakan untuk menyembelih ayam, maka ayam yang asalnya bergerak kesana kemari menjadi tenang. Sakinah adalah makna inti dari semua akar kata yang berasal dari Sin-Kaf-Nun. Ia-lah ketentraman."
 
Sukun berhenti sejenak mengambil nafas. Abah dengan khusuk mendengarkan ucapan anak kebanggaannya, sambil kepalanya manggut-manggut. Abah tampak setuju dengan apa yang diutarakan Sukun. Abah tidak menyela. Abah berusaha menjadi pendengar yang baik. Abah tidak mau mengambil waktu Sukun untuk berbicara.
 
"Sukun mempunya akar yang sama dengan sakinah. Sukun bukan hanya membuat hurup mati. Namun sengaja hurup itu dimatikan agar sebuah kata jadi indah. Tanpa sukun maka kalimat arab menjadi ganjil. Selain itu kalau tidak ada sukun, maka orang tidak bisa membedakan sakana dan sakan misalnya. Orang akan tahu mana kata kerja mana kata benda karena kehadiran sukun. Orang menjadi faham makna sebuah kata dengannya," lagi-lagi sukun memberi jeda penjelasannya.
 
"Dengan keindahan kalimat dan fahamnya orang dengan keberadaan Sukun, maka jelaslah hadirnya Sukun untuk memberikan ketentraman." Pungkas Sukun sambil merasakan ada ruang yang begitu luas di dalam dadanya.
 
Abah menyeruput kopi yang tinggal satu teguk lagi. Lalu membersihkan sedikit ampas yang nyangkut di sisa gigi dengan lidahnya. Kemudian Abah tersenyum. Puas.
 
"Ada lagi selain itu, terutama hubungannya dengan ucapan kamu di awal?" Tanya Abah.
 
Kalau Abah tersenyum kecil, Sukun tersenyum lebar. Ia merasa bangga bisa memecahkan rahasia besarnya. Namun mendengar pertanyaan Abah, Sukun tidak bisa menutupi kekagetannya. Berarti pertanyaan Abah tentang namanya adalah jawaban tentang ucapannya; negara Indonesia yang sedang diadu domba.
 
"Dimana hubungannya?" Pikir Sukun. Otaknya berlari-lari mencoba menemukan tali pengetahuan untuk bisa mengubungkan Sukun dengan Devide et Impera.

  • view 42