Sukun dan Devide et Impera (bag. 3)

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sukun dan Devide et Impera (bag. 3)

"Kamu ini selalu saja ingin langsung ke tujuan," jawab Abah mendengar pertanyaan anaknya yang tampak sudah tidak sabar. Abah sangat mengenal watak Sukun, yang ketika ada keinginan maka harus terlaksana, segera. Ambisius. Buruknya mudah dihinggapi stress, tergesa-gesa dalam bertindak yang nyerempet ke ceroboh dan solois. Untuk yang terakhir ia menanam konsep dalam pikirannya, "If you want to go fast, walk alone. If you want to go far, walk together." Seringkali adagium ini jadi pembenarannya saat ia muak dengan kumpulan dan organinasinya. Bagusnya, Sukun menjadi orang giat, ulet dan pantang menyerah.
 
"Lagian Abah...," Sukun menghadapkan wajahnya ke muka Abah dengan tatapan seorang anak yang merajuk kepada bapaknya, "Saya ajak ngobrol tentang kondisi Indonesia yang sedang diadu domba, Abah malah bahas namaku." Sebagai seorang aktivis yang biasa lantang berbicara, di hadapan Abah, Sukun tetap tidak melewati batasan seorang anak. Rasa hormat kepada Abah mengalahkan tuan ego pengetahuannya.
 
"Coba kamu bongkar itu nama kamu dengan ilmu shorf!" Seru Abah. Shorf adalah salah satu disiplin ilmu dalam bahasa arab tentang perubahan bentuk kata ke kata yang lain. Singkatnya, shorf adalah morfologinya bahasa arab.
 
"Dari puluhan bentukan kata yang terbentuk dari akar yang sama dengan namaku, aku menemukan empat kata yang menarik, Bah." Ucap Sukun setelah beberapa detik diam demi mendengar perintah Abah. Dalam waktu yang sangat cepat otaknya membuka lembar demi lembar kitab 'Matan Bina Wal Asas', buku shorf pertama yang membuatnya memuntahkan isi kepalanya. Mata dalam otaknya dengan cepat mencari semua bentukan kata-kata yang lahir dari huruf Sin-Kaf-Nun. Setelah itu tangan yang ada dalam otaknya segera menangkap semuanya dan kemudian memilih untuk di serahkan kepada Abah. Sangat cepat. Secepat tumbuhnya pohon cinta dalam dada karena sebuah pandangan pertama.
 
"Apa saja?" Tanya Abah. Pendek dan sederhana. Dari awal obrolan, Abah lebih sering memberikan asis daripada mengolah bola sendiri dan memasukan ke gawang. Dengan siapapun. Sejak Sukun masih kecil. Abah hanya sesekali melakukan finishing, agar hasil permainan lebih memuaskan. Teras depan rumah menjadi saksi sikap bijaksana Abah.
 
"Aku menemukan kata Sakana, Sakan, sikkin, dan sakinah, Bah." Jawab Sukun dengan muka berseri-seri. Sepertinya Sukun sudah bisa mendeteksi filosofi makna Sukun. Namun tetap saja ada yang mengganjal di hatinya, "Apa hubungannya dengan Devide et Impera?"

  • view 47