Sukun dan Devide et Impera (bag. 2)

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sukun dan Devide et Impera (bag. 2)

"Bukankah kamu bertahun-tahun menggeluti Ilmu Nahwu?" Abah malah bertanya. Serius tapi wajahnya memancarkan keteduhan. Sama seperti waktu-waktu Abah menemani dan mengajak main Sukun kecil. Efeknya rasa tenang dan damai merasuk ke jiwa Sukun. Sukun akan selalu bisa terbuka dengan Abah tentang apapun.
 
***
 
Sukun masih ingat saat pulang dari pesantren, ia mengajak Abah diskusi yang sangat penting dalam hidupnya. Ia ingin menyelamatkan kehidupan Abah. Abah sudah salah jalan. Keluarga Abah Tersesat. "Ini adalah saat tepat mengamalkan 'quu anfusakum wa ahliikum naaroo'," pikirnya dengan menyitir sebuah ayat.
 
"Abah ini masih Kafir. Abah belum Islam. Yuk Bah, kita masuk Islam". Setelah prolog yang rada sulit, akhirnya Sukun sampai pada tujuan inti dari diskusi sore itu di ruang tamu. Waktu itu ia duduk di kelas 2 SMP. Ia ingat betul, waktu itu, Abah sedang menelaah dua kitab; Nailul Author dan Kifayatul Akhyar.
 
Tampak sekali Abah kaget mendengarnya. Bukan marah, tapi ada khawatir menggelayut di wajah Abah. "Abah kan sudah Islam. Asyhadu Allaa Ilaaha Illalloh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh," jawab Abah sambil baca dua kalimah syahadat, "jelaskan ke Abah dimana letak salahnya Islam Abah!" Pungkas Abah sambil hatinya bergetar. Sekali lagi bukan karena emosi. Tapi karena rasa sayang yang hakiki kepada anak tunggalnya tidak bisa disembunyikan lagi.
 
Tidak ada data dan referensi hasil analisa sendiri yang bisa Sukun jadikan hujjah saat itu. Dulu, Sukun bukan Sukun yang sekarang. Tepatnya Sukun dulu belum menguprade dirinya menjadi Sukun yang ucap dan tidakannya merupakan kristalisasi pertempuran data dan hujjah dalam pikirannya. Namun ia bisa menggunakan dasar-dasar yang digunakan oleh seniornya saat mencekoki dirinya tentang sebuah 'hijrah kaffah'.
 
Seniornya ini terpaut 5 tahun lebih tua darinya. Sang senior sudah duduk di bangku kelas akhir SMA. Seniornya ini menjadi teman ngobrol dari candaan sampai obrolan yang serius bagi Sukun. Begitupun sebaliknya. Pembedanya adalah seniornya lebih banyak pengalaman. Yuswandi nama si senior.
 
Sukun tidak banyak tahu asal-usul Yuswandi. Yang ia tahu, Yuswandi adalah kakak kelas yang pinter, baik, dan enerjik. Satu lagi, ia teman main catur yang tangguh. Walaupun dalam hal ini, Sukun lebih unggul.
 
Sukun menjelaskan kepada Abah apa yang disampaikan oleh Yuswandi, bahwa Islam itu ada dua; Islam Tuntunan dan Islam Turunan. Yang pertama mengikuti ajaran Nabi. Yang kedua hanya sebuah warisan.
 
"Yang benar adalah yang pertama. Yang kedua hakikatnya masih kafir. Masih dalam keadaan Jahiliyyah," ucap Yuswandi dengan sangat serius. Sukun ingat obrolan itu terjadi pada jam 2 malam di kamar no 4. Setelah mereka dibagunkan oleh jam waker kecil untuk sholat tahajjud. Masa itu belum seperti sekarang dimana HP sudah menjadi barang biasa yang dimiliki anak sekolah.
 
"Di Indonesia, banyak mana antara Islam tuntunan atau Islam Turunan?" Di usia 14 tahun, Sukun berusaha memunculkan daya berpikir kritis. Hanya sebatas defensif, ia tidak bisa melakukan counter attack atas serangan-serangan bertubi-tubi dari berbagai lini.
 
Sang senior cerita pengalaman dirinya yang sudah masuk sebuah gerakan suci. Gerakan bawah tanah dalam mengislamkan orang Islam. Ia cerita bahkan kantornya berhadapan dengan kantor kepolisian. Ia mengingatkan ketika sudah berbaiat maka hakikatnya kita sedang berjuang, seperti perjuangan Rosul dan Sahabat Mekkah saat pertama hijrah ke Madinah. Ia mengingatkan bahwa Alloh pasti akan menjadi penolongnya. Buktinya aktivitas mereka tidak terendus oleh penegak hukum. Ia menambahkan, seperti hal perjuangan awal Rosul, kelompok mereka masih sedikit.
 
Tambah Yuswandi bercerita, Sukun menjadi tambah tidak mengerti. Ada logika yang salah dalam cerita-cerita dan penjelasan seniornya. Namun, ia tidak punya amunisi apapun untuk menangkal rudal-rudal yang ditembakkan Kakak kelasnya itu. Ia hanya bisa berusaha menghindar agar selamat dari serangan lawan bicaranya, "Terus, bagaimana kalau saya tidak ikut baiat?" Pertanyaan cukup cerdas yang bisa mengembalikan kepercayaan diri. Kalau dalam main catur, mengorbankan Fatih pun gak masalah, yang penting raja musuh tertangkap.
 
"Ya, berarti tidak masuk Islam Tuntunan. Berarti kamu masih kafir," jawab senior merasa menang.
 
Walaupun belum banyak belajar tentang tafsir, hadits, sejarah dan kajian keislaman lainnya, Sukun adalah anak yang sudah dilatih berpikir kritis oleh Abah di rumah. Ia selalu belajar melaah keselerasan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain yang diucapkan seseorang. Ia diajarkan melihat hubungan sebuah kalimat dengan konteks kehidupan. Ia belajar keras untuk bisa memahami kesingkronan kalimat dengan logika berpikir. Yuswandi tidak menyadari pertanyaan-pertanyaan Sukun bukan sebagai konfirmasi kesetujuannya. Namun ia ingin melihat sekuat apa dasar yang disampaikan Yuswandi.
 
Pertanyaan itu merupakan jurus pamungkas sebetulnya. Kalau bisa nebak arah pertanyaan itu, mungkin Yuswandi tidak akan menjawab seperti tadi.
 
"Kalau begitu, bagaimana dengan Pak Kiayi kita? Bagaimana dengan ustadz-ustadz di pesantren kita? Mereka kan tidak pernah dibaiat. Apakah kamu berani mengatakan mereka juga Kafir? Kalau mereka kafir, kenapa kamu belajar Islam dari orang-orang kafir?"
 
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi, Yuswandi baru paham bahwa Sukun masih cukup terjal untuk ia panjat. Ia bisa menghitung apa yang akan Sukun lakukan kalau ia teruskan obrolan malam itu. Apalagi tentang kiayi, guru-gurunya dan pesantrennya. Ia memutuskan untuk mengakhiri obrolan malam itu dengan mengajak tidur kembali sampai fajar menjemput.
 
Mendengar argumen-argumen Sukun dan cerita sukun tentang Seniornya, Abah tampak lebih tenang sekarang. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari anakku, Alhamdulillah." Ucap Abah dalam hati.
 
"Kamu yakin, Abah Kafir?" Tanya Abah menguji Sukun.
 
"Saya tidak yakin bahwa Abah Kafir. Tapi aku tidak bisa menemukan kesalahan dalam argumentasi-argumentasi si Yuswandi, Bah." Jawab Sukun meminta belas kasihan Abah agar menyelesaikan masalah kegundahan pikir dan hatinya.
 
Alih-alih menjawab, Abah malah bilang, "Justru, kamu Abah pesantren agar kamu mencari. Kamu baru mencicipi baunya khazanah Islam. Nanti kalau kamu sudah paham dan kamu yakin, bahwa Abah kafir. Datang dan sampaikan lagi ke Abah." Pungkas Abah waktu itu.
 
***
 
"Betul, Bah. Saya mencoba mendalami Nahwu. Hanya tetap saja, tidak banyak yang bisa didapat untuk membongkar nama Sukun. Kecuali yang disampain Ustadz Rafa," jawab Sukun. Saat kecil ia pernah mengeluhkan sikap ustadz Nahwunya yang menjelaskan Sukun nama yang tidak baik. Dan Abah hanya senyum-senyum saja. Seperti tidak tersinggung bahwa idenya dalam memberikan nama anak sudah disepelekan.
 
"Oh iya Bah, kalau boleh request saat pertama lahir, saya mau nama Fathah atau Rofa."
 
"Memang kenapa?" Tanya Abah.
 
"Fathah kan dari Fathun; membuka. Harapannya saya bisa menjadi pioneer dalam kebaikan. Untuk Rofa bolehlah Abah sedikit indonesiakan menjadi Rafa; maknanya tidak jauh dari mengangkat, naik, tinggi. Harapannya saya jadi orang yang berkedudukan tinggi. Itu yang dulu saya dapat. Saya tidak bisa menemukan kebaikan Sukun. Justru kebaikan-kebaikan yang lain yang saya bisa temukan."
 
"Bagus itu," Timpal Abah.
 
"Maksudnya?" Sukun tidak mengerti dengan respons Abah.
 
"Umumnya manusia lebih mudah mencari kelemahan orang lain daripada dirinya sendiri," Abah berhenti sejenak untuk menyeruput kopi hitam kental yang sudah dingin, "Mengetahui kelemahan pribadi sama penting dengan mengetahui kelebihan pribadi. Namun mengetahui kelemahan orang lain tidak lebih penting dari mengetahui kelebihan mereka." Lanjut Abah.
 
"Bah, jadi apa sebetulnya filosofi menamakan saya Sukun?" Hati Sukun mulai tidak tenang. Hatinya ingin segera berlari mendahului waktu, agar mengetahui apa yang akan Abah ucapkan. Abah dari tadi tidak memberikan jawaban. Abah malah bertanya dan bertanya.

  • view 75

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Sungguh menyenangkan obrolan antara Sukun dan sang abah. Bermula dari rasa penasaran Sukun atas pemberian namanya oleh sang abah, dialog mereka mengandung tema yang serius dan kekinian, tentang iman, Islam dan isu kafir.

    Tulisan ini secara teknis memang sederhana namun mengetengahkan masalah yang akrab di telinga masyarakat. Intinya karya dari Padlil Syah ini berbobot. Jangan lupa baca rangkaian fiksi dari dialog ini, yang hingga sampai tulisan ke-6, untuk tahu akhir kisahnya.