Sukun Dan Devide et Impera

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sukun Dan Devide et Impera

 
 
Sebagai lulusan universitas ternama di Indonesia dengan nilai IPK Cumlaude, membuat Sukun menjadi seorang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Ditambah keaktifan di organisasi ekstra kampus membuatnya menjadi seorang orator dan ahli dalam urusan debat.
 
Data menjadi dasar dalam ucapannya. Referensi menjadi pondasi dalam kalimat-kalimatnya.
 
Apalagi urusan debat di media sosial. Semua penghujatnya hanya bisa copy paste. Di saat yang bersamaan ia menjadi acuan para penggemarnya. Dan kamu tahu? Ribuan followernya. Dan yang pasti.... ASLI, ini yang penting.
 
Hari ini, ia diberi kesempatan untuk bisa pulang kampung. Abahnya sebenarnya yang minta dia pulang. Uban di kepala menjadi penanda bahwa abah tidak lagi muda. Kulit-kulit keriput dan gigi yang tanggal memperkuat bahwa Abah benar sudah lebih dari sepuh. Abah seorang Kakek tua.
 
"Negara kita sedang diadu domba," ucap Sukun sambil membawa sebuah buku "pergerakan" kepada Abahnya di teras yang sedang menikmati bunga-bunga yang sengaja ditanam di depan rumah, "saya khawatir dengan keberadaan negara ini, Bah."
 
Sore hari seperti sekarang, teras rumah menjadi tempat favorit Abah menikmati masa pensiunnya. Tentu bukan pensiun dari PNS. Teras rumah menjadi tempat siapapun di kampung itu untuk bertemu Abah; untuk hal penting atau hanya sekedar ngobrol. Terasnya menjadi tempat orang lain bertamu tanpa ada rasa risih dan sungkan. Tidak perlu ada protokoler apapun.
 
Mendengar ucapan Sukun, Abah merapihkan posisi duduknya. Lalu menyuruput teh panas yang dibiarkan mendingin buatan Umi. "Sukun, kamu tahu kenapa Abah memberi namamu Sukun?" Abah merespons ucapan anaknya dengan sebuah pertanyaan.
 
Sukun yang sejak tadi sudah duduk sekitar satu depa sebelah kiri Abah merasa kaget dengan pertanyaan itu. Tidak biasanya Abah seperti tidak mau merespons tema obrolan yang ia ajukan. Dan yang paling kaget, di usia menginjak 25 tahun ini, ia bahkan tidak mempedulikan dirinya. Selama 25 tahun ia merasa kecolongan dengan namanya sendiri "Sukun".
 
Dengan wajah serius, ia bertanya, "Memang kenapa, Bah"?
 
Selama ini, Sukun merasa bahwa hal yang tidak disukai dari Abah adalah pemberian nama kepadanya; Sukun. Ia selalu menjadi bahan olok-olok temannya. Karena nama itu merupakan salah satu nama buah. Nama itu juga merupakan salah satu nama dalam tulisan arab; Harokat sukun. Padahal faktanya, nama sebagus apapun, tetap saja ada celah untuk diolok-olok orang lain. Setelah dewasa, ia baru sadar, bahwa olokan nama itu bukan terletak pada nama saja. Tapi yang paling pundamental adalah berada pada orang yang mengolok. Kalau sudah karakter pengolok, maka ia menjadikan sesuatu menjadi bahan hinaan; termasuk prestasi atau kelebihan orang lain.
 
***
 
Dulu, ia merasa sakit hati dengan olokan itu. Bahkan masih ingat salah seorang guru Nahwu di pesantren, pernah mempertanyakan tentang alasan namanya; Sukun. Sang guru menjelaskan bahwa Sukun itu adalah harokat untuk membuat satu hurup mati. Bahkan kalau kita ingin mudah membaca arab, kita hanya cukup memberi sukun semua hurup dalam tulisan arab. Ya pasti, tidak suara yg bisa dikeluarkan.
 
"Sukun itu ciri asli dari Jazm," gurunya melanjutkan mengomentari nama Sukun, "Jazm itu artinya al-qot 'u, memutus. Ya maksudnya memutus kata yang hidup menjadi mati."
 
Mendengar penjelasan gurunya, Sukun tambah merasa inferior dengan namanya. Merasa dipermalukan. Dan Abah tentu yang paling bertanggung jawab. Begitu pikirnya waktu itu.
 
Guru Nahwunya, ternyata seperti belum puas untuk mengorek-ngorek Sukun. "Ciri lain dari Jazm, penggantinya Sukun adalah membuang hurup." Ucapnya sambil menatap Sukun beserta senyum puas di bibirnya.
 
"Semoga kamu, tidak seperti Harokat Sukun", ternyata wejangan sang guru belum selesai, "Tidak menjadi orang yang pasif. Atau membuat orang lain Ku'uleun. Tidak menjadi ciri Jazm yang membuat orang terancam amputasi dan mati," pungkasnya.
 
Mendengar kata-kata itu, darah Sukun bergejolak, emosi. Tenggorokan terasa menyempit. Telinga terasa terbakar. Terlebih teman-teman sekelasnya tertawa keras, seolah satu dengan yang lainnya berlomba agar suara mereka paling cepat masuk telinganya.
 
Sukun hanya benci sama gurunya. Benci sama Ilmu Nahwu. Benci sama namanya. Marah sama Abah yang memberikan nama Sukun.
 
Tapi semua hanya bisa diam dalam hati. Seperti namanya, ia membuat semua ketidak sukaannya terpendam dan diam.
 
***
 
"Apa ada hubungannya pernyataanku tentang Divide at Impera dengan namaku?" Ucap Sukun dalam hati sambil menunggu jawaban Abah tentang penamaan dirinya Sukun.

  • view 69