Love of mantis

Syafiq Santosa
Karya Syafiq Santosa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Love of mantis

Love of mantis

 

Zaman dahulu kala di suatu hutan yang lebat, hiduplah sekelompok belalang sembah yang hidup dengan damai. Damai dan tentram, hingga suatu hari lahirlah seekor belalang betina yang lahir tidak normal.

Dia terlahir dengan cacat pada kaki depannya. Kaki depannya lebih kecil dari belalang sembah pada umumnya. Dia adalah Bela si belalang cacat, begitulah belalang-belalang di sekitar memanggilnya.

Semua belalang mengolok-oloknya dan menghujaninya dengan hinaan. Tidak ada yang mau berteman dengan dia.

Tidak ada.

Belalang betina maupun jantan tidak ada yang mau berteman dengan dia karena takut terkena hinaan yang sama. Bela selalu sendiri dan mengalami kesulitan saat mencari mangsa. Dia juga sering beberapa kali dimangsa oleh hewan lain.

Melihat kondisinya yang seperti itu, seekor belalang sering membuntutinya. Dia dan teman-temannya selalu memanggil Bela sebagai belalang yang lemah. Namun kenyataannya, Bela lebih kuat dari belalang-belalang lainnya. Lalu, belalang jantan itu menjadi tertarik untuk berteman dengannya. Dia adalah Lalang.

Lalang bukanlah belalang yang besar dan tangguh. Dia hanya belalang jantan biasa dengan tubuh yang relatif lebih kecil. Namun itu yang membuatnya merasa lebih kagum melihat si Bela. Lalang sering melihat betapa sulitnya hidup menjadi Bela hingga ia memutuskan untuk membantunya. Di  saat mencari mangsa, di saat diserang oleh predator lain, dan di saat ia kesepian sendiri. Lalang menemani Bela dari kejauhan dan entah sejak kapan hingga akhirnya Lalang dan Bela menjadi dekat.

Mereka berakhir berdua bersama.

Beberapa bulan sejak saat itu telah berlalu. Kini sudah musim gugur. Cuaca yang hangat dan daun-daun kering jatuh dari dahannya. Musim dimana semuanya terlihat indah bagi semuanya. Musim dimana para belalang jantan berkelana untuk mencari makanan dan pasangannya.

Musim bagi mereka untuk kawin dan berkembang biak.

Tidak seperti para belalang jantan yang lainnya. Lalang sudah memiliki pasangan yang ingin  ia kawini. Lalangdan Bela sudah berjanji untuk selalu bersama sejak dulu.

Tapi di hari itu, Bela meminta Lalang  untuk mencarikannya makanan karena ia merasa kelaparan dan lemas. Dengan cepat Lalang mengiyakan dan langsung segera pergi untuk mencari makan.

Lalang pergi ke tengah hutan untuk mecari sedikit makanan untuk Bela. Di tengah perjalanan Lalang melihat dua belalang sembah lain yang sedang kawin. Awalnya Lalang hanya sekedar melihat itu sebagai hal yang memalukan dan tidak begitu memperhatikannya.

Namun ketidakpeduliannya berhenti ketika kedua belalang sembah itu selesai melakukan perkawinan.

Si belalang betina menerkam si belalang jantan yang hendak kabur dari cengkraman si betina. Si jantan yang berada di atas tubuh si betina itu terlihat susah payah untuk menyelamatkan kakinya yang sudah dalam cengkraman si betina. Si betina yang tubuhnya lebih besar dengan mudah menarik tubuh si jantan mendekat ke mulutnya.

Lalu si betina itu melahap kepala si jantan.

Si jantan itu berteriak meminta tolong.

Lalang tidak bisa mendengar suaranya, namun dia tahu dari tatapan mata si jantan yang bertemu dengan mata Lalang seolah ia meminta pertolongan darinya. Tatapan mata dari jiwa yang melayang tepat di hadapannya.

Lalang menjadi ketakutan.

Tubuhnya bergetar tak karuan. Lalang tidak tahu kenapa tapi dia merasa sangat ketakutan. Namun dia ingat kembali wajah si Bela.

Lalang menjadi lebih tenang.

Namun ketenanganya tidak cukup hanya dengan bayangan, dan ia memutuskan untuk kembali ke tempat Bela untuk menemuinya.

Lalang terbang dengan terburu-buru. Yang ada di kepalanya hanya pikiran buruk mengenai Bela. Dan itu yang membuatnya takut lebih dari apapun.

“Apa Bela juga akan memakanku?”. Pertanyaan itu terus menghantuinya.

Lalang sangat mencintai Bela, dia tidak ingin membuat Bela buruk di pikirannya.

Sinar matahari dengan perlahan mulai redup. Awan di langit biru tertiup angin dan berkumpul di tengah menutupi cahaya hangat matahari yang menyinari daratan tenang di bawahnya. Hutan menggelap segelap pemandangan yang dilihat Lalang sesampainya dia di dahan pohon dimana Bela berada.

Bela kawin dengan pejantan lain.

Lalang berhenti bergerak di atas dahan terdekat yang berada tepat di atas dahan Bela. Pikiran Lalang beku dan tak kunjung pecah. Membuatnya bertanya.

“Apa yang harus kulakukan?”

Sekelilingnya menjadi terasa sunyi di telinganya. Tak ada sekecil suara pun terdengar di benaknya. Namun hatinya bisa mendengar suara tangis hati Bela yang berteriak meminta tolong. Lalang langsung membuka sayapnya dan terbang dengan kaki depan terbuka. Lalang siap untuk menerkam pejantan tersebut.

Pejantan itu menyadari kedatangan Lalang dari arah atas dan langsung bersiap-siap untuk bertarung. Lalang yang datang dari atas datang dan mengayunkan kaki depannya ke arah kepala pejantan tersebut. Pejantan tersebut sudah bersiap akan datangnya serangan itu sehingga dia berhasil menangkap kaki Lalang terlebih dahulu.

Pejantan itu memiliki tubuh jauh lebih besar dan kuat. Dia mengayunkan kaki Lalang yang ia tangkap itu dan membantingnya ke bawah. Dia mencabik mata kanan Lalang yang sedang terbaring di atas dahan itu. Lalang kehilangan penglihatan mata kanannya.

Pejantan itu lalu menyudahi perkawinannya dan kabur. Bela berusaha menangkap pejantan itu dan berhasil menangkap kaki belakang pejantan itu dengan kaki depannya. Namun pejantan itu berhasil lolos karena cengkraman kaki depan Bela yang cacat tidak cukup kuat untuk dapat menangkap dan menarik pejantan itu.

Lalang yang terbaring di atas dahan menyaksikan semua kejadian barusan dengan pandangan yang tidak cukup jelas. Namun Lalang tetap terkejut dan kaget.

“Bela apa kau juga akan memakanku sama seperti belalang betina lainnya.” Itu yang ada di pikirannya.

Semuanya menjadi terasa jelas di benak Lalang. Dan Lalang pun menangis.

Bela melihat Lalang dan menghampirinya. Dia juga punya banyak hal untuk ia jelaskan kepada Lalang.

“Ini tidak seperti yang kau kira,” Kata Bela.

Lalang tertawa bersama dengan tangisan di matanya itu.

“Aku takut, ternyata kau sama seperti betina lain,” Lalang akhirnya mengatakannya terang-terangan.

Bela tampak bingung untuk menjawab namun kemudian dia terjatuh. Tubuhnya terlalu lelah untuk berdiri setelah melalui proses perkawinan itu. Proses kawin itu menghabiskan seluruh tenaganya. Dia membutuhkan energi untuk bisa hidup. Dia butuh makanan.

Menyaksikan Bela yang tergeletak tak berdaya, Lalang langsung menghampirinya dan memegang tubuhnya.

“Bela! Kau tak apa?” Teriak Lalang dengan panik di wajahnya.

“Aku tak sanggup lagi...” Ucap Bela dengan tubuh yang semakin lemas.

Lalang kemudian sadar jika dia melupakan makanan yang harusnya untuk dia. Dan Lalang ingin pergi mencarinya sekarang, namun mata kanannya buram dan tak dapat untuk melihat dengan jelas apa yang ada di depannya.

Lalang tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan.

Dia tidak dapat berpikir lama melihat kondisi Bela yang hampir mati karena lemas.

Dedaunan pohon terhembuskan angina dan membuat hutan seketika mencerah dengan kedatangan cahaya matahari. Awan di langit biru di atas sana membuka lebar membawa kehangatan. Pantulan cahaya dari embun air yang tersisa di daun pohon memantul ke arah mereka seperti ikut merasakan perihnya cerita mereka.

Lalang lalu memutuskan tekadnya.

“Bela, makanlah aku.”

Lalang menatap Bela dengan tajam dan serius. Bela menolaknya dengan tatapan yang sedih. Lalang mencoba meyakinkan Bela jika ia merelakan tubuhnya agar Bela bisa tetap hidup, dan melahirkan anaknya. Lalang ingin Bela membesarkan anak-anak yang ada di perutnya saat ini. Karena itu adalah tujuan hidup dari seekor belalang betina.

Bela tetap menolaknya dengan tangisan yang mulai menetes dari matanya. Lalang yang menahan air matanya berusaha membuatnya percaya jika ia tidak keberatan meski kaki depannya bergetar ketakutan.

Mata Bela mulai setengah tertutup. Lalang mendekatkan kepalanya ke kepala Bela. Dan kepala mereka saling bersentuhan, kemudian Lalang berbisik.

“Ini adalah tujuanku hidup.”

Dengan mata yang tertutup pulas Bela memakan kepala Lalang perlahan. Bela melahap mulut Lalang yang menjadi saksi bisu perihnya perasaan hati.

Lalang menjadi tak bisa berkata.

Kemudian Bela melahap mata kiri Lalang yang perlahan mulai tertutup. Mata yang menyaksikan rasa sakit kehilangan cintanya.

Lalang pun menahannya.

Yang terakhir, Bela melahap mata kanan Lalang. Mata yang menjadi bukti dari perjuangan hidupnya. Bekas luka di mata kanan itu yang menjadi bukti kenangan pahit.

Lalang meneteskan air mata yang ia tahan sejak tadi.

Bela melahap seluruh kepala Lalang tanpa ada lagi yang tersisa.

Hutan kembali redup dan hening, hanya ada suara tangisan Bela yang merekah di antara kesunyian itu. Matahari seolah mengerti dan mengirim cahayanya untuk mengawal kepergian Lalang. Sinarnya berkumpul menerangi Bela dari atas.

End.

  • view 164