When the sun is rising

Syafiq Santosa
Karya Syafiq Santosa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 November 2016
When the sun is rising

When the sun is rising

 

Aku seorang gadis yang baru masuk ke SMA. Tubuhku baru saja ditemukan oleh orang tuaku beserta polisi. Mereka sedang mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Aku selalu menulis semuanya di buku harianku yang kecil dan selalu kubawa kemana-mana.

 

Buku Harian:

17 juli 2005

Aku mencoba mengunjungi sekolahku yang baru. Semua terasa segar di sini. Aku mengelilingi sekolahku yang cukup besar ini. Aku tidak terlalu mengetahui asal-usul sekolah ini, aku hanya mendengar beberapa rumor tentang sekolah ini. Aku lebih baik tidak mempercayainya.

18 juli 2005

Hari ini adalah hari upacara penerimaan siswa baru di SMAku. Hari ini aku bertemu dengan seorang pria yang tidak terlalu keren, tapi dia tipeku. Aku mengikutinya bahkan hingga ke belakang sekolah. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan hingga harus lewat belakang sekolah. Tapi ternyata kita satu kelas. Dan dia duduk di depanku. Aku senang sekali.

19 juli 2005

Kemarin aku masih belum sempat berkenalan dengannya. Aku terlalu malu untuk memulai percakapan duluan. Tapi sepertinya aku juga tidak akan bisa melakukannya hari ini. Mungkin besok aku bisa.

20 juli 2005

Tadi pagi dia menyapaku. Aku sangat senang, namun aku tidak tahu kenapa. aku mencoba mengambil kesempatan bagus ini untuk mencoba berkenalan dengannya. Lalu aku menanyakan namanya. Tapi dia menjawabku dengan heran dan bilang jika kita sudah berkenalan kemarin. Dia tertawa karena kelupaanku itu. Namun aku sendiri tidak yakin jika aku akan melupakan kejadian berharga itu. Aku bingung.

21 juli 2005

Hari ini dia menyapaku lagi sambil tersenyum. Dia memanggilku dengan sebutan “pelupa”. Lalu aku menyetujui panggilannya tersebut dan senyum kepadanya. Karena dengan nama panggilan menurutku kami akan bisa lebih akrab. Aku sedikit senang karena telah melupakan kejadian itu.

22 juli 2005

Aku bangun terlambat hari ini karena alarmku tidak menyala. Padahal aku yakin sudah menyetelnya tadi malam. Akhirnya aku berlari menuju sekolah. Untungnya gerbang sekolah masih belum ditutup. Jadi aku tidak terlalu memperdulikannya sekarang. Hanya saja, kepalaku terasa sakit sejak bangun pagi tadi.

23 juli 2005

Hari ini dia mengajakku untuk jalan nanti malam. Aku senang sekali. Dia bilang ini bukan pertama kalinya kita jalan berdua. Kita sudah melakukan itu kemarin lusa. Dia tersenyum sambal menceritakan cerita kita berdua. Cerita yang bahkan aku tidak tahu darimana asalnya. Malam ini tiba-tiba saja hujan turun, kami tidak jadi jalan malam ini. Padahal ini malam minggu, huft!

24 juli 2005 -minggu

Hari ini aku merasa tidak enak badan. Untung ini adalah hari minggu, jadi aku tidak perlu izin untuk tidur seharian hari ini. Haha, syukurlah.

25 juli 2005

Hari ini terlewati seperti biasa. Sangat biasa hingga tak ada yang bisa aku tulis. Namun dia lebih sering tersenyum kepada hari ini. Aku tidak tahu kenapa.

27 juli 2005

Hari ini aku tidak sengaja membaca lagi buku harianku. Dan sepertinya aku jalan dengannya kemarin saat malam minggu. Tidak hanya itu, bahkan kemarin pun juga. Aku tidak merasa pernah menulisnya, jadi aku robek bagian itu.

31 juli 2005

Aku memutuskan untuk tidak kemana-mana hari ini. Aku ingin mencoba mengingat semuanya, atau lebih tepatnya, mencari tahu apa aku telah melupakan sesuatu karena ini sudah membuatku kesal.

 

4 agustus 2005

Buku harianku terus terisi dengan sendirinya. Aku bahkan tidak pernah ingat pernah jalan dengannya sekali pun. Aku rasa aku telah banyak melupakan sesuatu hingga tulisan-tulisan di buku harian ini terasa asing bagiku, jadi aku memutuskan untuk membuat yang baru dan membuang yang lama.

8 agustus 2005

Aku sudah jarang menyapanya di sekolah. Namun dia tetap tersenyum padaku. Dia bertingkah seolah semuanya biasa saja. Apa maunya dia? Apa yang dia inginkan dariku? Aku ketakutan.

13 agustus 2005

Dia kembali mengajakku keluar malam minggu ini. Untuk pertama kalinya aku berusaha untuk menolak ajakannya. Dia terlihat murung mendengarnya. Tapi setelah itu dia tersenyum dan pulang. Aku juga menyusulnya pulang, namun mataku tiba-tiba buram sehingga membuatku sedikit kesulitan untuk mengikutinya dari belakang.

21 agustus 2005

Seminggu lalu aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya. Dan tampaknya keanehan itu lama-lama sedikit lenyap. Aku bersyukur. Hari ini juga aku beli kacamata untuk pertama kalinya. Kacamata yang lucu sekali!

30 agustus 2005

Minus dari mataku dengan lambat semakin bertambah, aku bahkan tidak ingat sejak kapan aku mulai perlu memakai kacamata. Juga beberapa bagianku sudah sulit aku gerakan. Ibu menyuruhku untuk periksa ke rumah sakit. Dan aku melakukannya.

 

3 september 2005

Hari ini keluargaku memutuskan untuk menginapkanku di rumah sakit. Mungkin karena aku teriak kesakitan semalaman kemarin. Kepalaku terasa sakit hingga rasanya ingin kupukul. Dan aku benar-benar melakukannya.

5 september 2005

Teman-teman kelasku mendatangiku. Tidak satupun dari mereka yang kukenali, kecuali hanya dia. Pandanganku sudah memudar juga bibirku sudah sulit untuk digerakan. Aku tetap berusaha untuk menyapa mereka.

18 september 2005

Dia menjengukku lagi. Namun hari ini dia bersama dengan seorang gadis. Dia menanyakan keadaanku yang sedang terbaring. Juga, dia memperkenalkan cewek itu kepadaku. Dia adalah pacarnya.

19 september 2005

Mereka bilang aku mengamuk tadi malam. Aku tidak terlalu terkejut ketika aku tidak mengigatnya karena aku pelupa. Aku hanya meminta maaf kepada suster dan dokter atas keonaran yang kulakukan tadi malam, meski aku tidak merasa telah melakukan hal semacam itu.

26 september 2005

Tampaknya penyakitku tambah parah. Aku mulai mimisan sejak dua hari lalu. Tangan dan kakiku terasa lumpuh. Aku tanya kepada dokter tentang penyakitku dan dokter tidak bisa menjawabnya. Dia sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa.

 

1 oktober 2005

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Namun aku seperti tertidur seharian. Namun di meja kamar inapku terdapat banyak sekali hadiah. Dari keluargaku dan juga dari dia. Aku tidak ingat apa-apa tentang hari ini. Benar, aku pelupa. Akan kubuka hadiahnya satu-persatu sambil mengingatnya kembali.

2 oktober 2005

Hari ini aku bangun di bawah kasur kamarku di rumah. Aku tidak paham kenapa aku bisa sampai sini ataupun bagaimana caranya aku bisa kesini. Ah, aku melupakan sesuatu lagi.

3 oktober 2005

Ada berita sedih hari ini. Pria yang aku taksir diberitakan menghilang. Dia dikabarkan belum kembali sejak lusa lalu. Aku sangat sedih mendengaarnya. Aku hanya berharap mereka bisa menemukan pelakunya.

8 oktober 2005

Hari ini aku terbangun malam-malam di suatu tempat bau entah dimana. “tempat apa ini?” adalah satu-satunya pertanyaan di kepalaku. Aku masih bisa berdiri dan jalan meski tubuhku setengahnya sudah terasa lumpuh. Tapi aku tidak bisa jalan terlalu jauh jadi aku memutuskan untuk masuk dan mengistirahatkan tubuhku di rumah kayu kecil di tengah hutan.

Rumah itu sangat bau, aku tidak jadi pergi ke sana. Namun kakiku serta tubuhku seolah memaksaku untuk kesana.

Malam ini sangat gelap mungkin karena sudah jam 23:30 dan banyak pohon yang mengelilinginya. Di sana aku bertemu dengan si pria yang aku sukai. Terbaring kaku.

 

9 oktober 2005

Aku berusaha berteriak, namun suaraku tidak keluar.  Aku berlari tapi aku tidak berpindah tempat. Aku lemas karena kepalaku terasa sakit lagi. Sangat sakit hingga aku ingin memukulnya. Aku melayangkan kepalaku kesana-kemari hingga akhirnya kepalaku menyundul jendela kaca rumah kayu tersebut. Kepalaku berdarah dan aku bisa melihat wajahku dalam pantulan sinar cahaya bulan. “Siapa kau?”.

Aku menyadari jika yang ada di tubuhku ini bukanlah aku. Dan aku yakin jika dia lah yang melakukan semuanya selama ini. Aku berteriak pada pantulan cermin itu “Mau apa kau?”, lalu dia menjawab dengan setengah wajah yang berbeda dalam pantulan kaca itu. “Aku menginginkan dirimu”.

Dia mengatakan jika dia dulu adalah roh mati yang ada di gudang belakang sekolah. Aku tidak menyadari itu.

Badanku lama-lama tidak bisa lagi kugerakkan. Namun jika kelumpuhan ini adalah darinya, maka akan kuberikan seluruhnya kepadanya, yaitu kematian.

Dalam pantulan kaca itu dia berteriak “Aku membantumu untuk membalaskan dendam untuknya, kan? Aku sudah membunuhnya untukmu! Jika dia tidak bisa kaumiliki, maka dia bukan milik siapa-siapa!” Dia tertawa dengan kencang.

Aku takut.

Aku dengan sekuat tenaga mengendalikan tubuhku dan berjalan. Di dalam ruangan tersebut terdapat tali yang sudah tergantung di langit-langit untuk menggantung peralatan berkebun. Aku mengambil kursi dan segera menalikan tali itu ke lingkar leherku. Kemudian aku loncat.

Aku mati.

....

 

10 oktober 2005

Hari ini aku terbangun. Untuk kali ini aku bisa mengingat semua kejadian hari kemarin. Mulai dari rumah kayu, wajah yang tak kukenali, hingga tindakanku gantung diri. Aku tergelantung di langit-langit rumah kayu ini. Syukurlah semua telah kembali normal.

11 oktober 2005

Hari ini aku menyapa dia, namun aku tidak tahu kenapa dia tidak membalasku. Dia hanya terbaring di dekat pintu itu, namun entah kenapa kepalanya ada di atas meja di sana. Aku bingung harus menghadap mana ketika ingin menyapanya.

12 oktober 2005

Aku mulai bosan. Aku tidak bisa kemana-mana. Dan aku lapar. Semoga ibu membuatkan nasi goreng kesukaanku hari ini. Yummy, yummy.

13 oktober 2005

Hari ini hujan cukup deras. Genangan airnya cukup tinggi hingga dapat masuk lewat celah pintu dan menggenangi lantai rumah ini. Aku merasa kasihan dengannya, karena bajunya basah oleh itu. Hihi... untung kau menaruh kepalamu di atas meja.

14 oktober 2005

Hari ini sangat berawan. Anginnya masuk lewat celah jendela itu. aku berharap bisa menutupnya karena angin itu membuat badanku ini tergelantung kesana kemari. Ini menyebalkan.

15 oktober 2005

Aku berharap bisa menemui seseorang dengan segera. Aku hanya ingin memintanya untuk menurunkan tubuhku ini. Rasanya sudah pegal sekali. Oh, mungkin aku hanya perlu meminjam gunting padanya. Dan memotong tali di leherku ini. Oh, aku juga ingin meminjam mata. Dan juga hidung. Kaki kanan dan tangan kiri mungkin boleh juga. Ah, aku ingin meminjam semuanya!

17 oktober 2005

Aku melihat seorang wanita dari luar jendela. Dia melihat kearahku sambil berteriak ketakutan. Namun, sebelum dia pergi lebih jauh. Aku meminjam tubuhnya. Tubuhnya terasa lebih nyaman dibanding harus tergelantung di atas sana.

Aku membaukan bau busuk dari arah rumah itu. karena aku tidak tahan dengan baunya, aku pergi meninggalkan rumah itu dan menjauh. Aku berpikiran untuk lebih mengenalnya, jadi aku meminjam ingatannya serta kesadarannya.

Aku menyelesaikan buku harianku dengan tubuhnya. Aku hanya ingin membagi petualanganku dengan orang lain. Akan kutinggal buku harianku di dekat jasadku yang tergantung.

Mungin sementara ini aku akan hidup dengannya dan mengawali hidupku yang baru di tubuhnya. Dengan buku harian yang baru juga.

 

 

End.

  • view 260