Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 26 Oktober 2016   22:50 WIB
Uninstall me

Uninstall me

 

Tik, tik, tik..

                Detikan jam dinding memecah kesunyian. Namun aku berharap, suara itu tak mampu membangunkannya. Dia terlihat sangat lelah. Bulatan berwarna merah pada tanggalan terlihat mencolok. Aku ingin tahu untuk apa itu.

Dalam ruangan sekecil ini, aku masih belum bisa bergerak. Warna gelap dinding dengan pecahan sinar bulan seakan meyakinkanku akan suatu hal, namun apa itu aku tak tahu. Aku terduduk di atas sebuah kursi besi dingin sedingin es. Namun setidaknya aku dapat merasakan dunia yang lebih besar daripada sebelumnya. Hari ini angkasa terganggu oleh suara ledakan, hingga akhirnya menangis. Aku bisa melihat itu dari celah jendela. Rintikan tangisan langit menetesi api jalanan. Membasahi kekeringan belas kasih di bumi ini. Tetapi, entah kenapa, pria itu juga menangis dalam tidurnya. Pria tinggi berambut berantakan itu, mengunakan tangan putihnya sebagai bantalan kepala. Siapa dia?

                Matahari membangunkannya dengan paksa. Ruangan ini menjadi sangat terang. Pantulan cahaya dari perlatan bengkel serta cahaya monitor, melenyapkan kegelapan ruangan kala itu. Seperti biasa dia keluar ruangan dan menaiki tangga.

Krek, krek, krek. Suara tangga kayu tua yang diinjaknya terlihat rapuh. Sementara pintu kayu tua yang kuat masih terbuka lebar. Dia memang sering melupakannya. Apa yang ada ada di atas sana? Pertanyaan itu selalu menggangguku.

Ah, dia kembali. Dia sudah rapi dengan kemeja putih berdasi hitam itu. Sesuai tebakanku, dia kembali hanya untuk mengambil jas putihnya yang tergantung disana. Di samping meja penuh kertas berserakan itu. Selanjutnya, aku hanya bisa menunggu hingga dia kembali dari kerja.

Duar, Duar, Duar. Perang hari ini sudah dimulai ternyata. Lebih cepat 1 jam dari biasanya. Biasanya aku ikut berperang di luar sana sebagai prajurit. Namun sekarang sudah tidak lagi sejak dia membawaku ke sini. Apa yang dia inginkan dariku?

Mungkin dia ingin menolongku dan membebaskanku dari tragedi ini. Tragedi terbesar dalam sejarah yaitu perang dunia ketiga. Semua negara super power ikut meluncurkan serangan ke negara lainnya. Entah apa alasannya. Sejauh yang aku tahu, aku hanya lah seorang rakyat biasa yang patut dilindungi. Bukan untuk dijadikan pasukan Cyborg.

Semua ini bermula ketika jepang kehabisan pasukan manusia dan menggantikannya dengan Cyborg. Dan aku salah satunya. Aku diprogram memang untuk mematuhi perintah dan semua gerakanku dibatasi. Namun ada satu hal yang bisa membuatku bergerak sesukaku, yaitu pikiranku. Aku masih bisa berpikir dan berimajinasi layaknya manusia biasa. Namun aku tak dapat mengatakannya atau bahkan menggerakkan tubuhku sesuai keinginanku. Kaku seluruh kebebasan gerakku serasa hidup dalam sebuah jasad mati.

Aku masih bertanya kenapa dia menolongku. Kabel yang menancap di pundakku terasa gatal ketika komputer besar di belakangku dinyalakan. Listriknya mengalir melewati tulang belakangku, menggelitik sekali. Ingin rasanya kucabut. Dia kembali duduk di meja sana dan mulai menghitung sesuatu. Dia hampir tidak pernah berbicara. Hanya fokus pada tumpukan kertas yang menggunung itu. Namun itu tidak menggangguku. Aku lebih merasa terganggu, jika dia meninggalkanku.

Aku merasa pernah mengenalnya dimasa lalu. Ah, mungkin hanya imajinasiku saja.

Pernahkah kau membayangkan, betapa sakitnya ketika badanmu bergerak untuk membunuh orang sementara jiwamu tidak menghendakinya? Jika aku masih manusia, mungkin aku sudah berada di rumah sakit jiwa sekarang. Duduk dalam ruangan kosong sendirian, menikmati hidup dengan penuh kekosongan. Dan lebih baik mati dari pada melihat pemandangan kejam itu melintasi benakku.

Dia berdiri dan berjalan menuju arahku. Oh bukan kearahku, dia menuju komputer di belakangku. Apa yang ingin dia lakukan? Sepertinya dia sedang memprogram sesuatu, aku dapat melihatnya dalam pantulan cermin pecah di sana. Dia sudah menghabiskan waktu sekitar 2 bulan semenjak yang terakhir dia memprogramku. Apa yang sebenarnya dia install kepadaku. Ini sudah ke 8 kali dia melakukan ini dan selalu gagal.

Aku masih ingat betul yang terjadi 2 bulan lalu. Dia menangis seperti anak-anak. Dalam air matanya aku dapat melihat cerita yang sangat dalam. Dan kali ini dia berdiri dan menuju meja tersebut lagi. Semoga kali ini dia berhasil.

Jarum dinding menunjukkan angka 2 malam. Gelap dan sunyi, taka da suara menggema baik di dalam maupun di luar sana. Kali ini bukan suara detik dinding yang menghiasi, namun suara tangis kesedihannya. Jas putih itu sekarang basah, tergeletak di lantai bersebelahan dengannya. Sedih dan depresi. Setidaknya itu yang aku tangkap mengenai kondisi ini. Apa yang membuatnya sesedih ini? Hanya karena gagal untuk menolongku. Atau mungkin aku berharga baginya? Sebenarnya siapa dia? Aku harus cari tahu.

Jam 3 tepat, dia tertidur. Di lantai yang dingin sedingin dirinya. Kenapa dia tidak bercerita kepadaku mengenai dirinya? Apa yang harus aku lakukan untuk mengenalnya? Dia bergemetar.

Jendela kecil di atas sana memang terbuka. Aku sejak lama ingin melihat luar sana. Sudah seperti apa bumi tak bertuan ini. Aku berusaha dan menyadari, bahwa aku bukan lagi bagian dari bumi ini. Aku sama seperti pohon. Hidup tapi juga tak hidup. Namun sekarang ini berbeda. Sudah tidak ada lagi pohon yang hidup. Aku pun juga sudah tidak ada.

Tap, tap, tap. Suara kaki orang mendekati rumah ini. Dia mengintip dari jendela itu. Siapa lagi dia ini? Tidak sopan sekali. Untuk seorang yang hanya lewat, mungkin mengintip ini terlalu lama. Ah, dia adalah prajurit Amerika. Apakah ini berbahaya atau hanya biasa saja? Perlukah aku membangunkannya? Haha, apa yang aku bicarakan. Aku bahkan tak bisa berbuat apa-apa. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti.

Ting, tong, ting, tong. Bel berbunyi. Sentak dia langsung terbangun. Jarum menunjukkan pukul 7 pagi. Mungkin dia yang tadi malam. Dan benar saja, dia masuk ke ruangan ini. Namun tidak seperti yang kubanyangkan. Dia dengan pria Amerika itu terlihat berteman.
                “Hei, apa kau yakin?” kata pria Amerika tersebut.

“Ya, aku akan menolongnya,” kata dia.

Aku tau dia memanglah baik. Dia ingin menolongku karena suatu alasan yang gelap bagiku. Semoga sebelum aku berakhir, aku dapat setidaknya mengenalnya.

“Oke, sebagai teman, aku akan merahasiakan ini.”

“Terimakasih kawan.”

“Tapi kenapa kau sangat ingin menolongnya?”

“Apa kau lupa?”

“Karena dia istri dari komandan?”

“Bukan, ada hal lain.”

Pria itu meninggalkan ruangan dan naik setelah melihat program yang dibuatnya. Siapa sangka bahwa aku adalah seorang istri komandan perang? Jika aku memiliki jabatan, kenapa mereka masih menjadikanku seorang Cyborg? dan sepertinya dia adalah seorang profesor sekaligus pencetus era Cyborg ini. Kalau begitu, dia sama jahatnya dengan suamiku. Tak biasanya raut depresi itu menghiasi wajahnya. Dia menyusul pria tadi. Semua ini tak masuk akal. Seandainya aku bisa berkata. Aku akan teriak kepada mereka untuk mengakhiriku.

Hari ini sangat berangin, goyangan dari tumpukan kertas yang akhirnya terjatuh. Begitu pula dengan bingkai foto itu. Kacanya pecah.

“foto anak siapa itu?” Aku bertanya heran.

3 anak kecil dengan 2 laki-laki dan 1 perempuan mengenakan pakaian main. Mungkin mereka anak profesor, mereka terlihat sangat akrab. Sudah lama sekali sepertinya foto itu. Disamping pecahan kaca terdapat sebuah kertas berisikan rumus dan angka-angka, namun juga kata. Tertuliskan “Installing the brain may not bring the memories nor conciousness”.  Apa itu alasan kenapa aku tidak dapat mengingat masa laluku? Kalau begitu apa tujuan dari dia si professor jenius itu menolongku jika pada akhirnya aku tak dapat mengenalnya? Apakah perintah dari suamiku? Dan bagaimana aku bisa berpikir sekarang?

Klek. Suara pintu kayu terbuka. Dia terlihat tergesa-gesa sambil membawa satu bundel kertas yang terikat berantakan. Dia menaruhnya ke meja dan membacanya. Cahaya putih redup di ruangan ini, mungkin yang membuatnya gelisah. Kali ini dia benar-benar gelisah. Pukul 6 sore, dia mulai mengetik di komputer. Gerakan jarinya menyentuh keyboard tidak seperti biasanya. Tampak lebih cepat. Seperti dikejar seekor anjing.

Suara ketikannya berhenti pada pukul 10 lebih 8 menit dan dia lebih panik dari sebelumnya. Dia langsung lari keluar. Kembali sunyi. Dari pantulan cermin pecah di sana, aku dapat melihat suatu kotak berwarna greyscale sedikit-sedikit terpenuhi. Itu sebuah loading dengan perkiraan waktu 5 menit. Terdapat pula robot disana, duduk di kursi besi yang terikat di pergelangan. Oh, itu aku.

Blam! Suara bantingan pintu. Teriakan terdengar dari atas, dan mereka sedang marah. Dengan cepat suaranya menuruni tangga. Dia mengunci pintu kayu itu dan mendekat kepadaku seolah-olah dia mencoba melindungiku. Sebagian kecil dari hatiku teriak. “Aku mengenalnya”. Aku teringat sesuatu. Ini seperti kejadian sewaktu kecil dulu. Kami bertiga panik oleh adanya anjing. Komandan melindungiku dan aku dan profesor ketakutan dibelakangnya berteriak seperti bayi.

 Angin saat itu begitu keras berhembus, sekeras batu yang dilemparkan oleh komandan. Profesor tidak dapat menahan tekanan semacam ini. Dia kemudian berlari. Pada akhirnya anjing itu mengejarnya hingga dia terkena gigitan hingga seorang pria datang menolongnya. Angin seketika berhenti saat itu. Langit tampak tak ingin memberi kesedihan baginya. Komandan menggendongnya dan membawanya hingga ke rumah.

Rumahnya berjarak 5 menit, tidak terlalu jauh. Namun aku merasa itu sangat lama. Kita berjalan dipenuhi tangisan, terutama diriku. Melihat sahabatku dengan darah yang tercecer sepanjang jalan. Mungkin itu 5 menit terlama bagiku. Tidak lama setelah kejadian itu, profesor pindah. Itu kenangan terakhir yang tak menyenangkan.

“Diam di tempat profesor. Angkat tanganmu dan kemari!”

“Tidak, aku akan melindunginya.”

“Apa yang kau inginkan darinya? Naik jabatan? Komandan sudah mati. Kita semua hancur. Yang kuat adalah yang berkuasa. Dan kami butuh bantuanmu untuk selamat, prof.”

“Tidak!”

Dor! Suara peluru itu menembus tubuhnya.

“Itu peringatan! Kau masih bisa selamat asalkan kau serahkan pasukan itu.”

“Tidak!”

Dor! Suara peluru kedua.

Jas putihnya berubah warna jadi merah dan basah. Dia terlihat tidak akan kuat.

“Hei C-5371, maksudku Carolline. Dengar, aku ingin meminta maaf pada hari terakhir kita bertemu. Aku tidak berusaha kabur saat itu. Aku hanya ingin menjauhkan anjing itu darimu. Aku hanya ingin kau aman. Aku ingin menjadi pahlawan bagimu. Ini bukan perintah dari suamimu. Ini perintah dari isi hatiku. Aku mencin-“

Dor! Peluru terakhir tepat menembus kepalanya.

Sekali lagi, aku berpisah dengan sahabatku dengan cara yang tragis. Waktu menunjukkan pukul 10 lewat 14 menit. Program itu berhasil! Aku dapat berdiri. Otakku kembali terisi oleh dendam. Aku berdiri dari kursi besi dan mencabut semua kabel di tubuhku itu. Peluru mereka menabrak badan besiku ini. Tidak terasa.

Aku tidak sempat menyadarinya. Namun mereka semua telah mati di atas tanganku. Aku menghampiri sahabatku, dafin. Meski apa yang dikatakan rumus tadi, aku dapat mengingat masa laluku dan aku mendapatkan kesadaranku. Mungkin ini kesalahan program atau mungkin suatu keajaiban. Namun aku tak dapat menangis.

Aku masih marah, marah kepada tantara itu dan marah kepadanya.

“Setidaknya selesaikan kalimatmu, dafin”.

Pikiranku mulai kacau. Aku tak dapat berpikir lurus, kesadaranku berputar dan jatuh.

Apa yang masih kumiliki? Kita berpisah lagi. Mungkin ini 5 menit terlama dalam hidupku. Aku ingin menangis.

“Hei, bangun. Apa yang akan kulakukan tanpamu sekarang? Aku sudah tidak memiliki apapun. Aku ingin kita bersama. Aku juga mencintaimu, Dafin.”

Otakku terasa sakit. Aku tak dapat menahan semua ini. Seketika aku tak dapat bergerak.

                Ah!

                “C-5371 siap menerima perintah!”

Aku kembali menjadi jasad mati layaknya pohon yang telah kehilangan akarnya untuk hidup.

Karya : Syafiq Santosa