"Ketika Cinta Hadir Tanpa Kepercayaan Diri. "

Syaa
Karya Syaa  Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Oktober 2017


                                                                                       
Hati : "Kau mau mengulanginya lagi ?" tanya sang hati sarkasme. Ia jengah dengan bayangan-bayangan yang diciptakan oleh Si Pikiran.  Bayang yang sama kuatnya ingin dirasakan juga oleh hati. Bayangan dimana mereka bisa benar-benar mendapatkan cintanya. Tapi itu hanya sebuah bayangan, khayalan yang tercipta karena keinginan besar dan bukanlah sebuah kenyataan. Karena itu bukanlah sebuah kenyataan, itu hanya akan menyakitkan. Hati benar-benar kesal dengan si Pikiran, mau sampai kapan ia menciptakan rasa sakit untuk mereka berdua dengan terus berkhayal.
 
Pikiran : "Tidak." jawab pikiran cepat.  "Aku- aku hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukannya." lanjutnya sendu.  Itu juga pertanyaan besar untuk sang Hati.
 
Hati : "Haaah.... Sama seperti mu. Aku juga tidak tahu." 
 
Pikiran : "Lalu kita harus bagaimana ?" tanyanya menuntut, berharap sang hati punya cara untuk mendapatkan cintanya.
 
Hati : "Entahlah.... Sejauh ini yang bisa kita lakukan hanya berdo'a. Dan aku yakin pasti suatu saat akan dihijabah." kata hati putus asa.
 
Pikiran : "Dan hanya berdiam diri tanpa berusaha ?? Hahahaha.... Jangan konyol, Hati. Kita sudah melakukannya selama ini. Dan apa hasilnya ? Tidak ada. Kita masih diam di tempat." ucap sarkasme sang Pikiran saat mendengarkan ucapan sang Hati.  Bagaiman sang Hati bisa sepasrah itu ? Bukankah Sang Hati lebih sensitif dan perpandangan luas ? Ia bisa berpikir dengan jernih, melihat semua dari dua sisi. Tidak seperti sang Pikiran yang terkadang berpikir dengan sebuah emosi. Jadi kenapa sang Hati bisa sepasrah itu ? Sang Pikiran tidak terima. Sang Pikiran seperti melihat sang Hati tidak mau berjuang, tidak mau berusaha dan hanya mampu pasrah menerima keadaaan seperti ini terus menerus, hingga kehilangan cinta lagi, lagi, dan lagi. 
 
Hati : "LALU APA ???" teriak sang Hati kesal tak  terima dengan ucapan sang Pikiran. Sang Pikiran seolah-olah melimpahkan semua kesalahan padanya. Ia juga sama seperti sang Pikiran, ingin berusaha. Tapi APA ? BAGAIMANA ? ia sendiri juga tak tahu. "Kau terlalu takut untuk memulai. Terlalu takut tersakiti. Terlalu takut untuk mencoba. Keberanian masih bersembunyi ditempatnya, seolah membuat dirinya memang tidak pernah ada. Apa yang bisa kita lakukan tanpanya, selain berdo'a. Berharap sang keberanian meninggalkan persembunyiannya. Membuat kita mampu melangkah untuk memulai." lanjutnya mulai mereda.  Satu-satunya usaha yang bisa dilakukannya sekarang hanya berdo'a, agar Sang pencipta mau mengambulkan keinginan sang Hati dan Sang Pikiran.
 
Pikiran: " ........... "
 
Hati : "........."

Tak ada lagi pembicaraan dari mereka. Baik sang Pikiran dan Sang Hti, mereka kembali menenggelamkan diri pada keputus asaan dengan terus berdo'a suatu saat ada setitik harapan.

Sang tubuh hanya terdiam mendengarkan perdebatan hati dan pikiran. Ia sama galaunya dengan sang hati dan sang pikiran. Sang tubuh juga sudah lelah terus berdiam diri, memendam semua keinginan hati dan pikirannya. Tapi ia tidak mampu melakukan apapun. Seperti dikatakan sang hati dan sang pikiran, sang keberanian masih enggan keluar dari persembunyiannya. Jadi bagaimana mereka mau bergerak tanpa sang Keberanian.
 
Tapi tanpa di sadari sang tubuh, sang hati, serta sang pikiran, sebenarnya sang keberanian bukannya bersembunyi. Ia hanya merasa belum lengkap, sang kepercayaan diri belum ada bersamanya. Belum muncul disisinya. Dan sang keberanian bahkan tahu kepercayaan diri belum tercipta. Lalu bagaimana bisa sang keberanian muncul disaat belahan jiwanya belum ada untuk ikut mendukungnya. 

Sang tubuh tidak akan bisa bergerak tanpa kemantapan sang hati. sedangkan sang hati tidak bisa melangkah tanpa dukungan keras sang pikiran. Sang pikiran butuh dorongan yang kuat dari sang keberanian, tapi sang keberanian lemah tanpa sang kepercayaan diri, sedangkan sang Kepercayaan diri belum lah tercipta.

Adaikan sang kepercayaan diri tercipta lebih dulu, mungkin mereka berempat sudah mampu bergerak mendapatkan sang cinta. Tapi sayang mereka terlalu berkecil hati hingga tanpa mereka sadari mereka telah membunuh sang kepercayaan diri yang mungkin saja sudah tercipta meski masih sebiji jagung...
 
Hingga akhirnya untuk sekian kalinya mereka kehilangan lagi cinta yang mereka inginkan. Dan mulai terpuruk lagi dalam penyesalan tanpa sadar untuk melakukan perubahan.

Ketahuilah Kepercayaan diri hadir ketika sang tubuh mencintai dirinya, ketika Sang hati bersyukur atas dirinya dan ketika Sang Pikiran Menghargai dirinya. Jadi kawan, Cintailah dirimu sendiri, percaya lah pada dirimu, dan hargai dirimu... dan saat itulah rasa kepercayaan diri akan muncul.

Saat kepercayaan diri hadir berserta keberanian dan tekat dari hati kau akan mampu mengatakan  apa yang kau inginkan dengan lantang. Karena sesungguhnya kau pantas untuk dicintai, kau pantas untuk bahagia....

Jadi PERCAYA DIRI lah, jangan ragu...................

Karena cinta tidak akan kau dapatkan tanpa kau berusaha meraihnya, menunjukannya.


Tangerang, 28 Oktober 2017
"Ketika Cinta Hadir Tanpa Kepercayaan Diri. "

  • view 37