Tulisan : Perjalanan Mempercayaimu

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Maret 2016
Tulisan : Perjalanan Mempercayaimu

Ada kekhawatiran ketika kita memutuskan meraih tangan seseorang. Menerima tawaran perjalanan bersamanya. Semua tidak akan selesai hanya karena kita telah menjadi pasangan kekasih yang berusaha saling percaya mempercayai.

Aku memang perempuan seperti itu. Tipe perempuan yang sulit di dekati, perempuan yang punya pertahanan diri yang kuat, bahkan terhadap orang-orang sepertimu yang telah menunggu begitu lama. Aku minta maaf, karena masih menyukai kesendirianku yang sebenarnya tak begitu menyenangkan.

Ada saatnya aku ingin meraih tanganmu, melangkah bersama tanpa mengkhawatirkan apapun. Aku ingin menikmati perjalanan kita yang tak selalu menyenangkan.

Hari itu dengan segala pertimbangan dan kekhawatiran yang tak juga reda, aku menerima tawaran perjalanan bersamamu. Aku tidak menyukai perubahan, tapi kau membuatku menjadi seseorang yang berbeda. Langkah kaki kita tak lagi bersuara. Aku tak bisa membaca bahagia dari setiap perasaan yang kita miliki. Aku hanya ingin mempercayai langkahku bersamamu.

Kita telah menjadi orang yang berbeda. Kau dan aku. Kau tahu bagaimana kita saat memulai langkah. Kau laki-laki yang tidak peka, pendiam dan selalu menularkan kebekuan. Aku perempuan yang emosional dan sering meledak-ledak. Aku pernah mengatakan padamu, barangkali jika kita bersama akan seperti erupsi gunung berapi, angin puting beliung, tsunami dan segala macam bencana karena perbedaan yang tak terjengkal. Kau yang tidak peka dan aku yang tidak peduli. Lalu kau tertawa mendengar perkataanku. Katamu kita bisa melangkah, jika aku mau percaya dan mempercayai. Kau tak pernah mengatakan hal-hal yang berlebihan untuk meyakinkanku, selalu seperti itu.

Kita adalah kita yang bisa berhari-hari tak bicara hanya karena tak ada yang berani memulai. Kita saling merindukan ditempat kita masing-masing. Hingga salah satu dari kita memulai pembicaraan yang terasa beku. Kau seperti patung dan aku mematung. Kita membiarkan menit-menit berlalu tanpa suara.

Ada saat dimana aku ingin melepaskan tanganmu, saat perjalanan kita mulai tak menyenangkan. Ada saat dimana kekhawatiranku membebani langkah kita. Aku lebih banyak kesal, meski kau lebih menunjukan diam saat kau tidak menyukai sesuatu. Aku mengatakan hal-hal yang tidak kusukai darimu, dan kau tetap meredam badai yang barangkali kuciptakan.

  • view 188