Tulisan : Bagaimana Setelah Kita Menikah Nanti?

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Februari 2016
Tulisan : Bagaimana Setelah Kita Menikah Nanti?

?

Disuatu malam kau pernah bertanya padaku. Kau bertanya padaku, bagaimana kita setelah menikah. Aku menyadari ada kekhawatiran di wajahmu yang berusaha kau sembunyikan. Aku pun sama khawatirnya denganmu.

Kita mulai membicarakan segala kekurangan yang ada pada diri kita.

"Kau tahu kan, aku ini bukan laki-laki yang menyenangkan, kau bahkan sering kesal karena aku tak bisa memulai pembicaraan kita, aku sering lebih banyak diam. Entahlah, aku khawatir tak bisa membahagiakanmu nanti.."Katamu menjelaskan

Aku tersenyum memandang kearah yang lain.
"Barangkali begitu. Aku tidak menyukai diammu yang sering kali menularkan kebekuan. Kau seringkali tak bisa aku ajak bicara, dan membiarkan kesalahpahaman kita berlalu. Menyebalkan bukan. Tapi kau tak mengeluhkan emosionalku yang seringkali tak dapat kukendalikan, aku yang terkadang terlalu serius dan tak sabaran, Dan kau tahu betul jika aku marah padamu, aku bisa mendiamimu berhari-hari. Aku khawatir nanti akan lebih sering menyakitimu dengan kekanakanku."

Aku menyuguhimu secangkir teh hangat, dan kau tersenyum simpul menunjukan sedikit kelegaanmu. Entah karena secangkir teh atau jawabanku akan segala pertanyaan tentang kekhawatiranmu.

Barangkali kita adalah pasangan paling tidak sempurna. Saat aku berfikir kita benar-benar seperti dua sisi mata uang yang begitu berbeda. Selera kita pun berbeda.

Suatu hari kita pernah membicarakan tentang makanan yang paling kita sukai. Kau menjelaskan jika kau sangat menyukai semua jenis ikan, dan aku tertawa kecil. Kau bertanya kenapa aku tertawa, aku menjelaskan padamu jika aku sama sekali tidak menyukai ikan, dan kau tersenyum kecil. "Aku suka kentang rebus" kataku. "Aku suka ikan" katamu. Lalu tawa kita terdengar lebih merdu dari suara angin malam itu.

-------

Jika aku menikah denganmu, barangkali tak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Bahkan kau tau betul aku tak bisa selalu memberimu makanan yang bisa kau santap. Aku tak pandai memasak, sebagai perempuan aku tidak pintar mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kau pernah mengatakan jika aku bisa belajar dan kau akan sabar menungguku hingga aku jadi lebih pandai. Tak apa jika ikan yang kumasak terlalu asin, atau berubah pekat? kau hanya mengatakan kau akan memakan setiap yang ku masakan untukmu. Setidaknya perkataanmu cukup meluruhkan segala kekhawatiranku tentang kita.

Kita sama sekali tak berbeda dari pasangan lain yang juga memiliki kekhawatiran. Kita khawatir tak bisa saling membahagiakan. Kau tahu, seperti pertemanan kita yang tak selalu menyenangkan, sesekali kita akan berbeda pendapat, bertengkar, saling diam, dan tak bisa selalu bisa saling memahami. Setelah menikah pun akan tetap begitu, hanya kita akan lebih bersabar dan akan lebih sering mengalah.

Kau tahu ada orang-orang yang saling jatuh cinta namun tidak ditakdirkan bersama, dan ada orang-orang yang bersama namun tak saling jatuh cinta. Bagaimana menurutmu? Kita adalah diantara keduanya. Kita tak pernah terlalu banyak berbicara tentang perasaan, karena aku lebih suka membicarakan tujuan. Bagaimana cinta itu kita bangun setelah bersama, setelah melewati perjalanan yang tak menyenangkan.

Karena bagiku yakinmu lebih berharga dibandingkan hal-hal lainnya. Kau tak pernah berubah, meski berkali-kali aku meragukanmu, berkali-kali aku meminta waktu untuk memikirkan segalanya. Semua hal yang ingin aku lakukan sendiri, dan kau selalu menunggu ditempatmu, tetap diam menunggu. Aku tahu tak mudah mencintai perempuan sepertiku.

Kita akan tinggal di rumah sederhana yang telah kau siapkan. Aku yang akan mengurus sisanya. Aku akan membuat taman kecil di halaman rumah kita yang tak luas. Aku sangat menyukai bunga yang diam-diam mekar dan rumput-rumput yang basah dipagi hari. Aku suka melihat hujan turun dari balik jendela kaca. Kita akan menikmati secangkir teh hangat dikala hujan, secangkir untukmu dan secangkir untukku. Kita akan bercerita tentang apa yang kita lakukan dari pagi hingga petang.

Sepanjang waktu kita akan sibuk bekerja, kau dengan pekerjaanmu dan aku dengan pekerjaanku. Sesekali aku akan datang berkunjung ketempat kerjamu, menyapa rekan-rekanmu, dan membawakanmu makanan yang akan kita nikmati bersama. Rekan-rekanmu akan menggoda kita, dan kau tersipu sambil merekatkan genggaman tanganmu. Pipiku mulai merona, dan senyum dibibirku terus mengembang. Begitupun denganmu, kau akan menungguku pulang, menunggu menyelesaikan pekerjaan.

Itulah bagaimana kita setelah menikah. Kita tak perlu khawatir tidak dapat saling membahagiakan. Aku telah bahagia karena dipertemukan denganmu dengan segala kita yang berbeda. Karena Tuhan memilihkanmu untukku.

?

?

Sutihat Rahayu Suadh

15 Februari 2016

  • view 276