Ruth, Kenangan Tak Pernah Menua

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2017
Ruth, Kenangan Tak Pernah Menua

"Terluka dan memaafkan adalah bagian dari cinta". Aku termenung mendengar kata-katanya. Katanya, cinta yang tulus adalah cinta yang memaafkan. Benarkah?

Aku tidak bisa menghentikan pikiran-pikiranku sendiri. Aku merapikan buku-buku, dan berhenti pada satu buku bersampul cokelat tua, dan sudah usang karena terlalu lama kusimpan. Aku membacanya kembali, halaman peer halaman.
Aku termenung dimeja kerja. Diam begitu lama dengan wajah kutundukan. Sesekali aku melihat langit-langit kamar yang tampak gading. "Kau tahu, yang tidak pernah menua adalah kenangan". Suatu hari kau mengatakannya saat kita berjalan di pertokoan setelah aku pulang les. Aku tersenyum, tidak menjawab. Hari ini setelah bertahun-tahun berlalu, setelah kita telah menjadi kenangan yang berdebu, aku mulai memahami perkataanmu. Kau benar, kenangan tidak pernah menua, begitupun perasaan-perasaan didalamnya.

Usiaku sekarang Dua puluh delapan tahun. Dan kau Tiga puluh tahun. Saat membuka kardus yang bertahun-tahun rekat dengan lakban disetiap sudutnya. Aku menemukan banyak kenangan disana. Semua hal yang pernah kulupakan dan menua dalam kotak kardus yang tak cukup besar. Aku membiarkannya tetap ditempat yang gelap.

Dulu sekali, sebelum aku merasa ada yang berbeda dari sikapmu. Dan untuk pertama kalinya aku begitu terluka karena pengabaian seseorang. "Kau tahu, yang membunuh perasaan itu bukan jarak tapi pengabaian". Aku membencimu bukan karena perempuan yang bersamamu saat itu, tapi kau seperti sengaja melakukannya dan menjadi begitu menyebalkan.

Dan suatu hari, saat kita bertemu lagi. Saling tersenyum, dan duduk dimeja yang sama dengan beragam jenis kopi dari segala penjuru. Harum dan nikmat. Malam itu, kita lebih banyak diam. Entah kau dan aku, tidak ada yang ingin kita bicarakan. Entah kau dan aku, lebih memilih untuk sunyi.

Pertemuan kedua... masih begitu sunyi.
Pertemuan ketika.... tak ada kata-kata.

Hingga pertemuan keempat. Hari itu, aku menunggumu direstoran cepat saji. Kau datang dua puluh menit kemudian. Kau tersenyum, dan bergegas ke meja dimana aku sedang duduk menikmati minuman yang kupesan.
"Sudah lama? Maaf saya terlambat."katamu
"Dua puluh menit."jawabku
Kau membawa kardus yang kau letakan di bawah meja. Kemudian kau memberikan kardus itu kepadaku. Aku masih mengingat benda-benda yang ada disana, karena aku yang memberikannya padamu dulu.

Aku mengambil sebuah foto dalam bingkai segiempat berwarna hitam pekat. Aku termenung beberapa menit, memandangi foto berseragam putih abu-abu. Lalu untuk satu dua butir air mata jatuh. Aku mengusapnya dengan punggung tanganku.
"Kenangan tidak pernah menua, Ruth, tidak juga kita."katamu memandang ke arah yang lain
"Kau benar."jawabku datar
"Aku minta maaf."katamu lirih

Aku diam dan lebih diam dari biasanya.

"Aku tidak pernah mencintai perempuan lain. Dan kau membenciku karena itu."lanjutnya
"Bukan itu. Bukan karena perempuan itu."
"Lalu?"Aku tidak mengerti."
"Kau harus memikirkannya baik-baik."

Kau diam, seperti sedang memutar memorimu ke masalalu.

"Aku minta maaf soal Ayahmu, aku tahu dari Giyar."sesalmu


---
Aku tahu perasaan manusia selalu bergerak dan berubah. Bulan-bulan itu, hari-hari yang berat bagiku. Bumi yang sudah semester enam dan kuliah di kota lain, sedang aku masih semester Empat. Jarak itu tak pernah merubah apapun. Tak juga perasaanku padanya.

Hingga suatu hari,  berulang kali aku menelfon bumi, tapi tak ada jawaban. Aku menangis di lorong rumah sakit, bersama jenazah Ayah yang dibawa oleh suster. Aku duduk dilantai menatap langit-langit dilorong itu, tidak ada siapapun kecuali diriku dan sunyi. Aku membiarkan air mata dipipiku luruh, menghabiskan sisa kesedihannya. Aku merasa diriku lenyap. Suara sirine ambulance mengantarkan Ayah pulang.

Hari itu aku datang ke kota dimana bumi ada. Dengan perasaan terluka, aku datang untuk mengakhiri jarak dan juga hubunganku dengannya. Aku menunggu ditempat tinggalnya, dan dua puluh menit kemudian dia datang bersama seorang perempuan. Aku tahu perempuan itu Dewi Ayu, teman bumi waktu SMA. Bumi melihatku, dan seperti bingung. Dia menghampiriku bersama Dewi Ayu.
"Ruth."
"Aku datang bukan untuk melihat kalian."
Bumi diam dan aku meninggalkan mereka. Kukira akhir dari sebuah perasaan adalah saat tak ada lagi keinginan untuk mempertahankan.

Dua minggu sebelumnya, bumi sering sekali mengabaikanku. Saat aku menelfonnya, dia bilang sedang banyak tugas dan dia harus tidur karena besok harus kekampus pagi-pagi. Hingga berhari-hari Bumi tak menghubungiku. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya, tapi hanya tertahan diujung telfon, karena jawabanku masih sama, aku selalu mengakhiri dengan kepura-puraan. Aku kuliah di salah satu universitas negeri di kotaku, dan Bumi berangkat ke Malang setelah setahun hubungan kami berjalan. Aku tidak masalah dengan jarak, tidak juga dengan pertemuan. Sehingga aku merasa segala sesuatu antara aku dan bumi adalah baik-baik saja.

Dua minggu sebelum kepergian Ayah, aku merasa bumi sedang berusaha melarikan diri dari perasaannya. Perasaannya berubah, dan dia takut melukaiku dengan kejujurannya. Pada satu titik aku merasa perasaan bumi menua dan hampir mati. Sedangkan aku tidak berubah.

Hari itu, hari kamis yang mendung. Aku berjalan di lorong rumah sakit sendiri bersama semua pikiranku yang sepenuhnya kosong. Aku tidak peduli lagi soal Bumi yang tidak mengangkat telfonnya. Tidak peduli soal Ibu yang tidak bisa datang menemaniku, karena terlalu sibuk dengan keluarga baru-nya. Hanya ada Giyar di sana yang datang dengan tergesa. Dan membawaku menemui Ayah di ruangan yang terasa begitu dingin.

"Kau sudah menghubungi bumi?"tanya giyar khawatir

"Jangan." kataku

Giyar tak banyak bertanya. Laki-laki itu hanya menemaniku berjalan. Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan yang lemas. Sementara Giyar membantu mengurus kepulangan Ayah setelahnya. Hari-hari berikutnya yang kurasa adalah begitu kosong.

Aku tahu Bumi sedang dekat dengan Dewi Ayu. Perempuan itu adalah teman-nya semasa SMA dan mereka kuliah ditempat yang sama. Aku tidak tahu bagaimana perasaan bumi pada perempuan itu. Cinta kah? atau Bumi hanya lelah akan hubungan yang dibangun dengan jarak. Aku tidak peduli. Entahlah bagiku perubahan dirinya lebih menyakitiku ketimbang aku harus menerima kenyataan dia mencintai perempuan lain.

----

Lagu Banda Neira, lukisan dan vas bunga. Bumi mnghapus satu dua butir air mata dengan punggung tangan di matanya.

"Bumi, Luka dan memaafkan adalah bagian dari cinta. Itu kalimat yang pernah kau katakan padaku. Saat Ayah pergi, saat aku sendiri setelahnya, ada begitu banyak luka didalam diriku."Kataku.

"Kau benar Ruth, saat itu aku tidak tahu jika jarak itu membuatku begitu ragu. Kau benar perasaanku saat itu berubah. Awalnya kupikir hubungan kita istimewa, kita bahkan bisa bertahan di tahun keempat. Baik kau dan aku tak pernah mengutarakan apa-apa, seakan semuanya berjalan baik, dan kita lebih sering menahan kekecewaan kita sendiri-sendiri."

Aku diam.

"Kudengar kau akan menikah dengan Giyar?"

Aku mengangguk.  "Aku harus pergi."

 

 

 

  • view 14