Tulisan : Audrey dan Kaelan ( Tentang Hujan )

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Tulisan : Audrey dan Kaelan ( Tentang Hujan )

?Mungkin bagimu, kamu hanya seseorang yang sepintas hadir dalam kehidupanku. Aku tak tahu sejak kapan mulai merasakan ini, sebelum atau setelah kau pergi dari kehidupanku. Kurasakan ada yang hilang, sesuatu yang berharga dalam diriku. Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, membuatku bahagia sekaligus sedih secara bersamaan.

Tak banyak cerita yang kutulis tentang dirimu, tentang hujan pertama kali kita bertemu. Tapi aku mengingat setiap detail perjalanan kita disepanjang jalan dimana daun-daun berguguran didepan sana. Disepanjang jalan itu kita mengukir sebuah cerita sederhana.?

Kehilangan adalah sebentuk kasih yang hilang diantara hamparan harapan yang kita gantungkan;

Cintaku sederhana, Seperti embun yang menggantung dipucuk dedaunan dan membuatnya tiada. Melepaskan bukan tentang kemauan, tapi tentang keikhlasan. Tuhan menurunkan hujan pada bumiku yang gersang , lalu membuat tanah-tanah gersang menjadi tanah basah yang wanginya semerbak.

***

Kaelan membaca lembar demi lembar buku itu. Sampai pada suatu halaman ada setangkai mawar yang sudah kering disana, diatasnya terdapat tulisan audrey ..? Hujan mengirimkan setangkai mawar bernama kaelan , entahlah dari negeri mana dia berasal tapi aku menyukainya seperti aku menyukai hujan bulan juni...?? Lalu pada halaman berikutnya audrey menulis apa yang ingin kaelan dengar.
?Hari itu aku kembali bertemu dengan hujan yang kurindukan, kaelan. Ditaman itu, dia datang masih dengan senyuman yang sama. Saat? itu aku tahu, alasan mengapa aku jatuh cinta pada lelaki itu. Dia memberiku alasan untuk hidup. Saat melihatnya ada kebahagiaan yang tak bisa kujelaskan. Ratusan hari aku merindukannya, hanya bulan juni ketika aku menyentuh dinginmu aku bisa merasakan kehadiran kaelan. Bisakah aku kembali bertemu dengannya?."



Dear kaelan,

Audrey nata harina,? aku ingin kau mengingat namaku. Suatu saat aku akan pergi. Aku jatuh cinta pada lelaki sederhana, kaelan. Aku hanya gadis yang menunggu kematiannya. Pertama kali kita bertemu, jatuh cinta, sampai akhirnya aku hanya mencintaimu dalam keterbatasanku. Ada sekeping kebahagiaan yang kau tawarkan dalam kesedihan yang kurasakan. Begitu sederhana, cinta ini bernaung dalam hatiku, dengan merindukanmu setiap hujan turun. Ratusan hari aku berdiam dalam sunyi, menunggu hujan datang dan membawa memoribiliamu menghangatkan setiap kebekuan dalam hatiku. Aku selalu meminta agar Tuhan menyampaikan surat yang kutitipkan pada hujan untukmu. ?Seandainya kau mencintaiku seperti aku yang mencintai hujan tentu kita akan bersama dalam naungan asmara yang agung. Tapi tidak kay, Tuhan mempertemukan kita hanya untuk saling mengingat. Ingatlah aku sebagai batas kenangan yang sudah harus pergi. Aku sesederhana waktu yang membawa kita pada pertautan yang tak pernah pada kebersamaan. Dengarkan ini kaelan, tentang hujan, tentang kita, tentang cerita yang sudah harus usai.

?

Hari itu kaelan menemui audrey kerumah sakit tempat audrey dirawat. Tepat didepan pintu kamar audrey, kay menghentikan langkahnya. Tubuhnya seakan beku, pikirannya kosong.

Kreekkkk.... Kaelan membuka pintu kamar audrey. Ia membawa setangkai mawar untuk drey. Disana terbaring seorang? gadis dengan segala alat medis yang mencengkram ditubuhnya. Kaelan?mendekat, perlahan, langkahnya membawanya ketempat? drey terbaring. Butiran bening jatuh dari kelopak mata kaelan. Audrey, gadis yang sangat ia rindukan ratusan hari terbaring disana.? Senyum getir mengembang dipangkal bibir lelaki itu. Kaelan duduk disamping audrey, menggenggam tangan gadis itu, erat.

? Drey, diluar hujan turun. Kini kau tidak perlu menunggu hujan turun untuk merindukanku, aku disini ...!!? desis kay menahan tangisnya

Audrey masih tak bergeming tetap berada dalam mimpi panjangnya.

****

Kaelan bergegas pergi, langkahnya menjauh menuju jalan disebrang sana. Diujung jalan itu, melintas sebuah mini bus dan... menabrak tubuh kaelan hingga terpental, darah keluar dari mulut dan hidungnya... Orang-orang disekitar berkerumun menutup tubuh kaelan. Dua puluh menit berlalu, kaelan sudah dibawa diruang ICU, keadaannya kritis.

Ditempat lain, Audrey mendengar berita tentang kaelan. Tubuhnya menggigil, wajahnya berubah pucat pasi, dan tatapannya kosong. Dalam langkah tertatih Audrey berjalan menuju ruang ICU, Arka hanya mengikuti gadis itu?dari belakang, tak mampu mengatakan sepatah kata padanya.

Tiga puluh menit berlalu, Ibunda dan adik kaelan datang kerumah sakit dengan tangis yang tertahan dikelopak mata mereka. Drey masih terlihat lemah dilantai depan pintu ICU, tatapannya kosong dan pikiran yang mengembara entah kemana. Arka terus berdiri disamping drey, masih tak berkata sepatah kata. Alya, adik kaelan mendekat kearah drey...menatap drey lekat-lekat dan duduk tepat disamping gadis itu dengan tangis yang membasahi kelopak matanya.

***

Rintik hujan masih terdengar merdu menyelinap ditelinga kaelan. Matanya perlahan terbuka. Kaelan tersadar dari mimpi panjangnya setelah mengalami koma beberapa bulan. Lelaki itu tak mampu mengingat apapun?dari ingatannya. Tentang audrey, tentang hujan, tentang cerita yang belum usai ditulisnya. Kepalanya terasa sakit, mendesak hatinya yang juga terasa mati seketika. Ibunda dan alya mencoba mengingatkannnya pada memori-memori tentang dirinya, hidupnya, dan Audrey. Namun?semakin keras ia mengingat kepalanya terasa tercekat. Ibunda memahami keadaan kaelan, dokter pun meminta agar tidak memaksa kaelan untuk mengingat apapun karna itu akan memperburuk keadaannya.

Lelaki itu?berdiri disamping jendela kamarnya, perlahan ia membuka jendela kamar itu, dan melihat sekeliling rumah sakit. Kaelan mengulurkan tangannya keluarnya, merasakan gerimis yang menyentuh jemarinya. Ia memejamkankan matanya, tentang hujan ada yang begitu ia rindukan, tentang hujan bulan juni ada sesuatu yang seakan mendesak dalam ingatannya, memoribilia yang telah hilang namun tak pernah pergi dan?terus saja mengalirkan sebuah nama ?Audrey?. Kaelan?tak bisa mengingat apapun tentangnya, hanya memori-memori pada?sebuah tempat seperti taman, tentang tawa seorang gadis, tentang mawarliar, dan?ingatan itu tak pernah utuh. Kaelan memukul-mukul kepalanya, ada sesuatu yang harus segera ia ingat, ada seseorang yang menunggunya, ada janji-janji yang harus ia tepati pada seorang gadis yang menunggu kematiannya.

Lelaki itu berjalan keluar, setelah turun kelantai bawah ia terhenti pada sebuah ruang kecil diujung kanan yang tepat dibelakangnya adalah taman rumah sakit yang indah. ?207?, Kaelan?mendekat keruangan itu, ada sesuatu yang seakan membawanya ketempat itu. Perlahan ia membuka pintu kamar yang terasa hening, tidak ada satu orang pun disana. Hanya ada seorang gadis yang terbaring, begitu tenang dengan segala alat medis yang mencengkram tubuhnya. Selang yang tertanam di mulut dan hidungnya. Kaelan perlahan mendekat?padanya?perasaan yang begitu sakit ia rasakan. Air matanya jatuh seketika melihat gadis itu terbaring, seseorang?yang selalu hadir dalam ingatannya. Air matanya terus mengalir, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mencengkram, sesak.

?Audrey?, nama itu terdengar begitu lirih keluar dari mulut Kaelan. Kaelan tak bergeming menatap drey dalam tatapan kesedihan yang dalam, tangannya mengepal keras dan ia terjatuh ke lantai tepat didepan drey terbaring. Lelaki?itu tergugu menahan sakit yang begitu dalam, memoribilia tentang gadis itu menguap satu-satu di kotak memorinya, kaelan mulai mengingat tentang Audrey, mengingat semua hal yang pernah hilang. Apa yang ada dalam mimpinya, mengapa ia masih tak membuka matanya. Kaelan menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia?takut drey mendengarnya menangis. Kaelan terbangun dan berjalan menuju vas bunga kecil dengan beberapa tangkai mawar yang telah mengering, hanya satu tangkai mawar yang masih berwarna merah meskipun telah layu. Setiap tangkai mawar kering yang menghiasi vas itu, adalah kaelan. Dia yang memberikannya setiap kali mereka bertemu, gadis itu selalu?menyimpannya.

Ada buku kecil berwarna cokelat tua, disamping vas itu. " Catatan Audrey?. Lelaki itu?kembali membukannya dan membaca setiap lembar demi lembar yang tertulis dikertas gading itu.

Halaman pertama,

Tuhan, aku tulis sebuah keinginan dalam hati seorang gadis yang tak mampu berbicara padamu dengan tawa yang terdengar merdu. Kesedihan itu tak mampu kusembunyikan, tawa itu juga tak bisa ku berikan pada hujan bulan juni yang selalu kurindukan, kaelan. Dia datang, hujan bulan juni setelah dua tahun aku menunggunya dalam rindu yang tak pernah dalam pertautan. Tuhan, benarkah waktuku tidak lama lagi, itu yang mereka katakan. Saat bersama kaelan, aku mulai takut pada kematianku. Aku bahagia bersamanya, melewati setiap detik dari waktu yang kumiliki untuk saling menggenggam dan menguatkan. Aku tak bisa mengatakan padanya jika aku akan pergi, rasanya begitu menyakitkan.

?

Halaman kedua,

Hari yang tak mungkin bisa terulang. Taman itu tak pernah seindah surga Tuhan. Hujan bulan juni pun masih seperti tahun-tahun sebelumnya tapi ada yang berbeda saat ini. Kaelan ada bersamaku ditempat yang sama. Kami berjalan beriringan menyusuri jalan tapak kita pernah melangkah, menguapkan memoribilia yang tersimpan sangat lama dalam kotak memoriku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku bisa merasakan betapa berharganya setiap detik yang kulalui untuk menantinya datang. Tuhan, hujan bulan juni akan segera berakhir begitupun aku yang harus segera menyelinap pergi dari kehidupannya. Aku ingin dia menerima sekeping hati yang menyimpan namanya dalam sebuah do?a yang kurapalkan. Agar kepergianku kelak tak menyisakan luka, tak menyisakan kenangan yang menyakitkan dihatinya.

Halaman ketiga

Dia Arka, lelaki yang selalu berjalan bersamaku dalam setiap detik waktu yang kumiliki. Dia diam-diam menitihkan tangis kesedihannya untukku. Setiap kali aku menatapnya hatiku terasa sakit Tuhan. Aku tak bisa mencintainya seperti aku mencintai kaelan. Tuhan, Arka selalu lebih dari hujan yang selalu kurindukan, dia menempati ruang dihatiku seperti embun yang selalu membawaku pada tawa yang terdengar lebih merdu dari suara kicauan burung. Dia menyeka setiap butiran bening yang mengiring kesedihanku. Arka akan selalu menjadi bagian dari diriku yang tak pernah hilang. Hanya harapan kecil yang kuselipkan disetiap rapalan doa, untuknya menemukan sekeping kebahagiaan dalam tawa yang kudengar kelak disurga.

?

Halaman keempat

Pada akhirnya aku tak bisa bertahan, ragaku sudah tak mampu menahan sakit ini. Terkadang aku ingin berhenti sejenak menghentikan waktu yang terus saja mengikis setiap detiknya. Merasa sakit ketika berita kepergianku sudah terdengar ditelinga malaikat-malaikat yang mengasihiku, rasa sakit mereka lebih dari ratusan pil pahit yang aku telan. Tuhan, bisakah aku pergi diam-diam tanpa lagu kematian. Seringkali aku takut saat aku menuju tanah surgaku, mereka akan membalut tubuh mereka dengan kain hitam dengan tangis sepanjang hujan turun setiap tahunnya. Aku takut menjadi luka yang tak bisa mereka hentikan. Aku takut menjadi kenangan yang tak bisa mereka ingat karena terlalu menyakitkan.

?

Halaman kelima

Apakah ini hujan bulan juni terkhirku ???

Pagi tadi aku berjalan dengan Arka. Di pantai dimana angin berhembus menghempas wajahku. Gerimis turun menemaniku dipantai itu, aku menunggunya dengan kekhawatiran yang menyelinap. Tubuhku terasa begitu sakit, aku terus menunggunya. Samar aku lihat wajah lelaki itu didepan sana. Dia datang dengan senyuman yang sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa kuberikan untuk lelaki itu, menemaninya sepanjang hari. Berjalan menyusuri pesisir, sesekali aku melihat wajah arka membuatku menitihkan setitik kesedihan yang selama ini kusimpan. Lelaki yang ikhlas menerimaku, sedang berjalan kearahku dengan kebhagiaan yang terlihat di wajahnya sekalipun aku tahu dalam senyuman yang selalu dia berikan untukku ada kekhawatiran disimpannya dalam-dalam. Untuk Arka akan kutitpkan pada Tuhan surat kecil yang kelak akan dia baca setelah aku tak disampingnya.


Kaelan berhenti membacanya sejenak, kemudian menutup diary itu. Matanya basah, rasanya terlalu menyakitkan. Kaelan menutup mulutnya sambil mengelus pipi Audrey, menggenggam tangannya erat. Gadis itu masih terbaring, wajahnya masih terlihat begitu tenang. Kaelan menatapnya lekat-lekat, hanya menatap audrey tanpa sepatah kata, tanpa harapan yang pernah berbinar-binar di matanya. Semuanya seakan habis terkikis.

?

Audrey dan Kaelan (Tentang Hujan)

Sutihat Rahayu Suadh, 2013

  • view 302

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Seperti seandainya senja dan fajar yang datang silih berganti. Saling mengisi kekosongan, saling menguatkan dan saling berperan serta menunggu giliran. Maka dalam putaran waktu sekalipun, benih cinta diantara mereka tumbuh walaupun terbentang oleh jarak dan waktu yang memisahkannya. Walau demikian, kekuatan cinta mereka terpatri di dalam peran mereka yang tidak pernah saling mengungguli.