Tulisan: Sutihat Rahayu Suadh

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 16 Agustus 2017
Tulisan: Sutihat Rahayu Suadh

"Kamu menikah saja ya, Nak."
Itu kalimat yang entah keberapa kali kudengar dari Ibu. Aku hanya tersenyum dan biasanya pura-pura tidak mendengar, atau buru-buru merapikan tas untuk segera bergegas mengajar. Aku bukan tidak tahu hal itu akan menyakiti ibu, barangkali aku memang durhaka bu karena belum bisa memenuhi permintaanmu yang satu itu. Aku juga mengerti, Ibu hanya ingin melihatku hidup bahagia dan tidak melulu memikirkan keluarga ini. Atau memikirkan hal lainnya.
.
.
Sejak sakit ibu lebih banyak murung, sesekali kulihat dia tersenyum tapi dari matanya kulihat pikirannya begitu kosong. Awal tahun 2014, saat itu aku buru-buru pulang karena Ibu harus dibawa kerumah sakit. Paginya aku mengantar ibu ke klinik dan semuanya masih baik-baik saja, kecuali tensi darah Ibu yang naik menjadi 170/110. Hari itu aku lebih banyak diam. "Stroke Homoragik Subarachnoid", itulah yang dokter katakan. Yang aku tahu sehari setelahnya ibu tak bisa bicara dan sebagian tubuhnya tak berfungsi. Dan saat itu Ibu bahkan tak bisa mengingatku. Aku tidak menangis, sekalipun kesedihan seperti perlahan-lahan mulai mencekik-ku. Barangkali aku memang menuruni sifat Ayah, yang tidak pernah menunjukan kesedihannya. Tahun berlalu, setelah semua hal yang tak bisa kutulis semua disini. Keadaan Ibu mulai membaik, setelah semua hal yang hampir membuatku putus asa. Terlebih saat itu, Bahkan Ibu tak memiliki keinginan untuk Hidup. Yang ibu lakukan hanya melihat segala sesuatu dari balik jendela kaca, lalu sebutir dua butir air mata lekat di pipi. Kalau Ibu mau tahu, aku selalu benci karena tak bisa melakukan apa-apa bahkan untuk menangis saja aku tidak bisa. Dan semuanya sudah berlalu, dan terimakasih karena Ibu masih tetap bersamaku sekarang.
.
.
Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa sulit sekali bagiku untuk mencintai seseorang.
Laki-laki yang Ibu dan Ayah pilihkan juga tidak kurang dalam hal apapun. Namanya Are, dia anak dari Kakak sahabat Ayah, Bapak Sabihis. Tinggal Ogan Lima, lampung Utara dan sekarang bekerja di bank swasta di Bandar Lampung. Ayah memintaku mengenalnya, meski awalnya aku menolak karena sudah pasti aku mengerti maksudnya "Perjodohan" tapi untuk menghormati keinginan Ayah, aku menerima Are untuk lebih mengenalnya.

Sebulan lalu Are dan keluarganya datang kerumah, dan aku berkenalan dengannya dengan orang tua Are juga. Mereka ramah dan terlihat begitu sopan. Yang bisa kutebak mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. Dari cerita yang kudengar dari Ayah juga begitu. Saat itu aku melihat Ibu banyak tersenyum, terlihat begitu bahagia. Are, laki-laki yang Ayah bicarakan padaku selama ini aku bertemu dengannya malam itu. Senyum kami bertemu malam itu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Are.

Aku masih terlalu suka dengan kesendirianku. Sejujurnya Aku suka dengan Are, dia pintar, sopan, dan wajahnya bisa kubilang sangat menarik.  Aku tidak yakin bisa mencintai Are, terlebih aku harus segera menikah dengannya. Aku tahu hubunganku dengan Are pada akgirnya akan bermuara kesana, dan aku benar-benar belum bisa.

----

Aku,

Saat makan di restoran cepat saji, dimana ada banyak orang ber haha-hihi, aku tidak menikmati apa-apa, kecuali makanan yang tak begitu cocok dengan lidahku. Saat aku jalan dengan teman-temanku, aku juga tidak begitu senang kecuali hanya menghargai pertemanan itu sendiri. Saat aku bersama orang yang kusukai, aku juga tidak merasa bahagia kecuali perasaan yang kubuat seperti tampak bahagia hanya untuk tidak melukai perasaannya. Ada banyak hal yang tidak bisa kuutarakan.

Aku lebih suka bicara dengan lilin merah besar dikamarku. Dan lebih senang bermain dengan si Bleki kucingku yang selalu tampak sedih. Aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan menulis dongeng yang sesudahnya kubaca sendiri. Aku juga suka mendengar suara printer yang sudah sangat tua, atau benda-benda kuno dikamarku yang kata ibu lebih layak untuk dimuseumkan.


Ibu tahu apa yang paling kusukai. Adalah stasiun kereta api. Adalah buku-buku di pasar loak. Dan jalan-jalan sendirian. Saat bersama seseorang, aku merasa tidak begitu nyaman. Aku suka duduk di stasiun, menunggu kedatangan kereta. Mendengar suara angin, dan jika hujan akan membuat diriku lebih dingin.

---

Setahun lalu, ada laki-laki yang kusukai. Namanya Ego, dia laki-laki yang baik, pendiam, dan selalu menyimpan perasaannya sendiri. Aku mengenalnya sejak tahun pertama di SMA. Waktu aku kelas sepuluh, ego kelas duabelas. Dan setelah ego lulus aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tidak tahu, kenapa Tuhan menghadiahiku pertemuan dengannya kembali. Laki-laki yang katanya sudah menyukaiku sejak bertahun-tahun lalu. Aku tidak tahu, jika ada orang yang bisa bertahan mencintai sekian lama. Kukira perasaan itu akan menua, sama halnya dengan kenangan. Mereka akan hilang, jika itu tak cukup berharga untuk diingat. 

Malam itu aku bertemu dengan Ego di restoran cepat saji. Malam yang tak cukup ramah, karena hujan turun cukup deras. Atau bagi orang-orang yang sedang kasmaran, hujan adalah romantisme. Aku duduk di kursi dekat jendela kaca dan sebuah lukisan besar. Dan ego tepat dihadapanku, tersenyum dan tak banyak bicara.

"Sudah beralam lama tidak bertemu?"tanyanya

"Bertahun-tahun, tidak kuhitung."jawabku

 

  • view 34