Tulisan: Bunda (Untuk Bunda Tersayang)

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 Februari 2016
Tulisan: Bunda (Untuk Bunda Tersayang)

?

Aku tak habis-habisnya menyesal. Aku melihat perempuan itu tak berdaya, air matanya jatuh begitu saja. Beberapa orang mendorongnya masuk keruang IGD. Matanya samar-samar melihat namun sepertinya ia tak sadarkan diri. Laki-laki sederhana yang wajahnya kulihat begitu kusut, menitihkan air matanya. Aku tetap diam, menahan seluruh rasa sakit.

Laki-laki yang kupanggil Ayah, yang tak pernah kulihat menangis sekalipun, laki-laki yang tetap berusaha untuk tidak luruh, meski hatinya kini keruh.

Aku meninggalkan perempuan itu bersama Ayah. Aku pergi ke mushola rumah sakit, tertegun disana bersama setumpuk perasaan yang tak bisa ku jelaskan. Aku ingin berbicara dengan Tuhan, memohon dengan segala keterbatasanku sebagai manusia; karena dihadapanNya aku bisa melepaskan topengku. Aku tak habis-habisnya menangis memohon pengampunan. Dan menguatkan Perempuan yang kupanggil Bunda. Perempuan yang kini tengah berada dalam mimpinya, menanggalkan semua rasa sakit.

Bunda terserang stroke, tubuhnya tak lagi dapat bergerak. Suaranya hilang bersama angin. Dia?mengalami kerusakan otak, dan kehilangan sebagian memorinya. Itulah yang dokter katakan padaku dan Ayah. Kata-kata yang terdengar lirih namun seperti suara petir.

Aku duduk dengan pikiran yang tak lagi utuh. Aku hanya memandang tubuh perempuan yang memberiku kehidupan. Perempuan yang baik, Istri yang baik, dan Bunda yang penyayang. Ayah, terus diam sembari mengepal-ngepal tangannya yang berkeringat. Kelopak matanya basah, dan seribu kesedihan mendekap wajahnya.

***

Aku melihat perempuan itu memandang langit dengan wajah yang sama sekali berbeda. Aku mendorong kursi roda yang dinaikinya keluar. Aku membelai rambutnya yang tipis, matanya seakan menyiratkan kesedihan. Aku ingin disisi perempuan itu, mendengar apapun yang ingin dia katakan.

?Bunda lihat, langit itu luaskan..??

?Tuhan sedang melihat kita..?, bisikku

?Ah..?, sahutnya dengan senyum mengembang

?La-ngit?, Ujar bunda mengikuti perkataanku

Bunda kembali seperti anak kecil. Karena penyakitnya membuatnya kehilangan fungsi motorik. Bunda selalu mengulang kata-kata yang sama. Dia terus mengingat namaku dan mengulangnya berulang kali, meski esok Bunda akan melupakannya begitu saja.

Aku terus meyakinkan Bunda untuk tidak menyerah. Manusia berawal tidak memiliki apapun, dan berakhir dengan kehilangan semuanya. Tuhan menyayangi Bunda, itulah yang selalu kubisikan ditelinganya, dan Bunda selalu tersenyum sambil mengelus kepalaku.

Ada saat-saat dimana aku merasa sakit. Ada saat dimana aku tak bisa mengatakan apapun, diam, adalah satu-satunya pilihan. Aku jarang sekali menangis, sepedih apapun perjalananku menuju pulang. Karena seberat apapun perjalanan ini, aku masih memiliki Tuhan. Aku menahan segalanya agar tidak luruh, seperti Ayah yang sabar merawat kekasihnya.?

***

Aku melihat telapak kaki Bunda, penuh luka disana.

Mataku menatap tajam kearah perempuan yang sedang duduk dengan pikiran menerawang. Matanya tampak kosong, dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Entah apa yang sedang perempuan itu pikirkan. Aku membaca kesedihan dimatanya, seakan tubuhnya ditindih ribuan ton beban yang tak sanggup dipikulnya sendiri. Sudah dua bulan terakhir perempuan itu menjadi lebih pendiam, tapi tak ada yang bisa dia katakan, kecuali kelopak mata yang bercerita tentang beban hati yang semrawut seperti benang kusut. Perasaanku membeku sudah sejak lama, hanya topeng yang kukenakan melekat lebih pekat.?Langkah kakiku berat, terasa kerikil-kerikill menancap dan melukai kakiku. Aku mendekat kearahnya, dan duduk disamping perempuan itu. Kami memandang langit yang sama.

?

February, 6, 2016

Sutihat Rahayu Suadh

?

  • view 226