Tulisan: ARAY DAN ALICE “MAWAR LIAR”

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Tulisan: ARAY DAN ALICE “MAWAR LIAR”

?

Apa yang terjadi ketika perasaan yang diam-diam menyelinap datang. Waktu tak pernah merubah apapun bagi aray, tak kecuali Alice. Bagi lelaki itu cinta bukan prihal mengatakan apa yang ada didalam hati atau membuatnya kembali mengingat lima tahun lalu. Perpisahan tak akan merubah apapun, kecuali hanya segelintir kenangan yang harus tersimpan didalam kotak memori, tapi suatu hari ia akan menguap satu-satu dan mengingatkan kita pada kenangan silam, yang pasti akan datang memenuhi ruang dalam hati kita.

?Kau masih disini ray? ?? suara dari balik pintu terdengar tak asing

?Kau pergi saja tan, aku sedang tak enak badan?? tukas aray

Tristan, sahabat Aray yang selalu menjadi pendengarnya, tentang semua yang rumit, tentang segala hal sulit yang aray lewati begitupun tentang Alice wanita yang tak bisa aray lupakan.

? Kau tidak apa-apa, ada apa ray, tak biasanya kau lesu begini? Ada yang mengganggu pikiranmu sekarang ?? tanya tristan

Huuuh..?Aray mendesah

?Hey, kau kenapa ??

?Alice..?

?Kenapa..??

?Dia kembali tan, dan semuanya berubah..? desis aray

?kau sudah bertemu dengannya ? Berubah bagaimana ray ??

?He-em, aku tidak sengaja bertemu dengannya ditaman dulu, dan kemarin ketemu diacara reuni sekolah,,? jelasnya

?Lalu apa yang berubah ??

?Dia tumbuh menjadi wanita yang menawan tan, cantik dan memiliki kehidupan yang sempurna. ..?? aray tak melanjutkan bicaranya kemudian terdiam beberapa saat

? Lalu.??

?Dia sudah memiliki tunangan..?

?Terus..??

?Ah,? kau ini. Aku serius tan?!!?

Hahah?. Aku tau ray, jadi gimana ? kau masih mencintai Alice ??

Aish, sudahlah kau keluar saja, aku mau istirahat..?

Aray menyeret tristan keluar dari kamarnya, dan kembali menutup pintu. Tristan hanya tertawa, dan berteriak dari balik pintu ..?Besok, aku datang kemari ray, aku pulang dulu..??.

Suara menjadi hening, malam pun hampir habis, namun matanya enggan terpejam. Perasaannya?gelisah dan mulai?menjadi beku. Memori itu kembali menguap, tentang perjalanan lima tahun lalu.

?Alice?sudah memiliki?tunangan, lalu apa gunanya perasaan itu seberapa pun besarnya karena tak ada ruang untuk bersama.?Gumamnya

Tatapan Alice, wanita?itu, selalu membuat hatinya terasa sesak dan otaknya seakan mati seketika. Bagi Aray bagaimanapun ia hidup tak peduli betapa memalukannya, tak penting baginya, namun?semenjak Alice muncul dalam kehidupannya, ia tahu ada jarak yang tak bisa ia tepiskan sekalipun ia ingin, ada dinding yang tak bisa ia hancurkan seberapa keraspun ia mencoba. Cinta, apakah itu masih tersisa dihati wanita yang tak pernah sedetikpun lari dari pikirannya, wanita yang menjadi alasannya bertahan dalam badai kehidupan yang kejam. Sekalipun ia?tak pernah berkata tentang cinta, kata?yang mungkin Alice tunggu sekian lama keluar dari bibirnya tapi sungguh hatinya tak pernah beranjak, terikat kuat ditempat yang bahkan ia tak tahu dimana. Rasanya seperti menelan pil pahit, tapi tidak ada cinta yang tak membahagiakan sekalipun ia bersembunyi ditempat yang paling sepi, ditempat yang tak pernah diketahui.

***

Langit cerah sore itu, Aray duduk dicaffe book dekat tempatnya mengajar, hanya berjarak kurang dari 200 meter. Lelaki itu duduk dipojokan tepat disamping jendela yang menghadapkannya pada? pemandangan yang membuat perasaannya menjadi lebih baik. Ia meneguk pelan espresso yang menemaninya sejak tadi, matanya menerawang kearah dimana angin menggerakan dahan-dahan pohon.

Kau disini?.??suara Alice memecahkan lamunan lelaki itu

Aray tersenyum dan menyiratkan untuk alice duduk bersamanya..

Apa yang sedang kau lihat ..? Lanjut Alice

Bukan apa-apa ??

Pohon itu, mawar liar, dan angin? Kau menikmatinya..??Gumam Alice

Aku selalu menikmatinya sendiri?

Aku juga, ditempat yang berbeda aku menikmati setiap yang kau sukai..? Desisny lagi. Kali ini kelopak mata gadis itu basah, dan tatapannya kosong seakan ada ingatan menyakitkan yang tengah menguap.

Aku selalu datang ketaman itu, dan? mengingatmu disana? ?Desis Aray

Kenangan akan selalu menjadi hal manis yang akan menguap sesekali atau? barangkali akan mengikat hatimu ditempat yang tak pernah kau ketahui. ..?

Maksudmu?.?

Alice hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan lelaki yang masih memandangnya dengan tatapan heran.?? ?Jangan menatapku seperti itu???

?Kau masih seperti dulu??

Kau? tidak berubah sama sekali???lanjut Alice sinis

?Aku tidak pernah berfikir bisa bertemu denganmu lagi, mungkin semuanya sudah hilang sejak kau pergi hari itu. Betapa hari itu aku ingin menahanmu, tapi kakiku seakan terikat. Untuk pertama kalinya aku menangisi kebodohanku, dan harus membayar mahal untuk itu. Menunggu ternyata bukan cara yang baik ketika kau menginginkan seseorang, mungkin aku bodoh ketika menggantungkan harapan pada waktu, suatu saat kita pasti bertemu dan hari itu aku akan mengatakan segala yang ingin aku katakan padamu?tapi sepertinya aku terlambat.?

Alice melirik kearah Aray, yang menatap kearah luar jendela, tak memandangnya.? Ribuan pertanyaan seakan menguap dalam benaknya. Apa sebenarnya yang ingin Aray katakan. Alice tidak ingin menarik kesimpulan yang salah dari apa yang baru saja dia dengar.? Tapi baru saja Aray? mengungkapkan perasaannya pada Alice.

?Aku sudah bertunangan?

?Ya, aku tahu?

?Kau tahu berapa lama aku menunggumu,? bahkan kau tak memberi kabar? Saat itu rasanya aku ingin berlari menemuimu, tapi? tidak ada alasan untukku kembali. Kau bahkan tak pernah menghubungiku sekalipun. Email yang kukirimkan tak pernah mendapati balasan?Kau tahu berapa lama aku menunggu, sekalipun kau tahu mungkin kau tak akan pernah datang, tapi harapan itu masih aku gantungkan dalam memoribilia tentangmu?

Aray membalik wajahnya, menatap Alice. ?Setelah kepergianmu, banyak yang terjadi dalam kehidupanku yang bahkan tak pernah aku bayangkan. Orang tuaku bercerai, dan aku tidak memiliki kehidupan yang baik. Aku tak mempunyai keberanian untuk menghubungimu. Segalanya berubah, aku menghabiskan waktu untuk bekerja paruh waktu sementara aku menyelesaikan kuliah. Aku menahan segalanya untuk tidak lebih?

Alice kembali memandang lelaki yang itu,

?Sejak awal, saat itu kita masih belum menyadari perasaan kita. Menunggu adalah satu-satunya cara yang kita tahu, tanpa bisa menahan kepergian atau melepaskan kenangan? Aku tidak tahu apapun tentangmu, itulah yang membuatku menyesal..

Keduanya saling menatap, kemudian melemparkan senyum yang terasa berat.

Kenyataannya tidak selalu berjalan seperti yang berkelebat dipikiranmu. Aray berjalan didepan, Alice mengikuti dibelakang. Langkah kaki mereka seirama, Aray terus menatap lurus kedepan sambil sesekali menikmati hempasan angin. Alice, yang tetap memandang Aray bersama daun-daun yang jatuh. Perlahan kelopak matanya basah, Alice menarik nafas panjang lalu melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti beberapa saat.

  • view 201