Afilioken: Ketika Kau memilih Perempuan Bernama Bulan

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 Mei 2017
Afilioken: Ketika Kau memilih Perempuan Bernama Bulan

Sudah berapa lama sejak kita saling mengenal, barangkali empat atau lima tahun. Sejak pertemuan pertama kita yang tidak berarti apa-apa. Kamu mempesona karena sesuatu yang ada dikepalamu. 

 

Waktu itu tahun 2012, john mengajakku pergi kerumah hadi, kawannya. Aku ingat itulah pertama kali kita bertemu. Sesampainya di rumah hadi, aku tidur, ketika yang lain sibuk menikmati aroma laut. Dan perempuan selain diriku meracik aroma makanan di dapur. 

 

Saat itu aku dekat dengan John, tapi aku menyukai laki-laki pendiam yang selalu ramah, hadi. Laki-laki itu selalu baik dan memperhatikanku, dia tahu kalau aku tidak seperti perempuan lain. Aku ingin berhenti menceritakan hadi, mungkin disaatnya aku lebih siap bercerita tentang bagaimana perasaanku sesungguhnya.

Kita bertemu tanpa saling menyapa, rasanya seperti pertemuan tanpa jejak. Aku tahu kau ada, tapi saat itu kau membawa perempuan bernama Rani, yang kutebak dia adalah kekasihmu, dan aku tak terlalu peduli.

Hingga entah dengan alasan apa, kita menjadi dekat. Kita sering berbicara melalui chatt atau diujung telfon. Membicarakan banyak hal. Kau laki-laki yang cerdas dan pemahamanmu cukup baik. 

 

Barangkali jika kau membaca ini, kau akan tahu bagaimana perasaanku. Tidak apa, karena tidak ada gunanya lagi aku menyimpan segala sesuatunya sekarang. Aku menyukaimu, dan itu membuatku ingin mendapat pengakuan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus memulainya, bercerita tentangmu seakan membuat luka-lukaku kembali dengan perasaan yang sama.

 

Dalam perjalananku, barangkali hal yang paling sulit kulakukan adalah mengutarakan. Ada banyak hal yang terasa sangat membebani tapi tak juga bisa aku singkirkan. Aku tidak pernah menjalin hubungan seperti relation yang selalu kuceritakan dalam tulisan-tulisanku. Sampai sekarang aku belum pernah punya perasaan yang sungguh-sungguh dan berkomitmen. Aku bahkan sulit dekat dengan orang lain, aku jadi banyak merasakan hal-hal yang tidak berguna.

 

Ada hal yang lain yang aku rasakan kepada seseorang, dia bernama Afilioken, dia adalah teman yang kukenal lewat John. Namanya kusamarkan, karena tidak ingin mengganggu privasinya. Dia orang yang paling dekat denganku waktu itu. Kita sering ngobrol dan diskusi tentang banyak hal. Mulai dari issue-issue yang sedang berkembang, buku-buku yang telah kami baca, dan permasalahan-permasalahan yang sedang kami hadapi. Dia serius dan membosankan, sama seperti aku. Dia seperti aku versi laki-lakinya, mungkin lebih baik.

 

Suatu hari dalam obrolan kami, afilioken bertanya bagaimana jika dia menyukaiku? aku tertawa dan bilang itu tidak mungkin. Kita teman dan jangan patahkan dengan perasaan-perasaan lebih dari itu. Dan obrolan kita lanjutkan dengan canggung, dan itulah hari dimana segalanya sudah tak menyenangkan. Setelah hari itu kita menyibukan diri kita masing-masing, aku merasakan jarak yang kita buat semakin jauh, hingga aku memutuskan untuk menghapus pertemanan kita, meredakan segala kekecewaanku.

 

Hari itu ada teman perempuanmu yang menghubungiku, namanya Anisa (kusamarkan) temanmu ditempat kau mengajar. Dia bercerita banyak tanpa kuminta. Dia mengatakan padaku tentang perasaannya kepadamu, yang menurutnya kau tahu tapi tidak peduli. Kata perempuan itu, kau menyukaiku, semua hal tentangku kau ceritakan padanya. Aku yang keras kepala, tulisan-tulisanku, dan semua hal yang kau sukai dariku. Aku tidak berkomentar apapun tentang hal itu, karena kutahu perempuan itu sedang menahan kesedihannya. Kalau boleh jujur, aku senang mendengar bahwa kau menyukaiku, karena kupikir hampir mustahil. Kau bisa menyukai siapa saja yang kau mau, dan aku yakin mereka akan senang hati menerimamu. Mereka yang lebih baik dariku.

 

Hingga setahun berlalu, kita kembali berkomunikasi. Aku sudah keluar dari organisasiku, dan hidupku mulai banyak berubah. Dan aku sadar kita juga telah banyak berubah, kau dan aku sedang berusaha saling mengenali. Kau memulai semester pertama magistermu, dan aku masih semester 6, banyak keterlambatan. Ada banyak hal yang harus kufikirkan selain perasaanku sendiri, meskipun aku banyak menyesal setelah kita berpisah tanpa kata ataupun alasan. Ada banyak hal yang terjadi dan tak ingin kubicarakan disini, bahkan perasaanku padamu yang tak pernah bisa kuutarakan sampai sekarang. Aku selalau menamakan kita teman baik, meskipun aku sesak dengan itu, aku ingin lebih dari sekedar teman baik tapi aku tidak tahu caranya.

 

Setahun lalu, kau mengatakan padaku bertemu dengan seseorang bernama bulan. Aku mendengarkan, dan kau kembali menceritakannya. Aku seperti bumi yang melihat matahari dan bulan akhirnya bertemu. Aku berbohong, dan mengatakan aku bertemu dengan biru, dan kami akan segera menikah. Biru tak sepenuhnya bohong, dia benar-benar ada tapi kami sudah berpisah. 

 

Biru laki-laki yang baik, meski jauh lebih pendiam dan tidak terlalu pintar. Dia bekerja di dinas kelautan provinsi, seperti yang kuceritakan, itu sungguh-sungguh. Ayah yang memintaku memberi biru kesempatan, dan aku fikir dia cukup layak menerima itu meski aku tak pernah memberinya jawaban. Kau tahu aku dan biru adalah teman dekat dulu, waktu aku masih berseragam putih biru. Waktu di kelas 10, kalian harus maklum karena waktu itu usiaku masih 16 tahun, sulit untuk bersikap bijaksana. Biru lulus tahun 2008 dan aku masih kelas 10 waktu itu, dan tidak pernah bertemu lagi setelahnya. Aku dan Biru bertemu lagi pada tahun 2015.

Aku melihat fotomu dengan bulan di media sosialmu. Aku kehabisan kata untuk mencerna apa yang sebenarnya membuatku merasa kecewa. Seharusnya aku ikut bahagia, tapi aku tidak bahagia. Aku tidak bisa berhenti membandingkan diriku dengannya, dan aku membencinya. Aku berhenti menghubungimu, sejak setahun lalu. Aku pernah membuat sebuah dongeng tentang “Patriciolli dan Afilioken : Pasukan Merah” dan dongeng itu tidak pernah selesai.  Aku tidak tahu bagaimana mengatasi diriku, aku tidak percaya diri. Aku seakan butuh waktu untuk mencerna kegagalan demi kegagalan. Aku dan John, aku dan Biru, dan aku dan AfilioKen. Kegagalan yang sebenarnya tak pernah aku mulai. 

 

Aku menyadari beberapa hal, bahwa selama ini aku tak pernah memperjuangkan apapun, tidak pernah mengusahakan apa yang aku inginkan. Aku selalu berjalan sendiri, menikmati imajinasiku sendiri. Hidup tanpa arah dan tak punya tujuan. Aku selalu bebas dan terikat pada kehendakku sendiri, seakan aku tak butuh orang-orang, seakan aku tak membutuhkan balasan atau harus membalas. 

 

 

  • view 40