Tulisan: Halaman Terakhir Dan Rindu

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Maret 2017
Tulisan: Halaman Terakhir Dan Rindu

Kau tahu sudah berapa lama kita saling diam? Kita tak pernah tau kabar dan tak pernah berusaha untuk mencari tahu.

Aku sudah berhenti peduli tentangmu. Kau hanya bagian dari waktu-waktu yang telah hilang seperti halnya musim yang berganti dan dilupakan. Atau seperti rasa lapar semalam.
Ada apa denganmu yang tiba-tiba datang? Ada apa denganmu yang tiba-tiba membicarakan masalalu yang tak sekalipun ingin ku dengar. Kau masih menyimpan potret kita setelah bertahun-tahun berlalu. Aku sudah lupa dan kau masih mengingatnya. Kau mengutarakan keinginanmu untuk bersama setelah aku tolak berkali-kali. Aku bahkan belum bisa memaafkanmu.

Aku tersenyum pahit mengingat tentang bagaimana pada akhirnya kita berpisah, tentang bagaimana aku duduk sendiri sebagai pesakitan, tentang bagaimana aku harus menelan ratusan pil pahit, terbaring, dan putus asa. 

Ada apa denganmu? Mengutarakan penyesalanmu dimasalalu. Barangkali kau sedang tersesat di sebuah labirin yang tak kunjung kau temui jalan keluarnya. Penyesalanmu seperti lendir-lendir pekat yang mengikat telapak kakimu sendiri.

Aku terdiam beberapa saat, sedang mencerna segala yang ingin ku katakan padamu. Kau memanggilku, dan segalanya kembali menjadi dingin. Kata-kata yang memutar di kepalaku, lenyap. Aku menatapmu dan tak berkata apa-apa, kecuali menyuruhmu pulang karena apapun yang kau katakan hanya sia-sia. Katamu, kau akan kembali datang besok dan besoknya lagi. Setiap hari.

Pikiranku mulai terganggu, kemarau di hatiku mulai meranggas. Seperti gerimis datang dan hujan turun. Wangi tanah-tanah basah mulai tercium. Perasaan itu kembali menjelma membenamkan segalanya. Aku seperti sedang bermimpi. Lagu-lagu yang di nyanyikan oleh sekumpulan anak kecil di bawah bukit. Kau menari bersama mereka dan melambaikan tanganmu, seperti isyarat perpisahan. Aku mendekat, tersenyum mematahkan segala kekhawatiranku. Aku datang kepadamu dengan perasaan ingin menerima, agar kita bisa menari bersama. Kemudian kau lenyap bagai asap. Aku tertegun dan ketakutan. Kemudian aku membuka mataku, kutatap langit-langit kamar yang pasi.

 

Ada apa denganmu? Hari ini, kudapati dirimu terbaring di ruangan yang pucat pasi. Aku datang, mendekat. Kau tak bicara apa-apa. Tubuhku gemetar dan tangisku tertahan sesak. Kau terbaring diiringi suara tangis orang-orang yang memintamu untuk bertahan. Aku duduk disampingmu, menatap wajahmu yang tak terlihat baik. Alat medis tertanam di wajahmu dan bagian tubuhmu yang lain. Aku tersenyum pahit.

Kini aku kembali datang, ini sudah minggu ke-8. Kau masih belum membuka matamu. Aku membawakan setangkai mawar yang ku beli ditoko bunga dekat rumah sakit. Aku kembali melihat wajahmu, penuh dengan ketiadaan. Kini duduk bersama dengan Ibundamu yang wajahnya terlihat tidak begfitu baik. Entah berapa banyak kesedihan diwajah itu. Dia memberikanku sebuah surat, dan buku bersampul cokelat tua kemudian memintaku membaca setiap lembarnya hingga halaman terakhir. Lalu Bunda meninggalkan kita diruangan ini.

Aku membuka halaman pertama, adalah fotomu dan fotoku yang berjejer dengan senyum malu-malu. Aku ingat foto itu di ambil satu minggu setelah perkenalan kita. Aku tersenyum mengingatnya. Lalu aku membuka halaman selanjutnya dan membaca yang kau tulis disana, begitu hingga aku selesai membaca setiap halaman. Lalu aku membaca secarik kertas yang tidak terlalu penuh dengan tulisan.

"Ada kesedihan di wajahnya, dan sebagian karena lelaki sepertiku." Kalimat itu menjadi pembuka.

"Tahun-tahun berganti, rasanya masih terasa begitu kosong. Aku terlalu pengecut untuk datang. Lima tahun lalu, kudengar dia tengah terbaring di rumah sakit. Aku datang hari itu, dia sedang tidak sehat, dia tertidur sepanjang hari. Seminggu kemudian aku kembali datang, dia masih terbaring belum membuka matanya. Tak ada yang bisa aku katakan, kecuali pergi."

Aku menggenggam kertas itu dengan pikiran yang sepenuhnya kosong.
"Suatu hari aku mendengarnya sadar. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya dari pagi hingga petang. Hingga bulan-bulan berlalu dan tahun berganti. Pada suatu hari, aku melihatnya setelah empat tahun. Dia lebih banyak tersenyum."

"Sepagi ini aku sudah merindukannya, semalam dia mengatakan untukku menyerah saja. Waktuku tidak mengizinkanku untuk menyerah manis. Aku selalu ragu masih ada esok, masih meragukan malam akan menepati janjinya, besok pasti pagi. Karena bisa saja besok adalah pekat."

Aku melipatnya kembali, menyelipkannya di buku hariannya. Aku tersenyum menatap wajah laki-laki itu. Dia tak bergerak meski aku memakinya sekarang. Aku tertegun cukup lama. Laki-laki itu menangis dengan wajahnya yang beku. Suasana menjadi begitu bising, ketika monitor yang digunakan sebagai pantauan detak jantung tiba-tiba berbunyi dan garis lurus kulihat. Dokter berusaha menyelamatkannya, aku berjalan keluar. Bunda menangis sejadi-jadinya ketika waktu kematiannya dia umumkan.

Aku berjalan keluar, hujan turun begitu deras. Aku tak mengatakan apapun padanya. Hanya berjalan dengan pikiran yang sepenuhnya kosong. Hari itu dia pergi, bersama hujan dan kesedihan.

----
Hari ini dua tahun setelah kepergiannya. Aku duduk di kedai kopi milik Reka. Aku memesan Chocolate Nutella dan latte cake. Kau selalu memesannya setiap kali datang, kudengar dari Reka sahabatmu. Reka duduk disampingku seperti biasanya. Lalu kami memutar lagu Banda Neira 'Rindu'.

"Dia selalu datang setiap kali tempat ini akan tutup, dia duduk disana (tempat dekat jendela), lalu memesan yang kau pesan saat ini."Gumam Reka

"Ada orang-orang yang tetap hidup dalam ingatan kita meski waktu berlalu menyembunyikannya."Desisku

"Dia tulus Ann, mencintaimu.

Aku melihat keluar jendela, hujan turun bersama langit yang mulai gelap. Aku menghabiskan Chocolate Nutella dan menyisakan latte cake kemudian pamit ke Reka. Laki-laki itu menawari untuk mengantarku pulang tapi lebih baik aku berjalan sendiri. Reka meminjamiku payung hitam miliknya dan mengantarku sampai di depan pintu. Aku menyusuri jalanan bersama hujan yang mulai membekukan tubuhku. Entahlah, aku masih ingin mengingatnya di sepanjang jalan pulang. Kesedihanku seperti senandung yang tak mampu bercerita

Sutihat Suadh
Selasa 7 Maret 2017

  • view 172