Tulisan: Bagaimana Setelah Kita Menikah Nanti (?)

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2016
Tulisan: Bagaimana Setelah Kita Menikah Nanti (?)

 

Disuatu malam kau pernah bertanya padaku. Kau bertanya padaku, bagaimana kita setelah menikah. Aku menyadari ada kekhawatiran di wajahmu yang berusaha kau sembunyikan. Aku pun sama khawatirnya denganmu.

Kita mulai membicarakan segala kekurangan yang ada pada diri kita.

"Kau tahu kan, aku ini bukan laki-laki yang menyenangkan, kau bahkan sering kesal karena aku tak bisa memulai pembicaraan kita, aku sering lebih banyak diam. Entahlah, aku khawatir tak bisa membahagiakanmu nanti.."Katamu menjelaskan

Aku tersenyum memandang kearah yang lain.

"Barangkali begitu. Aku tidak menyukai diammu yang sering kali menularkan kebekuan. Kau seringkali tak bisa aku ajak bicara, dan membiarkan kesalahpahaman kita berlalu. Menyebalkan bukan. Tapi kau tak mengeluhkan emosionalku yang seringkali tak dapat kukendalikan, aku yang terkadang terlalu serius dan tak sabaran."kataku meredam segala kekahawatiran

Aku menyuguhimu secangkir teh hangat, dan kau tersenyum simpul menunjukan sedikit kelegaanmu. Entah karena secangkir teh atau jawabanku akan segala pertanyaan tentang kekhawatiranmu.

Barangkali kita adalah pasangan paling tidak sempurna. Saat aku berfikir kita benar-benar seperti dua sisi mata uang yang begitu berbeda. Selera kita pun berbeda. Suatu hari kita pernah membicarakan tentang makanan yang paling kita sukai. Aku tertawa kecil. Kau bertanya kenapa aku tertawa, aku menjelaskan padamu jika selera makanan kita benar-benar berbeda. Begitupun hal-hal lain-nya.

-------
Suatu hari, sebelum bertemu denganmu, aku menjalani hari-hariku dari pagi hingga petang dengan rutinitas yang membosankan. Aku tidak tertarik dengan hal-hal lain kecuali buku-buku yang aku baca atau sekedar berdiam di kedai kopi yang tidak terlalu banyak pengunjung. Kau tahu kan aku tidak menyukai bising.

Sampai suatu hari, kita bertemu (lagi) setelah tahun-tahun berlalu. Entah, aku bahkan sudah tak begitu ingat wajahmu. Kita duduk malam itu, menikmati langit. Aku masih ingat ada pertandingan bola dan kau tak terlalu suka melewatkannya, sesekali kau gelisah melihat jam tanganmu. Aku tersenyum begitu saja. Kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik, itulah bagaimana akhirnya aku jatuh (hati).

Suatu hari kita pernah membicarakan tentang bagaimana jika kita bersama, menikah.

Jika aku menikah denganmu, barangkali tak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Bahkan kau tau betul aku tak bisa selalu memberimu makanan yang bisa kau santap. Aku tak pandai memasak, sebagai perempuan aku tak begitu pintar mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kau pernah mengatakan jika aku bisa belajar dan kau akan sabar menungguku hingga aku jadi lebih pandai. Tak apa jika ikan yang kumasak terlalu asin, atau berubah pekat? kau hanya mengatakan kau akan memakan setiap yang ku masakan untukmu. Setidaknya perkataanmu cukup meluruhkan segala kekhawatiranku tentang kita.

Kita sama sekali tak berbeda dari pasangan lain yang juga memiliki kekhawatiran. Kita khawatir tak bisa saling membahagiakan. Kau tahu, seperti pertemanan kita yang tak selalu menyenangkan, sesekali kita akan berbeda pendapat, bertengkar, saling diam, dan tak bisa selalu bisa saling memahami. Setelah menikah pun akan tetap begitu, hanya kita akan lebih bersabar dan akan lebih sering mengalah.

Kau tahu ada orang-orang yang saling jatuh cinta namun tidak ditakdirkan bersama, dan ada orang-orang yang bersama namun tak saling jatuh cinta. Bagaimana menurutmu? Kita adalah diantara keduanya. Kita tak pernah terlalu banyak berbicara tentang perasaan, karena aku lebih suka membicarakan tujuan. Bagaimana cinta itu kita bangun setelah bersama, setelah melewati perjalanan yang tak menyenangkan. Karena bagiku yakinmu lebih berharga dibandingkan hal-hal lainnya.

Kau tak pernah berubah, meski berkali-kali aku meragukanmu, berkali-kali aku meminta waktu untuk memikirkan segalanya. Semua hal yang ingin aku lakukan sendiri, dan kau selalu menunggu ditempatmu, tetap diam menunggu. Aku tahu tak mudah mencintai perempuan sepertiku.

Kita akan tinggal di rumah sederhana yang telah kau siapkan. Aku yang akan mengurus sisanya. Aku akan membuat taman kecil di halaman rumah kita yang tak luas. Aku sangat menyukai bunga yang diam-diam mekar dan rumput-rumput yang basah dipagi hari. Aku suka melihat hujan turun dari balik jendela kaca. Kita akan menikmati secangkir teh hangat dikala hujan, secangkir untukmu dan secangkir untukku. Kita akan bercerita tentang apa yang kita lakukan dari pagi hingga petang.

Sepanjang waktu kita akan sibuk bekerja, kau dengan pekerjaanmu dan aku dengan pekerjaanku. Sesekali aku akan datang berkunjung ketempat kerjamu, menyapa rekan-rekanmu, dan membawakanmu makanan yang akan kita nikmati bersama. Rekan-rekanmu akan menggoda kita, dan kau tersipu sambil merekatkan genggaman tanganmu. Pipiku mulai merona, dan senyum dibibirku terus mengembang, begitupun denganmu.

Itulah bagaimana kita setelah menikah. Kita tak perlu khawatir tidak dapat saling membahagiakan. Aku telah bahagia karena dipertemukan denganmu dengan segala kita yang berbeda. Karena Tuhan memilihkanmu untukku.


***

Kau barangkali tidak mengerti dengan pikiranku. Bagaimana mungkin seseorang sepertiku mudah berubah pikiran. Aku pun tak memahaminya.

Barangkali kau pun pernah begitu, aku benar-benar tidak tahu. Saat kau berlalu dan aku berlalu. Dan kita tetap diam seakan tidak saling peduli. Pikiranku mulai terganggu. Barangkali benar jika aku mulai menyukainya, tentangmu. Kau masih tetap menjadi dirimu yang menyebalkan, yang menularkan kebekuan. Kau tak pernah berusaha menjadi pendengar yang baik atau pembicara yang hebat didepanku, kau tetap menjadi kau yang tak bisa aku definisikan.
Kadang aku membenci sikap diam dan dinginmu pada hal-hal yang aku butuhkan. Dan barangkali kau mengutuki sifat emosionalku yang sering sekali meledak-ledak tak terkendali.

Jika kau menikah denganku barangkali aku tak bisa menjadi luar biasa atau dapat selalu memahamimu dalam setiap kesempatan. Saat kita bersama barangkali kita akan menjadi pasangan yang serius dan membosankan. Kuharap setelah menikah kita akan lebih banyak bicara. Kau akan bercerita tentang kegiatanmu dari pagi hingga petang, akupun begitu. Kita bertukar buku yang telah kita baca siang tadi dan mulai menceritakan apa yang kita inginkan dimasa depan.

Barangkali aku masih saja kaku, dan marah karena hal-hal kecil, dan kau selalu menjadi lebih sabar sepanjang waktu. Aku akan menulis sepanjang malam, kau mengerjakan pekerjaanmu diruangan yang lain. Sesekali aku melihat punggungmu lalu kau melihatku yang mencuri pandang. Kau tersenyum dan melanjutkan pekerjaanmu, begitupun denganku.

Aku ingin meredakan segala kekhawatiranmu tentang kita. Seperti katamu, segalanya tak akan selalu menyenangkan. Aku ingin kita bersama-sama melewati perjalanan kita setelahnya. Kita akan menjadi orang tua dari putra-putri kita yang manis. Kita akan sama-sama belajar menerima. Itulah bagaimana setelah kita menikah.

 

  • view 263