Cerpen : Ayah dan Pernikahan Anak Perempuan Kesayangan-Nya

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2016
Cerpen : Ayah dan Pernikahan Anak Perempuan Kesayangan-Nya

Cerpen : Ayah dan Pernikahan Anak Perempuan Kesayangan-Nya

Oleh: Sutihat Suadh

Hari ini, di tengah persiapan yang begitu padat merayap, pagi-pagi sekali Ayah terlihat sedih. Aku menghampirinya ketika selesai membantu menata dekorasi rumah. Besok adalah hari pernikahanku.

Ayah duduk dikursi tua dekat meja makan sambil menghisap rokok kesukaannya. Dia tersenyum menatapku yang kini berdiri dihadapannya. Duduk, katanya. Aku menyeret kursi di meja makan dan duduk didekat Ayah. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dan memegang tangannya yang kasar. Ayah merangkul pundakku dan menepuk-nepuknya.

"Ayah bahagia?" tanyaku

Ayah tersenyum. "Lebih bahagia darimu."katanya

Ayah tak banyak berkata-kata seperti biasanya. Kata cintanya terasa begitu dingin, namun cintanya begitu hangat. Aku masih ingat enam bulan lalu bagaimana saat Hikam Andrie Mustafa datang kerumahku dan bertemu dengan Ayah. Ayah duduk dengan Hikam di ruang tamu, aku membawakan mereka teh hangat untuk hikam dan kopi untuk Ayah. Aku menunggu di ruang belakang dengan ibu, entah apa yang Ayah dan Hikam bicarakan saat itu.

Ayah tak berkata apapun begitupun dengan Hikam. Seusai sholat magrib bersama, Hikam pulang dan sejak itu tak lagi datang. Aku tak bertanya apapun saat itu. Aku menjaga perasaan Ayah. Hingga tiga bulan berikutnya, Hikam kembali datang kali ini tidak sendiri namun bersama Abah dan Bunda-nya. Hikam datang mengutarakan niat baiknya sekaligus meminta restu dari Abah dan Bunda nya serta Ayah dan Ibuku untuk bisa menikahiku.

Aku masih duduk bersandar di bahu Ayah. 
"Nak.."katanya tak melanjutkan
"Maafkan Ayah."Lanjutnya seakan beban itu terangkat dari hatinya
Aku tersenyum dan memegang lengan Ayah erat-erat.

Ayah memberikanku selembar surat yang dikeluarkan dari saku kemejanya yang dilipat tidak begitu rapi. Amplopnya berwarna cokelat, warna kesukaanku. Kau berikan ini untuk Hikam, katanya. Aku menerima surat itu dan mengenggamnya.

Saat hari pernikahanku, sebelum Hikam dan keluarganya datang. Ayah datang ke kamarku, dan memberiku sebuah kotak kecil berwarna merah tua. Ayah memintaku membukanya, katanya adalah hadiah pernikahanku. Aku membuka kotak merah tua, yang isinya adalah cincin dengan satu permata kecil berwarna merah delima dan di belakangnya ada ukiran namaku. Aku memeluk Ayah, dengan butir-butir air mata yang frekuensinya terus meningkat. Ayah menahan tangisnya, meski kulihat kelopak matanya kini berair.

"Kau sudah besar. Dua puluh empat tahun lalu, saat ibumu mengandungmu dalam rahimnya, saat itu keadaan Ayah begitu sulit. Kau tumbuh begitu cepat dengan doa-doa yang senantiasa Ayah dan ibu panjatkan untuk menguatkanmu di sana. Kau tumbuh dengan baik. Saat ibumu bersalin, yang Ayah hanya bisa membawanya bidan desa, saat itu Ayah tidak memiliki uang, kecuali hanya dua lembar lima ribuan. Dan Ayah menjual radio tua yang menjadi satu-satunya alat elektronik dirumah kami. Lalu suara tangismu terdengar dari balik ruangan yang dingin. Itu seperti baru kemarin saat menggendongmu di tangan Ayah. Kau tumbuh besar menjadi perempuan yang memiliki mimpi ingin mengubah dunia, duniamu dan dunia orang-orang di sekelilingmu."

Ayah mengusap air matanya yang beku. Ayah memelukku, rasanya lebih hangat. Kemudian Ayah keluar karena keluarga Hikam sudah datang. Sewaktu akad, Hikam menejabat tangan Ayah dan berjanji untuk mendampingiku menjalani kehidupan. Dan setelah acara akan selesai aku melihat ayah menangis didepan mataku. Memelukku lebih lama dan hangat sekali rasanya begitupun dengan hikam. Dan kata cintanya terbahasakan oleh restu. Ayah memang begitu. Dan Aku menyayanginya meski tak terbahasakan

Sutihat Suadh
Rabu, 28 September 2016

 

  • view 593