Tulisan: Tentang Rangga yang Meninggalkan Cinta II

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Tulisan: Tentang Rangga yang Meninggalkan Cinta II

 
 
Ada Apa Dengan Cinta 2 ?
 
Menonton film ini memberikan saya pemikiran baru tentang 'Meninggalkan'. Alasan menjadi jeda yang sampai pada akhirnya menjawab tanda tanya. Entah sampai pada tahun ke berapa, penjelasan itu benar-benar dapat kita dengarkan.
 
Saya sering mendengar tentang bagaimana jahatnya Rangga yang meninggalkan cinta. Semua ketidakadilan yang terarah kepada dirinya, karena dengan alasan apapun meninggalkan tetap saja salah, bukan. Bagi perempuan yang setia menunggu kedatangan, meninggalkan adalah kepahitan.
 
Entahlah, melihat Rangga saya lebih percaya bahwa ada hal-hal yang tak dapat dipahami meski meninggalkan selalu memiliki alasan terbaiknya. Ah, saya seperti memutar memori tentang meninggalkan sesuatu yang sebenarnya sangat ingin saya miliki. Saya selalu mengukur kebahagiannya dan membatasi setiap rindu menjadi jeda yang terkadang menusuk jantung. Jarak yang menjadi seperti sebilah pisau yang kau letakan di sisi hatimu.
 
Setiap pertemuan setelah perpisahan katanya memiliki takdirnya sendiri. Karmen yang selalu bertanya kepada cinta tentang 'apakah kau yakin tentang menikah dengan Trian', karena pada kenyataannya di dunia ini ada orang-orang pertama yang menggenapi hati kita, meski setelahnya yang lain datang silih berganti. Ada seseorang yang menjadi tempat perasaan kita kembali.
 
Ini tentang puisi-puisi yang rangga tulis. Entahlah setiap kali suara itu menembus telinga hingga saya mendengarkan kata-kata lembut namun menggetarkan. Pada Batas itu saya bertanya, rindu yang kita lelapkan hingga ratusan purnama bisakah tenggelam. Orang-orang yang berusaha kita lupakan karena terlalu menyakitkan ketika mengingatnya dapatkah kita hapus seperti prasasti atau benda sejarah paling tua yang tak dapat ditemukan kembali. Perasaan menjadi selalu yang paling rumit, cinta pun demikian, kita tidak sedang berbicara tentang rasional. Karena perasaan membelah batas antara jarak-jarak yang ada, kemudian suatu ketika merekatkannya kembali. Tidak rasional bukan.
 
 
Saya memberi jeda pada tulisan ini, untuk sekedar berfikir tentang refleksi dari perasaan terluka yang dirasakan bagi orang-orang yang meninggalkan dan ditinggalkan. Jeda tak cukup bisa menjawab pertanyaan yang diutarakan sampai pertemuan selanjutnya jika Tuhan merestui.
 
Saya sering bertanya tentang pertanyaan yang tak bisa saja jawab menggunakan logika. Mengapa ada orang-orang yang menunggu begitu lama tanpa kepastian, seakan cinta telah meracuni kewarasannya. Setiap tahun ditanggal yang sama dia menunggu di stasiun yang sama, menunggu orang yang sama, yang juga tidak pernah datang. Saya tidak sedang membicarakan cinta dan rangga lagi, karena di film AADC2 mereka akhirnya kembali bersama. Ini tentang perempuan lain. Dia sedang menunggu janji kekasihnya, seperti Cinta yang sedang menunggu Rangga. Hanya saja tak ada puisi cinta dari udara, hanya jarak yang membekukan rongga di hatinya.
 
Saya duduk dengannya di stasiun, dia menunggu, ini tahun keempat. Tubuhnya menggigil, hempasan angin tak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang menyakiti tubuhnya. Padahal saya sudah setengah mati menahan dinginnya angin malam. Dia melihat ke arah kedatangan, hingga kereta terakhir datang. Tatapannya kosong, dia melihat ke segala penjuru, kemudian kereta berlalu begitu saja. Perempuan itu membeku, kelopak matanya basah. Laki-laki itu tidak ada disana, sampai pada kereta terakhir.
 
"Saya tahu kamu pasti akan berfikir sama dengan yang lain. Saya seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak ada di dunia. Saya percaya dia akan datang di tahun berikutnya, karena janjinya pada saya dan anak-anak."kata perempuan itu tegar
 
Saya tersenyum pahit dan menatap perempuan itu. "Perasaanmu, saya tidak bisa memahaminya. Menunggunya tanpa kepastian tak memberimu apa-apa kecuali rasa sakit yang lebih besar."
 
Perempuan itu tersenyum bersama keputusasaan di wajahnya yang lain. Saya menarik tubuhnya, melingkarkan syal di lehernya. Tubuhnya menggigil, saya membawanya pulang dengan langkah yang berat dan membebani. Perempuan itu menangis di sepanjang perjalanan.
 
Sutihat Suadh
10 Agustus 2016
 
Sumber Gambar: google

  • view 247