Tulisan: Masa Kecil Pagi Hari dan Dongeng Lain

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Juli 2016
Tulisan: Masa Kecil Pagi Hari dan Dongeng Lain

 

Seperti biasa setiap pagi setelah sahur sambil menunggu adzan subuh saya membaca beberapa buku atau sekedar tulisan ringan. Pagi adalah waktu yang saya gunakan untuk berfikir tentang banyak hal, entahlah ringan saja. Setelah sholat subuh, saya kembali membuka buku yang halamannya sudah saya tandai sebelum saya tinggalkan.

Saya membaca sambil menyandarkan tubuh saya ke badan kursi, sesekali menuliskan kutipan dari buku yang menurut saya bagus. Itu kebiasaan saya sejak dulu, saya punya buku catatan untuk menulis dari apa yang saya baca. Kelak akan saya berikan kepada anak-anak.

Dua puluh empat. Saat orang-orang sibuk membicarakan pernikahan dalam sebuah keindahan dan romantika yang luar biasa. Saya selalu dipenuhi dengan kekhawatiran. Menikah bukan saja proses saling mengenal tapi lebih dari itu adalah proses saling menerima. Saya membaca kisah seorang penulis, dimana dia menikah di usia 20 tahun, setelah mengenal peempuan yang dia genapi selama hampir lima tahun, dari proses saling mengenal, yakin, kemudian mendatangi ayah si perempuan. Saya tersenyum setiap kali membacanya.

Sepanjang perjalanan saya, ada orang-orang yang datang silih berganti, ada yang datang kemudian pergi dan ada yang menetap namun tidak bertahan untuk bisa menerima. Itulah sebabnya, kenapa proses ta'aruf pun bisa gagal, karena kebanyakan dari kita ingin lebih mengenal dan terus mengenal, hingga terkadang kita lupa bahwa proses mengenal yang tiada akhir adalah setelah pernikahan itu sendiri.

Dalam proses saling mengenal kita tidak mungkin bisa tahu semua hal tentang seseorang tersebut. Bagaimana cara berfikirnya, sikapnya, caranya mengambil keputusan, kebiasaan buruknya, aib-aibnya, dan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita di diri pasangan.

***
Sepagi ini saya keluar rumah dengan perasaan hampa. Saya memutar roda sepeda hingga ia bergerak membawa saya entah kemana. Perjalanan pagi hari dimana terik tak cukup membakar tubuh hingga peluh tak harus jatuh lebih banyak. Saya selalu membawa kamera tua yang sudah menjadi teman selama lima tahun terakhir. Potret demi potret kehidupan mengiringi setiap perjalanan. Memoribiliaku kembali membawa kepingan ingatan sebagian hilang, lenyap.

Saya tahu Ada batas-batas yang tidak bisa dilalui dan dijangkau, batas imajiner yang membuat hubungan saya dan orang tersebut tidak bisa ditemukan titiknya. Hingga ditempat ini saya merasakan perasaan yang paling menyiksa hingga saat ini.

Saya kembali melanjutkan perjalanan pagi hari ke tempat yang berbeda, ketempat yang menyimpan begitu banyak cerita masa kecil. Saya pernah berlari-lari, bermain layang-layang, pergi ke hutan, jatuh cinta dan patah hati. Saya tertawa kecil. Kemudian datang seseorang dari ujung jalan sana, berjalan ke arah saya kemudian langkahnya terhenti di hadapannya. Matanya berbinar, tubuhnya tinggi, matanya sipit, dan kulitnya hitam manis.  Saya tertegun, berusaha mengingat laki-laki yang tengah tersenyum tepat di hadapan saya, dia tampak tidak begitu asing, seperti teman masa kecil yang tumbuh menjadi lebih gagah. 

"Apa kabar Arini?"Sapanya ringan

"Hans?"desisku

"Saya Hans, Arini." Tegasnya

"Saya hampir tidak mengenali kamu Hans."

Lelaki itu tersenyum. Saya dan Hans berbicara tentang banyak hal pagi itu. Hans adalah teman saya di sekolah dasar yang pindah ke Jakarta setelah lulus Sekolah Dasar, setelah itu kami tak pernah bertemu. Hans kembali ke kota ini menjadi seorang relawan dalam program mengajar pemerintah. Hans banyak bercerita tentang tiga belas tahunnya begitupun dengan saya.  Di usianya yang ke dua puluh empat, Hans sudah menyelesaikan pendidikan magisternya, dan saya masih terkatung-katung dengan banyak persoalan akademis. Katanya, Satu tahun ke depan dia akan menetap di kota ini, tinggal disini, di desa kecil pinggiran kota yang menyimpan kenangan masa kecilnya. Saya membawa Hans kerumah, bertemu dengan Bapak dan Ibu. Dan Reuni dadakan bersama teman-teman yang lain. Itulah bagaimana saya dan hans bertemu lagi setelah tiga belas tahun.

***

Saya menunggunya sambil membaca buku. Hot Mochalatte yang saya pesan tiga puluh menit lalu kini sudah menjadi dingin. Hans belum datang, dua minggu lagi Hans akan pulang ke jakarta. Semalam Hans meminta saya bertemu di Kafe yang sama, Kafe yang kami temukan enam bulan lalu secara tidak sengaja dan kini menjadi tempat yang paling sering kami kunjungi. Kafe yang tidak cukup besar, dan berada cukup jauh dari kota, memiliki banyak koleksi buku, dan tempat yang membuat betah berlama-lama bagi orang seperti saya. Mas Kala, pemilik kafe juga setia menjadi teman bicara saat saya datang berkunjung. 

Lima belas menit kemudian Hans datang. Kali ini tidak sendiri, dia membawa seorang perempuan yang nampak begitu anggun dengan Jilbab warna biru dan Khimar yang menutup sampai ke dada. Hans datang, dan duduk tepat di depan saya bersama perempuan yang lebih memilih duduk di samping saya di banding di sampingnya. Hans memperkenalkan perempuan itu, Arisa. Tiba-tiba saja perasaan saya menjadi lebih dingin dari Hot Mochalatte yang sudah dingin sejak tadi.  Arisa adalah perempuan yang akan di jodohkan dengan Hans, pilihan orang tuanya. Sepanjang obrolan kami, saya tersenyum begitu pahit diantara suara tawa kecil yang terdengar lebih merdu dari suara angin.  Hans pamit bersama Arisa, saya masih duduk dengan perasaan getir. Buku yang sama saya letakan kembali di Rak kafe, kemudian saya pamit pulang dengan Mas Kalla yang sedang sibuk membaca buku dan menjadi kasir.

 ***

Saya kembali menatap langit-langit kamar yang lebih pucat sekarang. Saya juga memandang sebuah lukisan perempuan yang sedang berlarian menatap jalanan yang lurus. Lukisan yang Hans berikan enam bulan lalu. Saya melihat wajah kesedihan dari balik cermin, wajah perempuan yang membiarkan hatinya semrawut seperti benang kusut. Hans adalah lelaki yang saya inginkan menjadi teman perjalanan, dimana dengannya saya ingin belajar menerima. Tapi tiba-tiba saja dongeng yang baru ingin saya tulis, sudah harus berakhir. Perempuan bernama Arisa, adalah dongeng lain untuk Hans. 

 To Be continued

Sutihat Suadh

Selasa 12 Juli 2016

 

  • view 273