Tulisan: Dua Sayap, Bukan Satu

Tulisan: Dua Sayap, Bukan Satu

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 Juli 2016
Tulisan: Dua Sayap, Bukan Satu

 

Ada yang bilang, untuk bisa terbang kita harus memiliki dua sayap, bukan satu.

Aku mengenal seorang perempuan, cara mencintainya sungguh sederhana. Meski begitu dia tetap ditinggalkan, hatinya dilukai, hingga sakit menahun kemudian Tuhan memanggilnya kemarin. Dalam hidupnya dia hanya mencintai seorang lelaki, suaminya, yang meninggalkannya ketika dia kehilangan anaknya, setelah tubuhnya tak dapat lagi bergerak setelah melahirkan. Baginya, menunggu suaminya kembali adalah satu-satunya harapan di penghabisan waktu. Ah, barangkali benar jika cinta dapat membunuh seseorang. Bukan dengan sebilah pisau yang dihujamkan ke dada hingga menusuk jantung, tapi hati yang patah mampu memutuskan asa seseorang untuk hidup. Usia perempuan itu masih sangat muda, 25 tahun, dan dia menghabiskan waktunya mencintai lelaki yang salah.

Lalu, ada perempuan yang mengabaikan seluruh perasaannya setelah dikhianati suaminya. Suaminya yang lebih memilih perempuan lain. Dia perempuan yang tangguh dan tidak pernah ingin bergantung dengan orang lain. Dia bisa terbang meski dengan satu sayap, tapi sebagian perasaannya hampa, kosong.

Disisi yang lain, ada sepasang suami istri yang selalu terlihat harmonis, saling menjaga dan menghormati. Hidupnya rukun, meski istrinya sekarang lumpuh dan memiliki kelainan otak. Tapi suaminya tetap setia menjaga perempuan yang telah mendampinginnya selama berpuluh tahun. Mereka terbang dengan dua sayap, utuh.

Mencintai adalah menerima. Bagi perempuan, mencintai adalah mempercayai. Mencintai tidak sebatas saling mengenal dan bersama tanpa jeda. Aku belajar mencintai dari Bapak, bahwa mencintai bukan seberapa sering kau mengatakan kata yang sama berulang-ulang kali, tapi seberapa besar kau berusaha untuk orang-orang yang ingin kau bahagiakan.

Sepanjang perjalananku, aku tidak pernah mencintai seseorang sebanyak perasaan mereka. Bagiku, mencintai tidak sama dengan mempercayai. Ketika ada seseorang dari negeri nun jauh, dari waktu yang lampau menawariku perjalanan bersamanya, aku menerima tawarannya dengan perasaan yang tak bisa mempercayai. Sepanjang perjalanan, aku berusaha mempercayainya meski tidak mudah karena dia pernah melukai wajahku dengan kerikil-kerikil penghianatan di masa silam. Entah, diantara pertemuan-pertemuan, aku tetap memilihnya diantara kemungkinan-kemungkinan.

Sampai pada suatu hari, aku mulai menyadari perasaannya berubah, dingin dan menularkan kebekuan. Aku masih berjalan dibelakangnya dengan jarak, meski akhirnya aku memberi jeda. Kemudian perpisahan adalah dunia tanpa nama yang kita ciptakan dalam kepahitan. Aku dan kamu adalah ketiadaan di detik yang sama.

Bapak bertanya padaku suatu malam, saat kami selesai sholat isya berjamaah. Aku terdiam membaca tumpukan buku yang ku beli kemarin. Bapak tersenyum dan mengambil salah satu buku yang ada di meja sofa.

"Nak, apa yang sedang kau baca?"tanyanya

"Buku tentang perempuan ' I'm Malala'. Pak..?"tiba-tiba saja berat aku menjawab

"Ada apa Nak, ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Pak, menurut bapak bagaimana perempuan harus menyikapi takdirnya yang pahit. Menurutku, setiap perempuan harus melawan, bukan diam apalagi sampai membunuh diri mereka karena beban psikis yang terasa lebih berat dari ratusan karung gabah yang harus mereka pikul?" tanyaku serius

"Tentang teman yang kamu ceritakan kemarin?

"Iya Pak."

"Nak, dalam islam mencintai adalah memuliakan. Perempuan harus cerdas, meski tidak seperti laki-laki yang lebih menggunakan logika, perempuan selalu mendahulukan perasaannya. Substansi baik atau tidaknya seorang lelaki, adalah bagaimana kau menerimanya. Temanmu tidak bodoh, dia hanya mencintai saja, dia mencintai suaminya."Jelas bapak dengan senyum sederhananya

****

Aku termenung di stasiun ketika menunggu kereta datang. Sepi, kosong. Aku berfikir tentang perkataan Bapak malam tadi. Perempuan memiliki takdirnya sendiri-sendiri, entah pahit atau manis. Mencintai adalah bagian dari perjalanan menuju pulang. Aku melihat seorang Ayah sedang memangku anaknya yang berusia sekitar delapan tahunan. Dia membawa tas yang cukup besar, anaknya duduk tenang di pangkuannya. Tiba-tiba saja kelopak mataku berkaca. Ah, bagiku mencintai yang paling sejati adalah cinta Ayah kepada anaknya, cinta orang tua kepada anak-anak mereka.

Kata Bapak, Patah adalah saat kita tak memiliki harapan. Saat hidup seseorang menjadi lebih kosong, sepahit kopi hitam, pekat. Dimana ranting-ranting kehidupannya lebih rapuh dari ranting sebatang pohon yang telah mati.

Aku kembali melihat ke segala penjuru. Distasiun suara bising terdengar di sana-sini. Sampai kereta tujuanku datang. Aku berjalan diantara pertanyaan-pertanyaan yang menghitung langkah kakiku. Ah, dustamu terasa lebih pahit dari segelas racun yang kau suguhkan.

Sutihat Suadh
Sabtu, 9 Juni 2016


  • Rafi Wisnu
    Rafi Wisnu
    1 tahun yang lalu.
    Diriku masih kosong atau hampa mencintai seseorang wanita yg cantik bagiku,sehingga orang yg penting bagiku adalah teman2ku dan orang tuaku yg membuatku bahagia.Berharap sgr diberikan jodoh