Tulisan : Al (Sepanjang Perjalanan)

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 28 Juni 2016
Tulisan : Al (Sepanjang Perjalanan)

Aku sedang bermimpi terbang bersamamu, angin itu membawa kita ketempat yang paling sunyi. Disana terhampar padang ilalang yang maha luas. Seulas senyum mengembang dari bibir kita. Kau bertanya apakah aku bahagia? tentu saja, jawabku. Lalu aku kembali bertanya kepadamu, apa kau sendiri bahagia Al ? Seulas senyum kecil adalah jawabanmu. Lalu kau kembali memandang langitmu, dan aku memandangmu dengan senyuman yang mebalut wajahku dan mata yang berbinar-binar.
Entahlah, aku merasa seperti kau tidak ada ditempat ini, padahal hanya ada kita berdua. Aku tak pernah mampu membaca apa yang kau fikirkan, sehingga aku mulai menduga-duga seperti apa perasaanmu, matamu tak pernah berbinar-binar seperti aku, dan senyumanmu hanya sekilas menjadi sepi. Tapi aku mencintaimu, dan aku ingin menunggu. Seperti tatapan yang tak pernah kulepaskan, seperti kebahagiaan yang diam-diam kurasakan, atau kesedihan yang tiba-tiba saja menyelinap.

Al, hujan turun hari ini. Sejak kemarin aku merapalkan doa pada tuhan kita dipenghabisan malam. Dan hujanpun dia berikan untuk hatiku yang kini segersang kemarau. Sudah lama kita menjadi asing, kau berdiri ditempat yang tak bisa kulihat. Sebelumnya aku masih merasakan desah nafasmu menguap diudara, wanginya menghangatkan seluruh kerinduan yang membekukan hatiku.

Angin menggerakan dahan-dahan pohon, ara menari didepan sana, tak ada yang berbeda, malam selalu menuju peraduannya dengan suara daun-daun yang berebut bicara. Aku hanya diam, sambil menguapkan seluruh kenangan yang tercecer diantara semak dan belukar. Aku kembali menatap bulan yang diam-diam menyelinap pergi, masih ingin kuceritakan malam kemarin.


Al, aku tahu kita tak pernah menjadi sepasang mata yang saling memandang. Kita hanya bertemu dalam kerinduan yang erat mendekap tubuh kita, sehingga terasa sesak. Cinta itu tak pernah bertaut dalam selinap malam atau pada muara pagi yang menggantungkan embun dipucuk dedaunan. Dan hujanpun turun diantara riak-riak kerinduan ini. Kau masih tak bergeming dan aku hanya menyentuh dinginnya. Tanpa tahu apa arti hujan itu bagimu.

 

Sutihat Suadh
Juni 2016

  • view 80