Tulisan: Soe Hok Gie

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 Juni 2016
Tulisan: Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah…
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza…
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu…
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi…
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang…
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra…
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku…
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya…
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu…

Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…

*Soe Hok Gie*
[Selasa, 11 November 1969]

 

Saya sudah menonton film ini yang ke-6 kalinya. Entahlah padahal saya pun sudah mengulang membaca buku nya beberapa kali. Perasaan saya masih sama, entahlah bagi saya sosok Gie menjadi sangat menarik. Ada pertanyaaan yang di Lontarkan oleh kedua sahabat Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang "Untuk apa semua perlawanan ini?". Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Perlawanan adalah salah satu-satunya cara untuk merdeka. Indonesia merdekapun karena mereka yang berani memberontak. Dalam catatan-catatan yang Gie tulis dalam bukunya, banyak impian-impiannya yang masih tegar meski belum terwujud. Membandingkan orde demi orde yang berubah namun sejatinya tidak banyak merubah apapun, konsepsinya tetap sama kemerdekaan yang telah di proklamirkan sejak 17 Agustus 1945 dalam catatan sejarah hanya memerdekakan indonesia dari para penjajah. Persoalan Komunis, PKI, Pembantaian, dan segala persoalan setelah kemerdekaan masih menjadi perdebatan tentang siapa-siapa yang terlibat dan siapa-siapa yang tidak bersalah lantas menjadi korban.

"Cuma pada kebenaran kita berharap dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran cuma ada dilangit, dan dunia adalah palsu.. palsu."

Melalui pena dan buku catatannya, Gi merekam jejak pemerintahan Soekarno saat itu.  Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Bagaimana Gie saat menatap si renta dengan kemiskinan tanpa kedaulatan mengais-ngais makanan dan memakan yang busuk. Tatapan-tatapan dari si miskin yang menjadi lebih tajam dari ujung tombak yang ditancapkan ke kepala seekor buruan dihutan. Pemerintahaan itu sakit, pejabat-pejabat, menteri, begitu senang memakan uang haram yang mereka hasilkan dari memenderitakan dan menginjak-injak hak si Miskin.

 

Memang film ini merekam jejak Soe Hoek Gie, meski dibumbui dengan tokoh-tokoh fiktif yang dibuat agar cerita lebih menarik. Entahlah, saat menonton film ini pada bagian terakhir sat Gie menyadari jika perlawanannya membuatnya di asingkan, meski begitu dia tidak pernah menyerah pada kemunafikan. Orang-orang yang lebih suka menjadi penjilat, Mahasiswa yang lebih senang menari di istana presiden, dan prinsip-prinsip yang banyak di gadaikan karena alasan-alasan militerisme dan materialisme serta kekuasaan. Pada akhirnya manusia-manusia yang tegak akan diingat meski perlawanannya berakhir karena waktunya melawan telah habis. 

 

Ira, tokoh perempuan itu. Yang menyanyikan lagu Dona-Dona dengan sangat merdunya, petikan gitar dan suaranya yang membuat senyum lelaki itu terlihat lebih ringan dan manis. Perempuan yang berjalan di lembah mandalawangi, yang Gie rangkul pundaknya ketika sampai dipuncak ketinggian. Namun sampai akhir hayatnya Gie hanya dapat memeluk Ira dalam sebuah tulisan. Saat Ira membaca surat yang Herman berikan, surat yang Gie tulis sebelum kepergiannya ke Semeru, sebelum kabut pekat membawanya ke lautan bersama Han kecil. Lelaki yang merindukan lautan, berlari menembus ombak kecil di tepian. Gie pergi bersama sahabatnya Han, diiringi tangisan Ira yang sesak. Ah, nafas lelaki itu masih segar tercium dalam ingatan perempuan yang tak lagi mesra. Hanya suara angin di puncak semeru yang membawakan kenangan Desember 1969. 

 

Refrensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Gie

Sutihat Rahayu Suadh
Juni, 2016

  • view 420