Tulisan : Al (Sepenggal Cerita)

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Juni 2016
Tulisan : Al (Sepenggal Cerita)

Aku sedang bermimpi terbang bersamamu, angin itu membawa kita ketempat yang paling sunyi. Disana terhampar padang ilalang yang maha luas. Seulas senyum mengembang dari bibir kita. Kau bertanya apakah aku bahagia? tentu saja, jawabku. Lalu aku kembali bertanya kepadamu, apa kau sendiri bahagia Al ? Seulas senyum kecil adalah jawabanmu. Lalu kau kembali memandang langitmu, dan aku memandangmu dengan senyuman yang mebalut wajahku dan mata yang berbinar-binar.


Entahlah, aku merasa seperti kau tidak ada ditempat ini, padahal hanya ada kita berdua. Aku tak pernah mampu membaca apa yang kau fikirkan, sehingga aku mulai menduga-duga seperti apa perasaanmu, matamu tak pernah berbinar-binar seperti aku, dan senyumanmu hanya sekilas menjadi sepi. Tapi aku mencintaimu, dan aku ingin menunggu. Seperti tatapan yang tak pernah kulepaskan, seperti kebahagiaan yang diam-diam kurasakan, atau kesedihan yang tiba-tiba saja menyelinap.

Al, entahlah hari ini perasaanku tak lagi berbunga. Aku masih duduk diberanda yang sama dengan secangkir teh hangat yang wanginya selalu kunikmati. Dulu setiap kali kau datang kita duduk diberanda ini sambil menikmati secangkir teh yang kusuguhkan padamu. Kau selalu bercerita tentang buku-buku pengetahuanmu, dan aku menceritakan fantasiku, tentang negeri dongeng, tentang neptunus, tentang keinginanku keliling dunia. Sekali lagi kau tersenyum.

Aku masih menulis, tapi tidak lagi dengan fantasi-fantasi yang membuatmu merasa aku hanya putri dari negeri dongeng. Kini seluruh cerita yang kutulis tentang dirimu, tentang kesedihan. Aku berjalan diujung jalan itu, jalan yang menyimpan kenangan tentang kita. Aku berdiri disana menunggu keretamu datang, tapi ini sudah tahun ketiga aku melakukan hal yang sama, dan kereta itu hanya berlalu menyisakan kesedihan yang sama. Aku kembali dengan langkah yang tak lagi tegak, semuanya terasa parau.

Al, aku terlalu takut esok aku tak bisa lagi menunggumu karena aku terlalu lelah. Tuhan menginginkanku kembali lebih cepat. Sebelum aku pergi kekota kematianku, aku ingin bertemu denganmu dalam sepenggal kisah yang akan kuceritakan pada Tuhan. Dan kurapalkan setiap doa di malam-malam panjang, untuk pertemuan terakhir kita sebelum aku benar-benar pergi.

 

Sutihat Rahayu Suadh 

Serang, 14 Juni 2016

  • view 71