Tulisan: Jika Kita Bersama

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 10 Juni 2016
Tulisan: Jika Kita Bersama

Waktu itu dengan sangat yakin saya mengatakan "Saya bisa saja menikah dengan orang yang tidak saya cintai, asalkan punya pemikiran yang sama dan visi misi yang sama". Diperjalanan saya menyadari, saya berbicara seperti itu karena saya belum pernah mencintai sesuatu hingga begitu ingin bersama, memiliki. Lalu ada yang bilang kepada saya, ditengah obrolan pada pertemuan kedua kami. "Saya rasa, kamu tidak akan menemukan pasangan yang pemikirannya sama seperti kamu, karena kalian tidak akan cocok, kamu yang keras kepala tidak bisa dengan seseorang yang juga keras kepala, kamu membutuhkan seseorang yang lebih tenang dan kebalikan dari kamu". Saya memang memiliki standart-standart dalam menilai seseorang, biasanya saya menyukai seseorang yang memiliki wawasan yang luas dan punya prospek maju serta tujuan yang jelas, tapi saya rasa itu hanya kriteria dan kriteria bagi saya hanya imajinatif, sama halnya dengan rangga dalam serial aadc, yang kata teman saya itu fiktif, tidak ada rangga dalam dunia nyata. Karena pada kenyataannya saya mengukur dari prespektif kesombongan saya sebagai manusia. Saya merenungi ini berhari-hari dan memikirkan perkataan teman saya itu, yang tiba-tiba saja mengisi kepala saya dengan celotehannya.

Bahkan sebenarnya saya tidak tahu apa yang paling saya inginkan sekarang. Sekarang saya sedang krisis percaya diri barangkali. Saya menghabiskan waktu dengan jalan ke sana-sini, saya penat, itu saja. Teman-teman saya yang sudah menggenap, memiliki pasangan yang baik setelah mereka berhijrah.

Katanya lagi, saya terlalu berapi-api dan emosional dan hanya butuh didengarkan, tidak butuh nasihat. Kara-katanya, tetap saja hangat meski terdengar lebih dingin dari musim dingin. Ah, dia jujur, sikap saya memang sedikit bermasalah.

Kemarin saya dapat undangan dari sahabat lama saya, dia perempuan yang tegas, manis dan cukup cerdas. Perjalanan hidupnya setelah berhijrah dan istiqomahnya dalam jalan dakwah membuat saya berfikir berulang-ulang, memutar-mutar kepala saya. Dia guru saya sekaligus teman sharing, pemikiran kami agak berbeda, meski sama-sama keras kepala. Dia menemukan laki-laki yang baik dengan proses ta'aruf, saling mengenal kemudian menikah. Dia pernah mengatakan kepada saya " Perempuan itu mudah mencintai, dengan laki-laki yang telah menjadi mahromnya". Saya yang agak-agak liberal ini dan rasionalitas yang masih ngatung terus berfikir, ketika seseorang berhijrah dan istiqomah, Alloh akan memberikan jodoh terbaiknya, kebahagiaan yang haqiqi baginya. Dan saya mengamini, dan senantiasa mendoakan.

Tiba-tiba saja saya ingin menggenap dengan seseorang yang entahlah, bayangannya saja saya tidak punya. Saya ingin menanggalkan semua impian saja, dan mengajaknya melangkah bersama. Dia tidak harus menjadi kriteria imajinatif saya, karena itu fiktif. Benar kata teman saya, saya membutuhkan seseorang yang lebih tenang, untuk meredam keras kepala dan emosional saya yang terkadang meledak-ledak. Bukan orang yang cerdas, memiliki pemikiran yang sama atau visi misi yang sama, its nothing.

Kamu tidak perlu jadi siapa-siapa, saya pun tidak masalah jika kamu masih belum mapan, kamu masih menghawatirkan hal-hal seperti apakah kamu bisa membahagiakan saya nantinya, karena saya juga sama khawatirnya dengan kamu. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana dapat mewujudkan impian saya, karena saya hanya akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kita kelak.

Saya ingin menikah dengan seseorang yang saya cintai, seperti kata-katamu dulu, bahwa sulit menggenap hanya dengan mempercayai. Saya akan belajar memasak ikan meski tak menyukainya, saya juga akan menabung uang belanja untuk membelikanmu sesuatu yang sangat kau sukai.

Kita akan merasakan duduk dimeja makan yang kosong tanpa makanan. Beras kita habis dan kita tak memiliki uang untuk membeli makanan, kau selalu khawatir karena menurutmu rasa lapar kita adalah kepahitan. Saya tetap bahagia meski tak memiliki perhiasan, tak bisa belanja baju baru, tidak bisa liburan, dan tak banyak hal yang bisa kita lakukan karena kita masih belajar bersama. Jika itu yang menjadi kekhawatiranmu, lupakanlah.

Pada suatu hari kita akan bertengkar hebat, dan kita akan saling menyalahkan. "Kamu keras kepala"katamu dengan nada keras. " Kamu egois" saya balas membentakmu. Lalu emosionalku kembali meledak-ledak, dan kau lebih banyak diam lalu pergi begitu saja. Itulah caramu meredam, menenangkan agar kita tak menjadi lebih keras. Saya duduk di sofa, menunggumu yang pergi sedari tadi, entahlah saya mulai menyesali segala sesuatunya. Karena bukan kamu lebih banyak salah ketika saya lebih banyak kesal, hanya saja cinta kita belum cukup dewasa. Kamu datang dan meminta maaf, dan saya tersenyum sambil menggenggam jemari tanganmu yang dingin. "Saya minta maaf, saya salah". Kamu hanya tersenyum dan menjadi lebih hangat.

Saya ingin hidup bersama kamu, tidak ada cinta yang sempurna, pun tak ada pasangan yang sempurna, yang selalu bisa saling membahagiakan sepanjang waktu. Adakalanya, kita akan menjadi sangat menyebalkan dan tidak sependapat dalam berbagai hal. Tapi cinta kita akan mendewasa sepanjang waktu kita bersama, Hingga kita menua nanti.


Sutihat Suadh
Kamis, 9 Juni 2016

  • view 74