Tulisan : Perempuan Itu

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 23 Mei 2016
Tulisan : Perempuan Itu

Hingga rindu itu membawa perempuan itu ke tempat paling membosankan bagi sebagian orang. Perempuan yang lebih suka duduk di stasiun, mendengar suara kereta dan suara keramaian yang bising. Perempuan yang suka berjalan-jalan ditoko loak dan mencari buku-buku lawas yang barangkali sudah tak lagi dikenali siapa penulisnya.

 Perasaannya sebengis kematian, rindu ini membawanya pada setapak jalan buntu di gang-gang kecil, gelap tanpa suara. Seakan angin mencekik, suara-suara mematikan penglihatnnya yang dipenuhi debu kemarahan. Langit menjadi lebih pekat, mendung seperti akan membawa kilat menghantam raga yang tak lagi menyatu dengan jiwa.


Bukan saja rindu pada semesta yang membawa perempuan itu ketempat-tempat sunyi, tapi perempuan itu menyukai kesendiriannya, langkah kakinya yang menapak tanpa suara, tak meninggalkan jejak. Perempuan itu lebih menyukai lampu-lampu jalanan yang redup ketimbang hingar bingar yang menerang ke segala penjuru. Entahlah, dia merasa langit tetap hening meski hujan datang membuat bising. Tanah-tanah basah yang kembali mengering dan meniadakan debu-debu jalan yang pekat.

Perempuan itu tergugu ditengah denting jam yang terus saja bergerak maju. Dia tetap sendu, menjadi sebatang pohon yang tak bersuara. Ah, suara dengkurannya lebih kunikmati daripada suara kilat yang melekat. Menunggu kereta yang tak lagi datang ditahun ketiga adalah kepahitan. Suara puji-pujian lebih terdengar seperti suara kematian.

Perempuan itu duduk di kursi stasiun, menunggu keretanya datang. Kenangan yang diciptakan dari terik yang membakar kerongkongan, hingga dingin yang menembus ketulang-tulangnya. Dia membuka setiap potret yang ada dalam kamera tua yang digantungkannya di leher dengan tali berwarna hitam pekat. Satu persatu dilihatnya, ekspresi wajahnya pasang surut. Perempuan itu sudah 'gila' dengan genangan air yang membasahi kelopak matanya, sesekali dia tersenyum. Perempuan itu sedang membaca perjalanan dari potret tua, disana ada pertemuan, perjalanan, dan perpisahan. 

Hingga kereta itu datang dan membawanya pulang.

 

Sutihat suadh

Senin, 23 Mei 2016