Tulisan: Perjalanan

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Mei 2016
Tulisan: Perjalanan



Ah, perjalanan ini seperti perenungan yang tak kunjung menemukan jawaban. Jejak kaki terhapus debu-debu jalan yang kian pekat. Entahlah, potret hari ini kurekam dengan kamera tua yang menyimpan ribuan kenangan tanpa nama. Disana tersimpan potret perhalanan kita lima tahun silam.

Aku melihat kesegala penjuru. Suara kereta yang kunaiki tadi terdengar lebih parau di sini, di jalanan yang bising. Entahlah, sepi, meski disini ribuan orang bersuara. Sebagian hening, sebagian lagi sepertiku yang tengah diam menikmati tempat ini.

Aku duduk bersama laki-laki tua yang sedang membaca buku seusianya bahkan barangkali lebih tua. Aku mendengarkan suaranya yang berat bercerita tentang bagaimana negeri ini dilahirkan, sesekali menyinggung sastrawan yang karya-karyanya masih dapat dia nikmati dalam kesendirian. Ah, dia tersenyum dan menawariku buku yang katanya lebih mahal dari harga jam tangan konglomerat. Aku tertawa kecil, dan mengambil buku yang berada ditangannya.

Aku terdiam, kali ini lebih diam setelah banyak menertawai lakon dalam perjalanan kemarin. Kini aku tengah duduk termenung di kedai kopi dekat stasiun di pasar loak. Aku menikmati secangkir kopi hangat yang mulai menjadi dingin, dan kembali memotret jalan-jalan yang masih dipenuhi debu jalanan. Semakin sore semakin bising, dan aku semakin sepi, lagu banda naira kudengar lebih puitis dari puisi yang dibacakan penyair kenamaan. Secangkir kopi menyisakan pekat.
Perjalanan selalu memiliki batas. Aku menunggu di stasiun, sendiri. Kali ini lebih sepi, barangkali sesekali kita membutuhkan teman perjalanan untuk memecah hening. Satu jam menunggu, aku membaca buku-buku, hingga larut tak dapat diusut. Sudah tengah malam, kereta datang menjemput kesendirian, aku meninggalkan pekat disisi yang tak terbaca.

 

Perjalanan
Sutihat suadh
Sabtu, 21 May 2016