Tulisan : Bersama

Sutihat Suadh
Karya Sutihat Suadh Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 April 2016
Tulisan : Bersama

Tulisan: Bersama

Aku masih ingat ketika kau berkata 'perjalanan kita tak aksn selalu menyenangkan', semua yang kau katakan kini bisa kupahami. Seringkali kau membuatku kecewa, dan ingin melepaskan genggaman tanganmu. 


Suatu hari, kita pernah bertengkar hebat. Kau tahu betul aku selalu mengatakan apa yang ada dalam pikiranku, dan emosionalku meledak-ledak. Kau diam meredam segala amarahmu, sementara aku selalu lebih banyak kesal.

 

"Aku minta maaf.."

 

Kau memberi jeda pada kita, untuk bertahan dikereta yang sama. Kau masih ingin memberi kita ruang untuk bisa menggenap, tak peduli seberapa diamnya dirimu aku mulai memahami caramu mencintai seseorang. 


Aku bahkan selalu mengatakan 'Aku belum percaya padamu' dan kau menjawab, 'tidak apa karena aku sudah melakukan yang terbaik untuk membuatmu percaya'. Aku perempuan seperti itu, yang lebih menyukai sendiri, dingin, dan menularkan kebekuan. Emosionalku pun terkadang meledak tak terkendali. Kau selalu menjadi yang paling memahami.

 

Aku akan menjawab pertanyaanmu tentang tujuan. Kita menikah saja, kita belajar bersama. Tak apa jika kau tak memiliki apapun untuk kau berikan padaku, tak apa jika aku harus menanggalkan impianku, kita akan belajar bersama; kau tahu kisah yang pernah kuceritakan tentang kisah romantis Mamduh Hasan, seorang putra bangsawan Mesir kaya-raya, yang jatuh hati kepada seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Mirip dongeng Cinderalla? Tidak. Bedanya jauh! sebagaimana yang termaktub di buku Habiburrahman El Shirazy, Di Atas Sajadah Cinta. Bagaimana mereka melewati perjalanan kehidupan yang tak mudah. Seperti katamu, perjalanan kita tak akan selalu menyenangkan. Barangkali kita akan banyak kecewa, kita akan banyak terluka, tapi aku percaya kita akan lebih bahagia. 


Kita akan menaiki kereta yang sama, kita menunggu distasiun sambil bercerita apa yang akan kita lakukan disepanjang perjalanan. Kita akan menjadi teman perjalanan untuk mencapai tujuan. 
Kita akan berbagi buku-buku yang sama, kita akan saling bersandar saat kesedihan tak mampu kita biaskan. Saat kita ditinggalkan. Jika kau percaya padaku untuk menjadi guru terbaik bagi anak-anakmu kelak, datanglah kerumahku, dan bicaralah pada Ayahku, mintalah restunya, maka kita akan melakukan perjalanan bersama-sama.

 

Sutihat suadh
Selasa, 12 April 2016