Bunga Nostalgia

sutejo
Karya sutejo  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Bunga Nostalgia

Ya, jatuh cinta itu seperti dua sayap kecil yang menerbangkan seseorang ke tempat baru hanya sedikit lebih tinggi beberapa cm. Terkadang, cinta juga bisa dikategorikan ujian entah itu batin atau rangkap satu dengan hawa nafsu, cinta dan nafsu setipis selaput buah salak susah dibedakan. Berlahan dan pasti sayap kecil mulai membias memamerkan sisi-sisi elegannya terus meninggi dan merayu, mengelabui logika akal semuanya tidak lagi rasional. Akal sehat dicumbui, asal sama-sama nyaman selesai, entah melanggar batas atau tidak baginya dogma cinta harus selalu memberi.

 

Kualitas seperti ini bisa dibilang menjamin bisa juga tidak, mungkin menjamin jika kedua pihak memiliki komitmen untuk menjaga dan merawat keseimbangan agar tetap utuh. Seandainya, sayap baru tumbuh diantara bagian lain pasti terbangnya akan oleng menyebabkan ketidakseimbangan, sayap baru yang aku maksudkan ialah ketertarikan terhadap orang baru seputar alasan subyektif dengan cek-cok sudah tidak nyaman, nah ini yang merusak. Urusan hati jangan samakan dengan barang sudah tidak cocok ganti baru mencintai dan dicintai adalah satu kesatuan obyektif, menempatkan kedua pihak dalam batas wajar. Bukan tentang kenyamanan bukan pula tentang perbedaan yang musti dilepaskan.

 

Semunafik ini kah cara menghargai anugrah Tuhan, bukankah kita lahir dengan kelebihan masing-masing, tugas cinta menyatukan perbedaan mengikhlaskan ujian dan menikam egois membiarkan bahagia menjadi mutlak hak semua orang. Siapa yang sanggup membatasi cinta ?, siapa yang pantas menumbuhkanya ? seluruh keberanian datang penuh kemewahan, taukah bahwa aku tertarik menyelam kedasarnya, dasar cinta tanpa kategori manusia. Aku tidak memiliki sayap manapun tidak menumbuhkan sayap siapapun aku terjerat jaring lengket berbentuk lukisan siluwet seorang perempuan, ia telah membangun sebuah pondasi kokoh, tanpa sadar aku memiliki jaminan khusus bahwa semua akan baik-baik saja. Tugasku hanya mengagumi bukan memiliki, terkadang aku bisa tertawa sendiri hanya karena terbayang lengkung tawanya, terlebih lagi aku sering mengurung diri mengumpulkan nyali untuk sekedar menyapa, tapi setiap kali bertemu canggungku lebih dulu menyelubung, dasar cupu. Makiku sekian kali. 

 

Sebenarnya dia bukan perempuan yang menawan seperti klasifikasi cantik pada umumnya atau anggun seperti kebanyakan orang, ia mahasiswi biasa. Wajahnya sederhana termasuk kelakuannya.

Taukah, kita terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam membahas masa-masa dulu kebiasaan ini menarik, hampir setiap malam bernostalgia menjadi pengantar rajutan kata yang kami kirim melalui pesan singkat. 

 

Taukah, awal pertemuan kita adalah delapan tahun yang lalu saat umur kami sama-sama belia, masa itu suka sama-suka belum begitu berarti.

Setiap hari ritual perjumpaan hanya sekilas lewat, rasanya baru saja senyumnya melintas namun sekarang tanpa bekas, rasanya.. 

 

Aku terobsesi meneiliti setiap guratan-guratan senyum simpul menirukan mimik muka, semuanya memberi sensasi mengagumkan, ah nalarku terjamah. Bahkan makian tak luput dari kebiasaan setiap kali ada yang menutupi pandangan. Tentu dia belum mengetahui, perasaan kagum hanya tumbuh kesatu pihak dan pihak itu mengadu rindu, mengadu ingin bertemu setiap waktu bahkan rindunya menganga tanpa tergapai mata.

Sekian hari yang panjang tiba suatu pagi, pagi yang terbalut canggung, lorong panjang Sekolah Menengah Pertama. Iya, aku mulai menikmati kekaguman ini sejak masa itu. Tuhan memaksa kita bertemu muka, baku tatap membuat kaki-kaki seraya mati rasa, kaku. Dari arah berlawanan ia berlari melewatiku yang diam tanpa kata, selintas meninggalkan harum tumbuhnya diterbang angin, sempat ku pandangi punggunya berlalu. Ingin sekali saja mengutarakan niat bahwa jiwaku terjerumus surgamu. Apa daya gagap selalu melumat bibir junior sepertiku. Kejadian pertama dan terakhir sejak dua tahun awal perasaan ini tumbuh, roda waktu bergulir cepat tiba dimana ia telah lulus sekolah. semuanya menjadi hampa kabarnya ikut lenyap. Keseharianku gersang sekali, sekolah tidak lagi menarik setelahnya memang ada beberapa orang baru yang sempat mengisi kekosongan hati, lagi-lagi semuanya kandas. 

 

Hatiku masih saja mengeja rindu meski tampak jelas keadaan menolak semua niat, mungkinkah dia mengetahui kerinduanku haruskah setiap malam tangan ini tak terkendali, merayapi lembar-lembar menceritakan keindahan-keindahan lalu yang sebatas andai-andai semu.

Apa perlu seseorang mengumbar perasaan ? sedangkan harapan memang tiada, manalah mungkin mengejar wanita harus menyakitinya. Seandainya menunggu kepastian adalah kemungkinan terbaik tentu aku akan mengusahakan semuanya, ya apalah itu.. hanya ketidak mungkinan untuk kita. Menyadarkan diri dari tau diri lebih pantas untuk saat ini. Semoga kamu baik-baik saja.

 

Bulan September 2014, tepat tanggal 03, selalu menjadi hari pringatan tersendiri buatku, hari tumbuhnya bunga-bunga musim semi. Sebenarnya dua bulan sebelumnya kita sempat berbincang melalui media sosial menanyakan kabar, ya.. obrolan ringan seperti pada umumnya, menarik sekali setelah mengetahui lusa ia akan menuju kota Yogyakarta, kota yang menjadi tujuan baruku menempuh pendidikan. Ini alasan mengapa tanggal tiga menjadi sepesial. Kita merencanakan bertemu, wajar saja sebagi orang baru, kota ini sangat asing dan aku memang tidak punya kenalan, kebetulan juga satu kampus. Moment perjumpaan hari ini memberi bukti bahwa rencana Tuhan tidak pernah meleset, bahkan melesetnya pun adalah bagian terencana.

 

Satu tahun setelah pertemuan, keadaan berubah "Seratus Delapan Puluh Derajat".

 

Sepenggal Surat :  

Sungguh aku merindukan hal-hal yang tidak lazim, rindu sebuah kebersamaan, sebuah ikatan sederhana tentang dua orang yang tidak lagi menginginkan sesuatu dan berusahan menjadi santun untuk menghargai perbedaan-perbedaan, itulah yang ku maksud ikatan sahabat.

Waktu sudah sangat dewasa, menghadirkan banyak tanggapan miring, ini alasan klasik mengapa setiap orang yang melakukan kesalahan sedikit banyak berusaha keluar dari kebiasaan lama mencoba mencari tahu ketidak mengertiannya, mereka butuh waktu menyadarkan diri dan tanpa memperdulikan apapun justru ada waktu yang hilang sejak ia berusaha mencari tahu.

Waktu yang kini aku maksudkan ialah senggang jarak antara kemarin dan hari ini. Kemarin kita masih diperjumpakan untuk sekedar menghabiskan secangkir kopi, berceloteh tanpa ada batas kecuali batasan tau diri. Begitu bodoh nafsu menguasai, hingga melepas batas tau diri. Tanpa pandai memetakan maksudmu, mungkin kelalaian ku memberi alasan kuat untukmu membentengi diri, aku rindu waktu kemari. 

Hari ini kita tidak lagi seumuran, kenapa ? Karna cara-caramu menata hidup begitu sistematis sedangkan caraku terlalu sederhana maka tidak heran bila tampak sekali kepribadianku canggung, lunglai dan berlebihan, mungkin setara dengan kumpulan makhluk aneh yang memuja ketidak mungkinan.

Alasan ini sederhana sekali, bisakah kita membuat alasan lagi sekedar menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan kisah hidupanmu entah dengan siapa itu, asalkan kita tidak menjadi berbeda seperti sekarang. Aku tidak menemukan lagi keromantisan itu, keromantisan tanpa dibuat-buat. 

Aku masih sering berandai-andai sekedar menceritakan kedekatan itu dengan beberapa orang baru, berharap ada pihak lain yang bisa sepantaran dengan cara pandangmu mengenai hidup, tapi ternyata cara mereka jauh lebih sederhana dari apa yang aku pikirkan. Beberapa waktu lalu sungguh aku menahan semuanya, menahan agar tidak lagi membuat ruang kecil terhadap prasangka burukmu, sekat dan jarak sudah cukup memberi nasehat agar merubah prinsip. mungkin kamu tidak mau tau itu, apa lagi mengerti kesengajaan kemarin. 

Kemarin aku memang berprilaku konyol, aku kira dengan begitu kamu akan terhibur, ternyata selera homormu cukup tinggi, sebab itu usahaku sia-sia. Kini tanpa sadar aku belajar banyak hal termasuk dua kesalahan yang coba aku perbaiki, pertama membiarkan sebaik mungkin kamu menikmati hidup baru tanpa harus kawatir dengan si pengagum ini, kedua mengikhlaskan ketidak mungkinan yang sempat aku niatkan. 

Lihatlah ternyata sifat jahiliyahku tidak berkurang sedikitpun masih begitu kental dan ketaraan, seperti olok-olokmu. Aku tidak terlalu pandai untuk menjelaskan semuanya, retorikaku kacau sekali. Alangkah menarik jika kamu memahami maksud ini. Bisakah kita menjadi teman yang baik sekali lagi.

 

Beberapa Bulan Sebelumnya.

Tuhan memberi kisah singkat sekali, setelah pertemuan hari itu, kita semakin akrab, semakin dekat hingga pertahanan memendam perasaan bertahun-tahun bobol. semunya tumpah sejadi-jadinya, tidak peduli lagi asalkan dia mengerti dan berharap menuai balasan, aku dikuasai nafsu.Tuhanpun menjawabnya cepat menjawab melalui penolakan. Rasanya seperti dihempaskan, bahkan penantian panjang berbuah pahit. Kehidupanku kembali utuh seperti delapan tahun lalu, memunajatkan diri sebagai pengagum grilia, pernah tertembak hingga mati suri. Hidup menduda ditinggal wanitanya kawin lari.

 

Beberapa minggu belakangan sempat ku beranikan bertanya kabar, bukan balasan kata yang aku terima melainkan sebingkai foto kekasih baru sebagai tanda siluwetku resmi milik orang lain. 

Masih begitu segar dalam ingatan setiap kali memandang tangkai mawar diatas meja, benar. Sebelum menyatakan perasaan, aku sempat membeli setangkai mawar sebagai perwakilan isi hati, bunga itu kini kering keronta meski begitu tetap tersimpan rapi sebagi bukti cinta tulus tak harus pupus. Memang ku utarakan niat mencintai hanya lewat beberapa media sosial, aku tidak punya nyali. Makanya kenapa bunga ini masih ada, karna aku tidak berani melakukannya. Aku gagu seribu bahasa.

Beginikah ujung cerita panjang darinya, mana sanggup manusia menerka-nerka. Lambat kejadian lalu, satu kesimpulan menarik menyadarkan arti semuanya, bahwa puncak tertinggi dari kebahagiaan adalah keikhlasan. Tahukah engkau doaku setiap malam, seluruhnya berkisah permohonan maaf. Maaf telah berani mengutarakan isi hati, aku menjadi sebab pembencimu entah hanya pendapat sepihak atau benar demikian. Andai ada kesempatan kedua pasti tidak akan pernah aku sampaikan hal konyol seperti tulisan minggu lalu, biar terkubur dalam asal hari-hari baru bisa kita lewati sebagi dua orang yang diikat persahabatan bukan kecanggungan seperti delapan tahun lalu.

Malam ini Februari 2016, sengaja aku buka jendela kamar terasa hembusan angin berangsur-angsur menyapa, terlihat dari kain tipis yang bergoyang-goyang. Entah kejenuhan apa yang memaksa untuk meributkan isi kepala. Sudahlah, mamang tak berdaya aku merubah semua, ku lihat bulan memincingkan matanya mengintip tepian rindu yang menganga, sungguh begitu naif menyapamu, mengulang niat tidak cinta padahal sendari tadi dan waktu itu tak henti aku terpaut simpul manismu, pekatnya rindu seperti menyeruak meski ku bayangkan sadisnya penolakan itu. Kita memang terbatas ruang dan waktu tapi jelas sekali bahwa kemampuan berimajinasi telah membuatmu kembali walau sebatas bayang sepi. Bisakah senyum sabitmu menyatukan yang hilang, takut ruangan ini semakin lengang dengan pamrihnya hati meminta kau datang.

Berlahan pandangan bertambah kabur seolah timbul bintik-bintik kunang menyapu imajinasi menggambar kenangan lama. Semakin mesra angan-angan membawa akal sehat pergi, entah berapa lama menikmati kemewahan ilusi sampai-sampai suara alaram mengagetkan, ternyata waktu menunjukan tepat 02:30 AM, terlalu pulas. Semuanya buyar, seolah Tuhan cemburu melihatku menghabiskan waktu bersama bayangan seorang wanita, baiklah. Mulai beranjak bangkit menuju kamar mandi menyegerakan kebiasaan umat muslim supaya tidak terkesan menduakan kasih Tuhan. Hanya beberapa menit saja ritual tengah malam selesai, sembari merapatkan sepuluh jari mengusap muka berlantun aminn.

Oh.. tidak, mataku berayun-ayun bermanja seolah berharap menyudahi munajat kali ini. Tubuhku mendayu-dayu dan aku rasa tidak ada pilihan lain kecuali tidur, badan ringkih ini terhempas kedataran busa yang tidak empuk. Mulai berangsur-angsur aku tenggelam dengan dekap bayangnya.

Terperangkap gelap tidak selamanya sekat, nikmati sisi lain kegelapan itu. Cukuplah kecintaan kepada Tuhan, agar cukup pula alasan pertemuan tanpa perpisahan.

 

Hari ini Kamis, 24 Maret 2016

Tubuhku terbujur kaku, sempat terhentak setelah terbangun dari mimpi yang merayapi bawah-sadar. Mimpi tadi membuatku tertunduk haru.

  • view 137