Sinetron Religi, antara Isi dan Substansi

susy haryawan
Karya susy haryawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
Sinetron Religi, antara Isi dan Substansi

?

Tanggal 9 Februari dalam peringatan hari pers, Presiden memberikan sentilan di dalam sambutannya, bahwa media diharapkan membawakan hal yang positif, bukan semata rating, dan bisa menjadi sarana membangun bangsa. Berkaitan rating sebagai maha kuasa, salah satu keprihatinan yang besar adalah sinetron, media visual yang telah banyak menyedot banyak energi, waktu, dan menjadi magnet bagi banyak orang. Label yang membuat keprihatinan adalah Sinetron Religi, namun isinya sungguh jauh dari nilai agama.

Religi, apakah hanya semata karena pakaian, sekali lagi ini bukan SARA, berhijab, berpeci, bahkan bersorban, langsung pantas berlabel? religi. Padahal isinya fitnah, iri dengki yang tidak pernah usai dari waktu ke waktu? Tentu bukan, sepanjang hemat saya, tentu sinetron religi itu mengajarkan kebaikan, hal yang positif, dengan pakaian dan tutur kata, serta pilihan isi mendalam mengenai keagamaan.

Ritual agama, bisa sholat, mengaji, misa, kebaktian, atau apapun setting agamanya, apakah tentu religi, namun di balik itu semua adalah rebutan lawan jenis dengan segala intriknya, mengedepankan kekerasan baik verbal ataupun non verbal. Menghina tetangga, mengesploitasi kekurangan fisik lawan main (dan itu hampir semua media hiburan). Ada pula yang kekerasan fisik dengan berkelahi dan setiap hari isinya demikian.

Istilah agama, sebagai sarana pembenar akan kejahatan isi yang hendak disembunyikan. Misalnya, ada orang yang ?rajin dalam ibadahnya, namun sifat iri, dengki, sombong, dan suka merendahkan itu. Sejatinya, kan orang yang rajin ibadahnya seyogyanya makin baik dan tidak jahat seperti itu. Akhirnya tidak beda dengan maling dan korupsi itu mengatakan malingnya sebagai rencana Tuhan? Alah memfitnah Tuhan kalau demikian.

Fasih Kitab Suci, apapun label agamanya, namun ketika hanya ingin nama diri, mata doitan, dan tidak bisa menerima keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Berbahaya dengan model demikian, karena tidak merasa bersalah menggunakan ayat-ayat suci demi membenarkan kejahatannya sendiri.? Ingat bagaimana hal ini ramai saat kampanye pilpres lalu.

Agama meskipun berbeda-beda nama, namun pasti memiliki nilai universalisme yang identik, mengenai pujian kepada Sang Pencipta, penghargaan akan kemanusiaan, dan tentu tidak ada yang mengajarkan kekerasan, menghina secara berulang, dan brebut baik parner, ataupun pengaruh, dan nama baik.

Pavlov pernah mengatakan anjing akan bisa melakukan banyak hal dengan pengulangan. Beberapa artikel mengupas bahwa anak-anak mereka yang masih di bawah umur telah hafal lagu atau mars sebuah parpol. Mengapa demikian? Karena pengulangan yang? sangat intens. Bagaimana ketika kejahatan yang dicontohkan itu berjam-jam dalam sehari-hari, dijejalkan secara terus menerus, bahkan kejahatan itu dikemas sebagai sebuah kecelakaan yang bisa ditoleransi karena perilaku ?religius? yang dipahami. Tidak heran ketika anak-anak zaman sekarang abai akan kebenaran yang penting muka manis, entah di belakang seperti apa. Maaf hanya di bibir yang penting lepas dari sangsi dan kemudian mengulangi bisa pula dendam.

Aneh dan lucu ketika Tom n Jerry, dikatakan mengajarkan kekerasan sehingga tidak boleh tayang, sedangkan sinetron dengan label religi namun 80% isinya adalah iri dengki, fitnah, pamer, dan meras diri paling hebat dengan gencar mewarnai layar kaca.

Orang tua memegang peran penting. Ironis lagi ternyata mereka yang getol menonton, mau tidak mau anak ikut menyaksikan. Ada orang tua yang tidak sempat menonton, malah bertanya kepada anaknya yang masih di bawah umur itu bagaimana eposide yang terlewat itu.

Kita sering berfikir soal terorisme, korupsi, narkoba yang sering jauh dari antara kita, namun ini datang di depan hidung kita, malah kita fasilitasi, padahal jelas-jelas mengajarkan kejahatan. Lebih buruk lagi mengkamuflase dengan hal-hal yang suci dan sekilas akan kelihatan sepertinya tidak masalah.

Salam ?