Belajar dari Kasus Menteri Jero Wacik, Boleh Korupsi kalau Berprestasi

susy haryawan
Karya susy haryawan Kategori Politik
dipublikasikan 10 Februari 2016
Belajar dari Kasus Menteri Jero Wacik, Boleh Korupsi kalau Berprestasi

?

Kasus maling kerah putih paling mengharu biru, bagaimana Pak jero Wacik menangis meminta pertolongan kepada Pak Beye, Pak Jusuf K, Pak Joko Widodo, semua dimintai tolong. Menyatakan diri orang baik dan rela membantu malah dituduh maling. Menarik adalah kedatangan Pak Jusuf Kalla yang kala itu wapres untuk menjadi saksi meringankan. Siaa langsung TV terhenti karena ada petasan meledak di Tamrin karena salah dengar dari pelaku yang diperintahkan ke Suriah malah ke Sarinah. Kemarin hakim mengetuk palu dan jatuhlah vonis. Pak Jusuf K keren tidak mengagungkan jabatan namun datang untuk membantu kolega.

Ternyata ratapan meminta tolong itu juga direspon oleh Pak Beye selaku komandan sang menteri selama dua periode. Pak Beye tidak datang namun mengirimkan surat yang berisi mengenai prestasi Pak Jero W selama menjadi menteri.

Lha apakah dengan demikian prestasi bisa menyingkirkan kejadian maling? Kita bisa membandingkan saat sekolah, kalau anak pinter, nakal dikit masih ditolerir, usil, cerewet, atau bolos, karena nanti bisa tertutupi dengan kecerdasan dan prestasinya. Namun kalau anak cerdas itu menghamili cewek, apakah masih boleh tetap sekolah?

Ironis sebenarnya apa yang dijadikan kesaksian meringankan via surat dari presiden ke enam ini. Bagaimana iklan yang? sangat dibanggakan ?TIDAK? pada maling, namun memberikan pernyataan prestasi bagi pelaku maling anggaran. Akan lebih elok, elegan, dan berjiwa besar sesuai iklannya, maaf tidak ada yang meringankan dari Anda, Anda sudah melupakan sumpah jabatan, mempermalukan saya dan partai yang Anda kencingi? di depan televisi secara langsung. Prestasi Anda tidak cukup membantu.

Misalnya, kementerian itu kotor, pegawainya malas, namun prestasinya luar biasa masih bisa diterima akal sehat, kalau dibela dan dihukum ringan. Kalau maling sama sekali tidak pantas untuk dibela dengan prestasi.

Korupsi telah begitu masifnya, bahkan banyak yang tidak sadar kalau perilaku itu termasuk maling, tidak malu karena namanya tidak sejelek maling. Pembelaan demi pembelaan tidak menjadikan jera. Lihat bagaimana masih saja berani bawa alat komunikasi, sebagaimana di pakai Bu Atut. Tentu itu hanya fenomena gunung es, bukan satu-satunya yang menggunakan alat komunikasi dan kemewahan yang lain.

Perlu kesadaran bersama korupsi adalah penyakit tamak, rakus, dan tidak mudah puas, bukan karena kekurangan sebagaimana pembelaan beberapa pihak sebagaimana sering didengung-dengungkan. Hal ini hanya membuat nyaman orang yang mau maling. Berbeda maling susu di mini market memang tidak punya pekerjaan daripada maling anggaran demi istri muda dan mobil mewah.

Kemanusiaan telah tergantikan dengan kemewahan dan harga diri elit yang tidak tahu malu. Uang yang bisa dipakai untuk kesejahteraan masyarakat, namun malah dipakai untuk kesenangan sendiri, sedang masyarakat masih banyak yang jungkir balik demi bisa makan.

Prestasi macam apa yang bisa menutup kerugian demi kesenangan sendiri? Anak buahnya sendiri mengakui sering dipaksa membuat acara demi bisa menarik anggaran, apakah ini prestasi itu?

Baik dan boleh menghargai kinerja itu, namun jika perilaku maling, main anggaran, dan membuat acara abal-abal apakah ini bisa ditutupi dengan prestasinya? Pejabat itu lebih tinggi tuntutannya bukan malah lebih longgar dan boleh abai akan perilakunya. Misalnya bisa membuat lima tujuan wisata sama atau melebihi Bali bolehlah malingnya ditutupi dengan prestasi. Pas di ESDM bisa menekan harga BBM, Pertamina berjaya sebagaimana Petronas, Freeport membangun ?sesuai kesepakatan, apalagi bisa dikelola sendiri, mengapa masih import minyak dan itu lewat calo dianggap prestasi?

Jangan-jangan raportnya beda di Presiden dan di mata rakyat? Kalau begitu rakyat yang menderita itu di mata pejabat sebagai sejahtera?

?

?

  • view 164