Enam Sikap Pemenang[1] Berpikir Positif

susy haryawan
Karya susy haryawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Februari 2016
Enam Sikap Pemenang[1] Berpikir Positif

?

?

Bangsa yang besar akan dihuni oleh orang-orang besar. Besar dalam konteks ini bukan berkaitan dengan fisik atau? badan yang besar, atau jabatan dan kekuasaan yang besar. Jiwa, kepribadian, dan spritualitas yang besar. Kebesaran rohani dan spiritualitas sebenarnya tidaklah sulit untuk memperolehnya. Cara yang pertama ialah Sikap Positif:

Sikap Positif

Positif berarti bahwa tidak ada satupun persoalan yang tidak dapat diselesaikan. Saat menghadapi persoalan biasanya orang akan merasa semua gelap, semua jalan tertutup baginya, tiada harapan, semuanya pepat. Persoalan menguasai pikiran dan keseluruhan diri manusiawi, sehingga panca indra dan pemikiran semua diwarnai oleh masalah. Orang yang sedang menghadapi permasalahan seperti orang yang sedang memeluk erat-erat pohon besar. Bantuan datang dan ada masukan untuk melepaskan pelukan pada pohon itu, dapat dipastikan akan dijawab bahwa itu satu-satunya pegangan. Tangannya menggegam erat masalahnya. Pandangannya terpusat pada batang pohon yang berwarna gelap. Keseluruhan diri terfokus oleh pohon yang gelap, menjulang tinggi, pegangan satu-satunya, dan tidak berani mengambil risiko, bahkan untuk menoleh, atau melirik sedikit saja. Khawatir ketika melirik akan jatuh dan terlepas dari gantungan satu-satunya tersebut.

Padahal, dengan sedikit melirik ke samping saja akan terlihat hijaunya lembah, melirik ke atas hijau dan rimbunnya daun pohon yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Keberanian untuk melirik, itu perlu dibangun agar timbul keberanian untuk menoleh, memandang, dan akhirnya melompat untuk meninggalkan pohon yang dipeluk erat-erat tersebut. Langkah membangun sikap positif sebagai berikut;

  1. Berfikir dengan tenang

Emosi, apalagi emosional melepaskan kendali pemikiran dan rasio. Kemarahan, umpatan merupakan mekanisme untuk melepaskan ketegangan, namun tidak perlu menguasai dan mengontrol jernihnya rasio yang akan memberikan solusi. Suatu hari saya mendampingi kamu muda yang sedang melaksanakan kegiatan outdoor. Gadis ini bertubuh subur, saat dia harus melalui titian , sekitar dua meter lebih di atas sebuah parit yang sangat kotor, dia sudah mengajukan keberatan dengan berbagai alasan. Setelah bujuk rayu dari rekan dan sedikit tekanan dari saya, dengan berurai air mata mulai menaiki tangga tali. Ketakutan itu ternyata tidak berkurang, pelan-pelan lancar juga, namun tiba-tiba rasa takut itu menjadi monster dan menguasi anak muda ini. Dia berhenti di tengah-tengah. Persis di tengah di antara awal dan akhir, di antara parit dan langit, di antara pilihan yang dapat diputuskannya sendiri. Kembali bujuk rayu dan dorongan dari kami tidak mampu meyakinkan gadis ini. Tidak mungkin untuk dibantu dengan apapun caranya. Pada waktu kritis yang tidak diduga-duga anak ini memutuskan untuk menjatuhkan diri. Masuk parit yang super kotor karena gemuknya badan yang masuk air meluap ke mana-mana. Semua terdiam, kecuali? tangis anak ini. Permainan saya hentikan dan kami ajak untuk evaluasi dan refleksi. Semua diam, selain isak tangis anak ini, saya berinisiatif untuk meminta rekan-rekannya memandikan siswi yang bau dan kotor minta ampun itu. Solidaritas rekan-rekannya sungguh terbentuk, kebetulan di dekat situ ada kran dan slang air. Rekan-rekan cewek memandikan dengan selang, dan tawa menjadi pecah karena lucunya, ada yang berkomentar mandiin kebo.

Ketakutan anak ini sama dengan menggengam pemikirannya, ketakutannya yang menguasai nalarnya. Ketakutan yang pelan-pelan di atasi tiba-tiba datang lebih besar dan mematikan rasionya. Saat sedikit kesadaraannya datang dan tidak ada yang mampu membantunya, dia putuskan untuk menjatuhkan diri. Bukan keputusan terbaik, namun tepat dengan apa yang dialaminya.

Ketenangan dan pemikiran yang jernih dibutuhkan dalam memutuskan sesuatu apalagi hanya sedikit waktu yang ada.? Pikiran yang kacau akan membuat keputusan yang ada tidak tepat dan baik.

  1. Berorientasi bagaimana dan meninggalkan seandainyai

Jatuh itu pengalaman tidak enak, meratap dan tetap ndheprok (duduk di tanah), memang lebih nyaman. Bangkit dan melangkah lagi merupakan pilihan, ndheprok pilihan pula. Pilihan cerdas dan pribadi yang besar tentulah memilih bangkit dan melangkah.

Banyak orang yang berorientasi ke belakang. Seandainya aku begini, tentulah akan lebih baik. Masa lalu adalah sejarah, semua sudah tidak bisa diulang. Kalau hanya berfikir masa lalu orang tidak akan bergerak, semua berhenti karena dipenuhi dengan rasa sesal dan kecewa mengapa tidak mengambil pilihan yang lain. Pilihan orang yang berorientasi seandainya, biasanya juga menyalahkan orang, pihak lain sebagai penyebab persoalan. Ini bukan salahku, karena dialah, atau karena itulah, hal ?ini? menimpaku.

Pribadi bijaksana memilih, apapun yang terjadi sudah terjadi, sekarang bagaimana aku harus tetap meneruskan langkahku. Orientasi bagaimana bernuansa menatap dan melangkah ke depan. Hidup ada di depan bukan di belakang.

  1. Tanamkan keyakinan bahwa aku pasti bisa

Kebanyakan orang yang ragu memikirkan hal-hal yang sebaliknya dari yang diinginkan dengan pemikiran-pemikiran, ah tidak mungkin ini terjadi, aku tidak mampu, aku pasti akan mendapatkan yang buruk, sedangkan yang ?baik buat orang lain. Cara berfikir yang keliru menguasai banyak kepercayaan orang pesimis.

Kepercayaan akan membuat ide kreatif muncul. Yakini bahwa pasti bisa, ungkapkan itu dalam doa dan usaha. Doa akan membuat kita makin percaya apapun dapat terjadi. Usaha dan doa merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan. Berkat Allah melimpah dalam hidup ini, lihat apa yang dilakukan Allah untuk Musa dan bangsa Israel saat keluar dari Mesir. Laut Merah pun di belah dan bangsa Israel dapat keluar dengan selamat dan melalui jalan kering. Ungkapkan, pikirkan, dan yakinilah yang baik. Bangun sikap Berharap yang terbaik,? mendapatkan yang terbaik.

?

?

?

?

  • view 285