Psssst! Lulung Jadi Jurkam Ahok

susy haryawan
Karya susy haryawan Kategori Politik
dipublikasikan 04 Februari 2016
Psssst! Lulung Jadi Jurkam Ahok

?

Siapa yang paling berjasa dalam melambungnya nama Pak Ahok? Apakah teman Ahok, yang berkoar-koar Ahok pasti menang? Media? Atau parpol yang merasa dikhianati Ahok? Bukan mereka semua kalah dengan orang yang bernama Abraham Lunggana. Orang satu ini paling membuat Ahok makin berkibar.

Kita tengok bagaimana bisa demikian.

  • Teman Ahok, berkutat dengan KTP dan usaha untuk membuat Pak Ahok tidak tergantung parpol dan kemudian menyiapkan antisipasi kalau digembosi oleh parpol dan kemudian Pak Ahok tetap punya kapal untuk melaju di pilkada mendatang. Tidak begitu besar kiprah mereka, bukan mau melemahkan kerja mereka namun sangat tidak banyak menyumbang.
  • Parpol, baik yang merasa dikhianati ataupun yang seneng. Sangat wajar kinerja mereka ini. Mau menjatuhkan ataupun melambungkan Pak Ahok mereka tetap mikir-mikir.
  • Media, tidak juga, karena mereka sangat berimbang menuliskannya. Kejelekan Pak Ahok yang diutarakan Pak Bowo, Pak Lulung, Pak Taufik, dan banyak lagi membuat perimbangan dari apa yang disampaikan pendukung Pak Ahok, media membawa pengaruh sangat kecil karena juga mengungkapkan kekurangan Pak Ahok. Termasuk kemarahan Pak Ahok kepada ibu-ibu, PNS, dan karakternya itu.
  • Pak Lulung, sejak jauh hari orang ini menyumbang udara paling banyak bagi melambungnya Pak Ahok ke atas. Entah karena keterbatasan cara komunikasi, tidak memiliki tim yang bisa memberi tahu, atau memang sejatinya mendukung Pak Ahok secara diam-diam. Begini, apapun urusannya,mau Tanah Abang, Sumber Waras, APBD, soal raperda, mengenai UPS, dan banyak hal Pak Lulung paling lantang mengaitkan Pak Ahok sebagai pelaku kejahatan. Korupsi itu Pak Ahok dala benak Paak Lulung. Ide dasarnya jelas untuk membuat Pak Ahok jatuh dan jelek di depan massa. Namun apakah demikian kenyataannya? Sama sekali tidak. Pemeriksaan yang ia jalani membuatnya semakin berkibar karena bisa berkelit dengan cerdik. Gagal, kemudian timbul masalah yang dikait-kaitkan ke Pak Ahok, akan dapat dipastikan gagal karena Pak Lulung kurang cerdik dalam mengolah isu yang mungkin tidak ia tangkap dengan benar dan baik, yang justru sering menjatuhkan diri sendiri dan menaikan ratting Pak Ahok. Memanfaatkan media untuk mendengarkan ide, alibi, gagasan, dan bantahan Pak Lulung, dan pasti nyebut Pak Ahok, dan kemudian media klarifikasi,malah pak Ahok yang mendapatkan panggung dan Pak Lulung tetap saja terlupakan. Pak Lulung kalau mau menjadi pesaing yang sepadan minimal tidak kalah telak-telak amat berhadapan dengan Pak Ahok, hentikan cara frontal mencari-cari kesalahan Pak Ahok yang bisa dimentahkan oleh kinerja dan cara berkomunikasi Pak Ahok. Cara demikian hanya bagi sebagian kecil pendukung setia model PKS, kalau kader lain sama sekali tidak efektif dan bagi suara mengambang malah makin mual kalau tidak boleh terlalu kasar muak, dengan cara Pak Lulung gunakan selama ini. Ingat cara pilpres kemarin, gak efektif kan? Meskipun berpengaruh, namun tidak berarti banyak. Mauny angkat diri malah angkat rival, apakah bukan cara kerja sia-sia?

?

Pak Lulung telah capek menghadapi gubernur satu ini selama ini, apakah mau mengganti gubernur dengan orang lain, atau malah menawarkan Pak Ahok untuk kembali ke tahtanya? Kalau pilihan kedua ya lanjut Pak Lulung caranya, itu menjadikan cara kerja teman Ahok yang serampangan menjadi mudah. Polularitas itu bukan karena kinerja Pak Ahok atau pencitraan yang ia lakukan, namun karena adanya Pak Lulung yang kampanye tidak kenal henti.

Belum lagi Pak Taufik, yang hampir senada, namun dengan prosentase yang lebih rendah. Toh dulu teman, hanya beda di pilpres yang membedakan, soal terganggunya kepentingan miriplah dengan Pak Lulung.

Teman Ahok dan pendukung yang kepedean telah tertutupi dengan kampanye sepanjang tiga tahun tiada henti ini menjadi efektif dan menjadikan Pak Ahok makin tenar dan selalu datang di media. Jangan salahkan media dengan menyematkan kesayangan media, namun karena memang cara kalian yang salah.

?

?