Dasamuka dari Kura-Kura Hijau

susy haryawan
Karya susy haryawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Dasamuka dari Kura-Kura Hijau

?

Gedung kura-kura hijau yang besar, megah, dan indah di pusat pemerintah itu menandakan sebuah monumen kejayaan di masa lalu. Hari ini, sayangnya pernah dipimpin oleh seorang yang bernama Dasamuka. Dasamuka ini memiliki sepuluh kepala. Setiap kali kena kasus kepalanya terpotong satu dan masih sembilan kasus demi kasus tidak pernah membuat ia terjungkal.

Desas-desus mengatakan ia pernah terkenal skandal masalah uang talangan atau apa namanya begitu dengan sebuah Bank Dewata, bank zaman wayang tentunya. Sekian besar uang negara yang dikemplang bank itu, ternyata malah mengalir ke rekening pribadinya. Satu? kepala terpental dan masih ada sembilan kepala dia, makanya masih jadi wakil rakyat wayang.

Kepala kedua melayang ketika kena kasus menyelundupkan makanan pokok para wayang. Entah bentuknya apa, karena tidak ada keterangan bangsa wayang itu makannya apa. Hanya saja kalau bangsa Kera jelas makanannya buah, seperti pisang, pepaya, dan semangka. Bisa saja yang diselundupkan dari manca itu buah-buahan. Kalau bangsa raksasa makanannya tentu daging, bisa saja yang diimpor berupa gajah atau godzila yang besar-besar untuk santapan mereka. Pokoknya bahan-bahan sumber pokok makanan yang sangat menguntungkan. Cerdas melihat peluang, bagaimana semua makhluk tentu perlu makan, dan itu yang ia perdagangkan.

Ini yang paling menyengsarakan, lha bagaimana tidak ketika ia mendatangkan sampah beracun ke negara wayang. Tentu saja banyak protes dan demo untuk menghentikan masuknya barang berbahaya itu. Kepala ketiga terpancung, namun masih saja ia berdiri tegak. Mungkin merasa masih punya cadangan yang cukup untuk ia tetap berkibar, dan nyatanya masih hari ini berjaya di negara wayang sana.

Wayang mengadakan pesta olah raga, ada memanah, berlari, tolak tombak dan sebagainya. Kesempatan bagi Dasamuka untuk membangun arena yang megah dan mewah di sana. Proyek dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya tentunya. Kepalanya bergulir empat, dan masih enam yang membuatnya masih berjaya.

Saat negara wayang mengadakan proyek untuk tanda pengenal bagi seluruh warga negara wayang, tentu saja uang yang beredar begitu tinggi. Proyek gede istilah sekarang. Momen yang tidak terlupa. Rekan-rekan Dasamuka sudah mulai kasak-kusuk dan bahkan ada yang sudah dijatuhi hukuman kurunagn di hutan yang sangat seram. Namun dia hanya tanggal kepala kelimanya. Masih separoh jumlah kepalanya? lima.

Pemilu raya bangsa wayang membuatnya kembali terpilih jadi wakil wayang, entah bagaimana caranya apakah membeli atau tidak, yang jelas ia masuk lagi ke gedung kura-kura. Justru puncak karir sebagai bangsa wayang. Ia naik menjadi pimpinan. Bicara gak jelas pokonya omong namun pimpinan. Ia sering membuat lelucon namun tetap saja percaya diri. Saat ada negara tetangga sedang panas dengan rencana pilihan raja wayang, ia datang dan menyatakan dukungan, meskipun ia bantah. Para wakil wayang kecewa dan menjatuhinya dengan hukuman lisan, ditegur oleh anak buahnya sendiri, mana dia takut kan masih ada lima kepala. Ia tidak sadar bahwa kepalanya terpotong satu lagi dan tinggal empat.

Makin berani ia dengan datang ke penjual emas dan minta dibuatkan keris, mahkota, terompah, dan pending emas bagi dirinya agar makin mentereng sebagai pucuk pimpinan. Seluruh warga wayang marah dan meminta ia dipecat, namun rekan-rekan setianya tetap membela dan mengatakan ia tidak salah, mungkin pas ia lihat kepala ketiga yang ia saksikan, makanya dibela mati-matian.? Ternyata masih lolos juga, dipikir akan tamat riwayatnya, padahal kepalanya tinggal empat, kini terpotong lagi satu. Ia tidak lagi berani macam-macam karena tinggal punya tiga kepala. Ia meminta maaf dan menyatakan bahwa lebih baik ia mundur dan menjadi pertapa saja. Ia tidak sadar dengan kondisinya itu memenggal kepalanya sendiri sebanyak dua buah, dan tinggal dua saja.

Dengan dua kepala ia makin tenang dan senyam senyum saja, ia didapuk jadi kepala kelompok oleh golongan wayang yang menugaskannya. Ia meras memiliki ajian yang bisa menghidupkannya lagi ketika kepalanya jatuh dan menyentuh tanah. Ia lupa zaman ini tanah sudah jarang dan berganti dengan beton dan aspal.

Tinggal menunggu waktu ia berbuat salah lagi, maka akan habis kepalanya itu. Sepuluh kepala yang dipakai untuk kesenangan pribadi itu satu demi satu tanggal dan tinggal dua yang kelihatannya ia tidak sadar sudah tidak ada lagi tanah yang akan membawanya masuk ke tanah kuburan jalannya ia menjadi penguasa wayang.