Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 15 Desember 2017   10:37 WIB
Cerpen Susanti Kewa : Gading Lamaholot

GADING LAMAHOLOT

Tempat kelahiran biasanya akan menjadi tempat tinggal yang selalu dirindukan banyak orang. Begitu juga aku. Tempat tinggalku salah satu desa yang sangat indah walaupun memiliki udara yang panas dan terlihat gersang. Aku senang tinggal di desa tempat kelahiranku yaitu kampung Lewotolok. Lamaholot adalah sukuku. Suku yang   kaya akan adat istiadat juga  memiliki wilayah yang terbentang  dari Au Matang Gatang, Hikong, Boganatar, Larantuka, Solor, Adonara sampai Lembata.

Di desa Lewotolok, hiduplah seorang gadis yang terkenal sangat cantik bernama Leni ia hidup bersama orang  tuannya dan juga kedua adiknya Ella dan Yusub. Leni bekerja di salah satu sekolah swasta sebagai seorang pendidik. Suatu hari Leni bersama teman-temannya mengikuti kegiatan mudika di desa Atawatung.  Tanpa di sengaja ada seorang laki-laki bernama Leri sedang memandangi kecantikan  gadis itu  dari kejahuan. Lama-kelamaaan timbulah rasa kekaguman serta ingin memilikinya sebagai pendamping hidup . Hari demi hari dilalui  Leri dengan  memikirkan Leni sehingga ia ingin bertemu langsung dan ingin mengutarakan isi hatinya.

Di saat mengikuti kegiatan mudika ini mereka saling berkenalan karena Leri juga salah satu anggota mudika, dari kegiatan ini akhirnya mereka saling akrab. Waktu terus bergulir, akhirnya Leri mengungkapkan isi hatinya kepada Leni dan dengan senang hati Leni menerima cintanya. Mereka menjalani hubungan sebagai  sepasang kekasih yang bahagia.  Beberapa hari kemudian akhirnya  Leri memutuskan untuk meminang Leni.  Leri  nekad mendatangi rumah Leni. Sesampainya di rumah Leni ia pun mengetuk pintu dengan penuh rasa gugup.  Dari dalam rumah terdengar sentakan kaki  yang ingin membuka pintu.

Setelah ayah Leni membuka pintu, ia mempersilakan Leri duduk dan ayah Leni langsung menanyakan tujuannya  datang ke rumah percakapan pun dimulai.

“Kedatangan Leri kesini ingin memberitahukan kepada ayah bahwa  saya dan Leni saling menyukai satu sama lain.”

Mendengar jawaban  Leri  Ayah  Leni  menyuruh  Leri untuk datang bersama orang tuanya.  Mereka akan menentukan hari  Leri  dan  keluarganya  datang dengan seorang Amakaka atau juru  bicara  dari pihak Leri kepada keluarga Leni supaya kedua anak mereka saling terkait dalam satu ikatan peminangan, sehingga masyarakat tahu bahwa keduanya sudah ada ikatan perkawinan.

Setelah keluaraga Leni terima maka mereka akan menentukan hari yang mana kedua orangtua masing-masing menetapkan delegasi untuk  mulai membicarakan proses penentuan belis. Hari yang ditentukan pun berlangsung pihak dari Leri dan Leni  sudah berkumpul di rumah Leni, amakaka atau juru bicara pun membuka pembicaran dengan menyandungkan syair dalam bahasa lamaholot.

 “Nana opulake kame sampe saing nepi puken kiring tou tite mete mariro pedela ropong kebarek ra suka wekina kame beto tokun tuak, leta man te nana mio ama opu, peten doana ti sampe saing kame gehing dihala  nadon diwati mian kame guruk manuk lok mao ki manuk betona moa na  gano be kodaket.”

Syair lamaholot ini menjelaskan bahwa  kedatangan mereka  hari itu karena hubungan yang  dijalani  kedua anak  mereka yang  saling mencintai dan ingin menikah.   Sekian lama mereka sudah berjanji untuk saling bersama dalam hidup. Leri sudah menyampaikan kepada bapak dan saudaranya  Leni  juga sudah menyampaikan kepada bapak dan saudaranya.  Jadi , kedatangan  mereka  itu  untuk menyampaikan suatu hal .  Hal itu  adalah  pembicaraan  yang sedang  mereka bicarakan bersama  tadi bahwa   Leri dan Leni ingin menikah. Mereka meminta dengan kiasan bahwa mereka ingin lahan kepada paman  untuk berkebun. Bapa, dan saudara-saudara sudah ingat sehingga sudah datang.  Pihak  Leni pun menjawab bahwa mereka tidak  menolak tetapi mereka belum memberi jawaban hari itu tunggu sampai mereka memanggil ayam dan memberi makan kalau ayam datang dan makan makanannya baru kita bicarakan lebih lanjut secara kekeluargaan.

Setelah  syair selesai di ucapkan pihak Leri yang diwakili oleh Amakaka langsung memberitahukan maksud kedatangan mereka  kepada keluarga Leni bahwa Leri ingin menikahi Leni. Mendengar itu pihak Leni langsung menjawab.

“Kalau Leri ingin menikahi Leni, maka ia harus memberikan belis  bala watek lema  atau gading berukuran lima  sarung kain adat.”

 Setelah mendengar itu  pihak dari keluarga Leri merasa terlalu banyak dan ukuran itu terlalu besar juga mahal apalagi Leri juga seorang anak yatim ia hanya mempunyai satu orangtua mama orang yang saat ini menjadi dua peran dalam keluarga. Melihat ini Leri memutuskan akan bekerja dan berusaha untuk mendapatkan belis yang telah ditentukan.

Leri pun bekerja, ia bekerja sebagai tukang kayu setiap hari ia bekerja tanpa mengenal lelah dari kerja kerasnya itu ia mengumpulkan uang untuk  membeli gading. Setelah selesai bekerja ia duduk termenung sendiri dalam pikirannya ia berkata hidup bahagia itu adalah impian semua orang tapi proses untuk membentuk setiap orang menjadi lebih baik dan menciptakan kebahagian itu berbeda-beda, dan semua masalah dan lelahnya hilang, melihat ada orang yang akan  berada disampingnya dan menghadapi masalah bersama-sama.

Tiga tahun berlalu akhirnya semua yang diharapkan dan diinginkan tercapai dari hasil kerja kerasnya ia dapat membeli gading untuk diberikan kepada Leni sebagai belis. Leri pun mengumpulkan keluarganya untuk membicarakan proses selanjutnya yaitu te’tek bang acara ini adalah untuk mengantar  belis berupa gading dan seekor kambing bersama Leri yang mau menikah ke rumah keluarga Leni. Setelah dari acara itu dilakukan resepsi pernikahan.

Selesai dari resepsi pernikahan semua suku dari pihak Leni berkumpul kembali untuk melihat kado atau hadiah dari nana opulake semua kemudian dilakukan nawo ana bareken, acara ini untuk mengantar Leni yang telah menikah ke rumah atau keluarga Leri, karena bagi perempuan Lamaholot yang sudah menikah wajib dan harus mengikuti suami. Acara nawo ana bareken  dilaksanakan untuk mengantar anak perempuan  kembali di pimpin oleh petua adat dan langsung mengumandangkan syair Lamaholot.

Opu ana titen ropong no barek, leron nepi lake hala dilakena kepi, hari nepi wae hala diwaena kepi mang hode geletengen weeli opukem kayu puken wai matan ra lou bao letu lepan pi leron pi barek nai no agama, suku ekanen pao passin jaga garihan ti pusen tika kiwan rae wuan bage watan lau pusung neng keko reo wuan hang baka likat.”

Syair  Lamaholot itu  menjelaskan bahwa  saudaraku sekalian, mengenai  kedua anak kita ini  mereka telah  menikah  dan  semua orang sudah tahu bahwa Leri  sudah menjadi orangtua dan mempunyai rumah tangga serta  keluarga baru.  Hari ini semua orang sudah tahu bahwa anak  kita Leni sudah menjadi orangtua dan mempunyai rumah tangga serta keluarga baru. Seluruh penjuru kampung dari gunung sampai ke pesisir telah mendengar dan melihatnya. Kami sudah ingat dan berpikir jauh kami membawa seekor kambing dan  mas kawin pasangan dari kambing untuk meminta restu dari paman  atau om kandung dari Leni agar om kandungnya memberikan restu, menghapus kesalahan kemanakannya dan mendoakan dalam keluarga baru. Hari ini, Leni   meninggalkan keluarga besarnya  serta  membangun rumah tangga dan keluarga baru.  Jadi diharapkan agar keduanya  bisa memelihara, menjaga dan merawat dalam keluarga barunya  berkembang biak sampai ke pelosok dari gunung sampai pesisir pantai keturunannya menyebar dari gunung sampai ke pesisir pantai.

Acara ini di tutup dengan  memercikan air yang dicampur dengan sejenis tanaman atau rumput yang namanya keru baki, acara ini diberikan agar semua warga kedua belah pihak mendapat kesejukan sehingga terhindar dari marah bahaya dengan berakhirnya prosesi pernikahan  Leri dan Leni, semua orang pun turut mendoakan mereka. Leri dan Leni pun berharap  hidupnya akan selalu diselimuti kebahagaian yang berlimpah.

Tradisi urusan kawin mawin, belis gading gajah  dan sarung adat telah di tentukan nenek moyang sejak turun-temurun yang  kokoh dan dipelihara oleh anak cucu sampai sekarang.

 

 

 

 

Karya : Susanti Kewa