Belajar dari Hati

Ari Susanti
Karya Ari Susanti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Maret 2016
Belajar dari Hati

Hai Sobat, kali ini saya ingin berbagi tentang cara menghargai hidup dengan berkaca pada hal sederhana yang lebih cenderung kita acuhkan.

?

Ada hal baru yang terpikir oleh saya. Tentang bagaimana menimbang kehidupan dengan hal remeh yang sering saya acuhkan. Saya lebih sering dan lebih asyik menimbang hal besar yang seakan benar-benar mempengaruhi semua lini hidup dan sering mengabaikan hal kecil yang sebenarnya akan lebih mendatangkan manfaat. Saat berada di singgasana mewah seakan dunia hanya tercipta untuk kebahagiaan semata.?
?
Saya perhatikan ikan-ikan hias di aquarium. Bak raja dan ratu di dalam istana. Mereka mendapatkan tempat yang luar biasa. Tapi apakah semua ikan beruntung? Tidak! Hanya beberapa ikan saja yang mendapatkan nasib baik dipungut oleh manusia kemudian dipelihara di dalam aquarium. Di sana mereka diberikan surga. Lihatlah aquarium yang berisi aneka hiasan luar biasa, berbagai hiasan koral, lampu, dan sebagainya. Coba kita tengok sejenak aquarium itu, bak istana raja yang begitu mewah. Dan ikan yang di dalamnya tentulah ikan-ikan indah yang ketika kita melihatnya pasti bergumam, "Ya wajar, ikannya cantik." Lantas jika itu adalah kita (manusia,red.) apakah seperti itu juga? Jika kita tidak seindah dan secantik ikan-ikan tadi, akankah ada seseorang yang memasukkan kita ke dalam aquarium yang indah? Kita harus cantik dan menarik untuk bisa membuat pemilik aquarium tertarik pada kita. Lalu bentuk kecantikan yang seperti apa? Apa saja yang bisa membuat kita lebih cantik. Ilmu, wajah, gaya, hati, atau apapun yang kita miliki bisa kita jadikan icon kecantikan kita. Bukankah cantik itu relatif? Tidak ada penetapan standar kecantikan di dunia ini. Coba perhatikan setiap aquarium yang Anda temukan. Bukankah ikan di dalamnya tidak sama melulu? Itu tergantung dari selera pemiliknya bukan? Bisa saja ikan yang Anda rasa buruk dan tidak menarik justru adalah ikan yang dianggap paling berharga oleh pemiliknya. Ya itulah?rasa selalu relatif.
?
Jika kita berbicara tentang nasib ikan yang lain (lele,red.), salah satu ikan yang dagingnya saya gemari. Sepintas, tidak ada yang menarik darinya. Tapi coba kita sentuh hati kita untuk memperhatikan hal-hal remeh dari lele yang justru memberikan banyak manfaat untuk kita.?
?
Daging lele sangat enak, tentunya bagi penggemarnya saja termasuk saya. Jika membeli penyetan (makanan dengan sayur, tempe tahu, ikan dengan sambal terasi tomat), kita bisa mendaptkan lele besar atau lele dengan ukuran kecil yang dagingnya tipis dan besar kepalanya saja. Itu cukup menandakan bahwa lele dengan ukuran kecil hingga besar sudah bisa dijadikan lauk oleh manusia. Berapa lama lele hidup di dunia ini? Sangat singkat bukan usianya? Tapi lele mendatangkan kemanfaatan luar biasa. Tanpa lele, orang-orang seperti saya yang menjadi penggemarnya tidak akan pernah tahu bahwa dengan memakannya dapat menjadikan ketagihan dan ingin memakannya lagi. Betapa besar? jasa lele untuk manusia. Dia tidak pernah mengetahui hal itu meski ketika usia belum mencukupi, ia telah dipisahkan dari keluarganya. Bukankah kita tidak tahu bagaimana perasaan lele ketika terpisah dengan orang-orang yang dia sayangi. Ya mungkin lele juga tidak punya perasaan dan hati yang bisa menimbang hal-hal yang dialami. Tapi untunglah juga, lele tidak pernah protes dengan takdirnya sehingga sampai saat ini kita bisa merasakan lezatnya daging lele.? Adakah manusia yang mau melakoni hidup seperti lele? Hidup sebentar, terpisah dari keluarga kemudian mati secara elegant untuk kemanfaatan yang lain? Syahid bukan? Tapi jika takdir seperti itu bisa diubah kemudian kita tiba-tiba berubah menjadi lele (seandainya, red) maka saya dan mungkin Anda tentu tidak akan mau. Dan tetap beruntunglah kita karena kita adalah manusia, kita yang memakan lele dan kita tidak menjadi lele.
?
Sekarang pertanyaannya, ?Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan??
Semoga kita tidak menjadi bagian orang-orang yang kufur.

  • view 97