cinta terhalang gading

susanatheresia nole
Karya susanatheresia nole Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Januari 2018
cinta terhalang gading

                                                                       CINTA TERHALANG GADING

         Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri bersama seorang putri yang cantik dan rajin, Putri ini bernama Nole. mereka tinggal di desa yang bernama Bakalerek .Desa itu tidak jauh dari kota. Kehidupan mereka didalam keluarga selalu dihiasi dengan canda tawa dan penuh dengan kesederhanaan. Desa ini juga sangat berpegang teguh pada adat istiadat.

          Pagi yang cerah,  matahari tampak bersinar dengan terang,waktu sudah menunjukan pukul 07.00, namun dikamar tidur Nole masih terbaring.

 “Nole…………,bangun Ina, sudah siang,” seru ibunya yang sedang menyiram bunga didekat jendela kamar.

 “Iya Ema, Nole sudah bangun,” sahut Nole yang sedang membereskan tempat tidur.

Nole kemudian cepat-cepat mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Nolepun bergegas mengenakan seragam sekolah, dilanjutkan dengan mempersiapkan buku-buku pelajaran dan catatan serta alat tulis yang harus dibawah. setelah selesai barulah Nole keluar dari kamar untuk sarapan pagi. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul 07.30 berarti waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi. Nole begitu tergesa- gesa memanggil ayahnya untuk mengantarnya kesekolah. sebelum berangkat Ia memberi salam  kepada ibunya.

 “ Ema, Nole jalan dulu” seru Nole.

“Hati- hati Ina!”

“ iya Ema,” jawab Nole.

Dengan diiringi tatapan mata penuh kasih sayang ibu, Nolepun meninggalkan rumah dan berangkat ke sekolah.

        Bel tanda waktu istirahat berbunyi, begitu guru meninggalkan ruang kelas para siswapun saling berebutan untuk lebih dulu keluar dari ruangan kelas. Ada yang langsung menuju kekantin ,keperpustakaan, dan ada yang sekedar duduk- duduk di teras depan kelas, namun kebanyakan para siswa memanfaatkan jam istirahatnya dengan langsung menyerbu kekantin. Nole yang biasanya terlebih dahulu keluar dari ruangan kelas, kali ini dia justru malah memilih untuk tetap berada dalam kelas, menunggu sampai teman- teman kelasnya keluar.

“Nole kita keluar dulu ka!” ajak Simon.

Engko lebih dulu saja, saya ada keperluan sebentar”

“keperluan apa maka?” tanya Simon.

Engko mau tau saja, sudah engko duluan ke kantin saja, nanti saya ikut!.”

“Ok, kalau begitu.” Simon kemudian berangkat ke kantin.

      Sepulangnya dari kantin, Simon membawakan dua buah kue bolo untuk Nole. Entah mengapa, perasaan Simon jadi tak menentu setiap kali bertemu Nole.  Hari demi hari. Simon kemudian mengutarakan isi hatinya. Tetapi ia tidak berani mengungkapkan. Di sisi lain Nole sebenarnya juga suka pada Simon. namun sebagai seorang perempuan, Nole berusaha menahan diri.

       Bel tanda waktu berakhirnya pelajaran berbunyi, begitu guru keluar meninggalkan ruang kelas, para siswa saling berebutan untuk segera keluar dari ruang kelas. Saat itu, dengan perasaan yang tak menentu, Simon kemudian memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati, kalau ia suka pada Nole. Nole tidak langsung mengiyakannya.  Sore itu,di dalam kamar tidur, Nole tampak termenung, ingatannya kembali melayang pada kata- kata Simon. Hari demi hari hubungan persahabatan Simon dan Nole semakin akrab.  Sekian lama Simon menunggu jawaban dari Nole.

         Hari itu, tanggal satu Desember tepatnya hari Selasa, jam tujuh malam, Nole menerima Simon sebagai pacarnya. Mereka menjalani hubungan cinta dengan tulus dan sederhana. Ketika mereka tamat sekolah, mereka berdua tidak memikirkan untuk melanjutkan studinya keperguruan tinggi. Mereka berdua memutuskan untuk menikah.

        Simon lalu membawa Nole dan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya, bahwa Nole adalah calon istrinya. Orang tua Simon pun setuju atas hubungan mereka berdua. Mereka berdua kembali dan Nole pun memperkenalkan Simon di depan kedua orang tuanya sebagai calon suami.

 “Kenapa kalian berdua memutuskan secepat ini untuk menikah?  Padahal saya masih sanggup untuk membiayai anak saya!” kata Bapak Nole.

Nole menunduk, terdiam seribu bahasa, Simonlah yang menjawab pertanyaan dari ayah Nole.

       ” karena saya cinta sama Nole, dan saya siap menjaminnya.” jawab Simon

Setelah Simon menjawab pertanyaan, ayah Nole semakin tinggi amarahnya.

“Nole, apakah kamu mau menikah dengan lelaki ini?” tanya ayah Nole.

“iya bapa,” jawab Nole.

“Baik, kalau begitu kami akan merestui hubungan kalian berdua.”

“Terima kasih Bapa, atas restunya.” jawab Simon dan Nole.

Simonpun pamit kapada kedua orangtuanya dan kembali kerumah. Ia langsung menyampaikan kabar gembira ini kepada kedua orang tua, bahwa orang tua dari Nole sudah merestui hubungan mereka.

         Hari demi hari, bulan demi bulan, tahunpun silih berganti. Perasaan Simon selalu dihiasi dengan kegembiraan. Akhirnya Simon dan kedua orang tua beserta keluarga memutuskan pergi kerumah Nole untuk meminang. Keluarga Nole dengan senang hati menyambut kedatangan Simon beserta keluarganya. Mereka kemudian mulai membicarakan belis yang harus di bayar.

“Menurut adat dan budaya kami, setiap laki- laki yang mengambil anak perempuan dari kami, harus menyiapkan gading sebagai belisnya. Karena belis ini dipandang sebagai tradisi yang memiliki nilai luhur dan bentuk penghargaan terhadap perempuan,” kata juru bicara keluarga Nole.

Mendengar pembicaraan dari keluarga Nole, mereka terdiam sejenak..

“Apakah belis yang berupa gading ini,bisa  di tukar dengan uang?” tanya keluarga Simon.

”Tidak bisa bapak, ini tradisi kami yang sudah menjadi turun temurun.” Jawab keluarga Nole.

 Mendengar perkataan itu hati Simon luluh lantak bagai diterjang ombak. Keluarganyapun diam dan tidak bisa menjawab sepatah katapun. Nolepun demikian.  Terdiam dan hanya air mata yang jatuh membasahi pipi, keluarga Simon lalu berpamitan dan kembali ke rumah.

            Hari demi hari hubungan Simon dan Nole tidak seperti yang dulu. Kurang lebih dua tahun, Simon tidak berkunjung ke rumah Nole,  Nolepun demikian. Hati Nole semakin sedih bagaikan tergores pisau.  Pagi itu, entah mengapa hati Nole bergetar tak menentu. Ketika membuka jendela kamar,tampak selembar kertas putih yang disisip pada jendela kamar. Dengan perasaan yang tak karuan, Nole mengambil kertas itu,dan langsung membaca isi surat dari Simon.

      Untuk Nole tersayang

            Saya minta maaf, jujur saya sangat mencintai engkau. Tapi karna adat kita yang berbeda, maka saya memilih untuk meninggalkan engkau, karena orang tua dan keluarga tidak sanggup untuk membayar belis. Maafkan saya.                                                                                                                              

                                                                                                                                  Dari Simon

Perasaan sedih dan kecewa muncul di hati Nole. Surat yang dibaca tidak sampai selesai,   langsung disobek. Lima menit kemudian ia kembali mengumpulkan surat yang telah di sobek tadi lalu melanjutkan membaca. Dengan perasaan sedih ia terpaksa menerima kenyataan yang ada, ia berpikir dalam hati bahwa Cinta tidak selamanya  memiliki. Akhirnya hubungan mereka berdua pun terpisah tanpa ada akhir bahagia.

  • view 37