Cinta Terhalang Gading

Cinta Terhalang Gading

Susana Uda
Karya Susana Uda Kategori Budaya
dipublikasikan 26 Januari 2018
Cinta Terhalang Gading

TEKS DRAMA

CINTA TERHALANG GADING

 

         ( Pagi yang cerah,  matahari tampak bersinar dengan terang,waktu sudah menunjukan pukul 07.00, namun dikamar tidur Nole masih terbaring).

Mama Nole :  Nole…………,bangun Ina, sudah siang.

Nole :  Iya Ema, Nole sudah bangun.

         ( waktu sudah menunjukan pukul 07.30 berarti waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi. Nole begitu tergesa- gesa memanggil ayahnya untuk mengantarnya kesekolah. sebelum berangkat Ia memberi salam  kepada ibunya).

Nole :   Ema, Nole jalan dulu.

Mama Nole : Hati- hati Ina!

Nole :  iya Ema.

        (Bel tanda waktu istirahat berbunyi, begitu guru meninggalkan ruang kelas para siswapun saling berebutan untuk lebih dulu keluar dari ruangan kelas. Ada yang langsung menuju kekantin ,keperpustakaan, dan ada yang sekedar duduk- duduk di teras depan kelas, namun kebanyakan para siswa memanfaatkan jam istirahatnya dengan langsung menyerbu kekantin. Nole yang biasanya terlebih dahulu keluar dari ruangan kelas, kali ini dia justru malah memilih untuk tetap berada dalam kelas, menunggu sampai teman- teman kelasnya keluar).

Simon : Nole kita keluar dulu ka!

Nole : Engko lebih dulu saja, saya ada keperluan sebentar

Simon : keperluan apa maka?

Nole : Engko mau tau saja, sudah engko duluan ke kantin saja, nanti saya ikut!.

Simon : ehhhh biar kita dua sama- sama jalan ka!

Nole :  tida le, engko duluan saja!

Simon : ehhhh Nole, engko tida mau jalan dengan saya ka?

Nole :  biar engko duluan saja le.

Simon : Ok, kalau begitu.

        ( Hari itu, tanggal satu Desember tepatnya hari Selasa, jam tujuh malam, Nole menerima Simon sebagai pacarnya. Mereka menjalani hubungan cinta dengan tulus dan sederhana. Ketika mereka tamat sekolah, mereka berdua tidak memikirkan untuk melanjutkan studinya keperguruan tinggi. Tanpa berpikir panjang lagi Mereka berdua lalu memutuskan untuk menikah ).

Simon :  Nole kita dua pu hubungan ni sudah lama sekali, bagaimana kalau kita dua menikah, engko mau tida ?

Nole :  iya saya mau, tapi engko harus kasi kenal di keluarga dulu !

Simon :  ok, terima kasih Nole sayang!

Nole :  iya sayang sama- sama!

                ( Simon lalu membawa Nole dan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya, bahwa Nole adalah calon istrinya. Orang tua Simon pun setuju atas hubungan mereka berdua. Mereka berdua kembali dan Nole pun memperkenalkan Simon di depan kedua orang tuanya sebagai calon suami).

Bapak Nole :  Kenapa kalian berdua memutuskan secepat ini untuk menikah?  Padahal saya masih sanggup untuk membiayai anak saya!

(Nole menunduk, terdiam seribu bahasa, Simonlah yang menjawab pertanyaan dari ayah Nole).

       Simon :    karena saya cinta sama Nole, dan saya siap menjaminnya.

(Setelah Simon menjawab pertanyaan, ayah Nole semakin tinggi amarahnya).

Bapak Nole : Nole, apakah kamu mau menikah dengan lelaki ini?   

Nole : iya bapa,

Ibu Nole :  kenapa engko punya pikiran sampe begitu ? padahal engko ni baru tamat sekolah

Nole :  karena saya sayang sekali dengan dia ema, saya tidak bisa pisah dari dia !

Ibu Nole :  ema bukannya larang engko untuk menikah, tapi engko punya mau begitu jadi ema setuju, engko jalani saja dengan dia!

Bapak Nole  : Baik, kalau begitu Bapa dan Ema   merestui hubungan kalian berdua.

Simon dan Nole : Terima kasih Bapa, atas restunya.

        ( Hari demi hari, bulan demi bulan, tahunpun silih berganti. Perasaan Simon selalu dihiasi dengan kegembiraan. Akhirnya Simon dan kedua orang tua beserta keluarga memutuskan pergi kerumah Nole untuk meminang. Keluarga Nole dengan senang hati menyambut kedatangan Simon beserta keluarganya. Mereka kemudian mulai membicarakan belis yang harus di bayar).

Juru bicara keluarga Nole : Menurut adat dan budaya kami, setiap laki- laki yang mengambil anak perempuan dari kami, harus menyiapkan gading sebagai belisnya. Karena belis ini dipandang sebagai tradisi yang memiliki nilai luhur dan bentuk penghargaan terhadap perempuan,

(Mendengar pembicaraan dari keluarga Nole, mereka terdiam sejenak)..

Keluarga Simon : Apakah belis yang berupa gading ini,bisa  di tukar dengan uang?

Keluarga Nole : Tidak bisa bapak, ini tradisi kami yang sudah menjadi turun temurun.

Keluarga Simon : bagaimana kalau bapak bisa memberikan kami sedikit waktu, sehingga kami bisa mencari jalan keluar untuk memenuhi persyaratan yang disampaikan tadi?

Keluarga Nole : iya bisa bapak

Keluarga Simon : kalau begitu  waktunya sampai kapan!

Keluarga Nole :  waktunya kami beri  dua tahun!

Keluarga Simon: lebih dari dua tahun bisah tidak bapak!

Keluarga Nole :  tidak bisa bapak !

Keluarga Simon :  baik, kalau begitu nanti kami usahakan, terima kasih sebelumya Bapak !

Keluarga Nole : iya sama- sama!

 

           ( Hari demi hari hubungan Simon dan Nole tidak seperti yang dulu. Kurang lebih dua tahun, Simon tidak berkunjung ke rumah Nole,  Nolepun demikian. Hati Nole semakin sedih bagaikan tergores pisau.  Pagi itu, entah mengapa hati Nole bergetar tak menentu. Ketika membuka jendela kamar,tampak selembar kertas putih yang disisip pada jendela kamar. Dengan perasaan yang tak karuan, Nole mengambil kertas itu,dan langsung membaca isi surat dari Simon).

 

 

 

 

     

 

 Untuk Nole tersayang

 

            Saya minta maaf, jujur saya sangat mencintai engkau. Tapi karna adat kita yang berbeda, maka saya memilih untuk meninggalkan engkau, karena orang tua dan keluarga tidak sanggup untuk membayar belis. Maafksan saya.                                                                                                                              

                                                                                                                                  Dari Simon

Perasaan sedih dan kecewa muncul di hati Nole. Surat yang dibaca tidak sampai selesai,   langsung disobek. Lima menit kemudian ia kembali mengumpulkan surat yang telah di sobek tadi lalu melanjutkan membaca. Dengan perasaan sedih ia terpaksa menerima kenyataan yang ada, ia berpikir dalam hati bahwa Cinta tidak selamanya  memiliki. Akhirnya hubungan mereka berdua pun terpisah tanpa ada akhir bahagia.

  • view 88