Kota Ini Telah Berhenti Mengingatmu

Suryawan WP
Karya Suryawan WP Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 April 2017
Kota Ini Telah Berhenti Mengingatmu

Kota Ini Telah Berhenti Mengingatmu

Oleh: Suryawan W.P

“Kenapa kamu tega sama saya?”

Sebuah pertanyaan terlontar. Suara seseorang yang familiar kudengar. Tak cuma menggetarkan sensor pendengaranku tapi gelombang suara itu cepat merambat menuju ke jantungku. Efek kejutnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak seketika. Napasku terasa sesak. Aku yang sedari tadi menekuri layar telepon genggam pun mau tak mau mengangkat wajahku. Aku butuh menarik napas panjang. Sekaligus aku perlu memastikan siapa pemilik suara itu.

Sejak bangun tidur, dalam perjalananku di taksi, hingga sekarang sesampainya di bandara, terus saja aku mengecek profil facebook seseorang. Memandangi foto-foto kiriman dari teman-temannya. Ingin rasanya aku menuliskan komentar dan memberikan ucapan selamat seperti orang-orang yang lain, tapi urung kulakukan.

Kurang dari dua puluh empat jam aku sudah berada di tempat ini lagi, di bandara Adi Sucipto. Untuk ukuran internasional dengan padatnya jalur penerbangan, bandara ini terlalu kecil. Pernah suatu kali aku harus berputar-putar di udara selama hampir satu jam hanya untuk menunggu pesawatku mendapat tempat untuk mendarat. Kuharap sebentar lagi Jogja punya bandara baru yang lebih memadai agar kunjunganku ke Jogja tak akan terganggu lagi. Tapi apa iya aku akan sering datang lagi ke kota ini? Aku tersenyum getir sendiri. Aku sudah tak punya alasan untuk sering datang kemari.

Kota ini telah banyak berubah. Aku sempat kebingungan saat menyusuri jalanan kota yang padat dengan mengendarai motor matic yang kusewa dari hostelku di daerah Prawirotaman. Beberapa jalan yang dulunya dua arah kini dibuat menjadi satu arah. Belum lagi dengan banyaknya hotel-hotel besar di kanan-kirinya. Aku  tak heran karena Jogja memang dikenal sebagai kota wisata. Orang-orang akan selalu datang berlibur ke sini. Menikmati pasir putih di pantai kawasan Gunung Kidul, menyaksikan matahari terbit dengan latar candi Borobudur di Punthuk Setumbu, menyusuri sejarah masa lalu di museum Ullen Sentalu, Keraton, dan Candi. Semua bisa didapat saat berlibur ke kota gudeg ini. Rasanya satu hari tak akan cukup. Namun kenyataannya waktuku tak banyak. Kurang dari sehari dan aku harus kembali ke Jakarta. Aku memang datang ke Jogja bukan untuk berlibur. Aku ke Jogja untuk memenuhi undangan seseorang.

Semestinya begitu sampai area kampus, kuparkirkan motorku kemudian langsung turun dan berjalan menuju gedung Grha Sabha UGM, namun tidak kulakukan. Aku mengendarai motorku menjauhi gedung resepsi sementara tamu-tamu undangan lainnya mulai berdatangan. Dengan masih mengenakan kemeja batik sogan lengan panjang ini kuputuskan untuk menyusuri kota Jogja. Malam ini aku ingin bernostalgia, ucapku dalam hati.

Gerimis mulai turun. Kurasakan air hujan menembus pakaianku dan membasahi dadaku. Aku tak peduli.  Januari memang selalu seperti ini. Januari. Hujan setiap hari. Aku masih ingat, di suatu malam di bulan Januari pernah berboncengan dengan seseorang menyusuri jalanan Jogja. Kami nekat berbasah-basahan meski tidak memakai jas hujan. Kaca helm yang buram membuatku menaikkan kacanya agar tak menghalangi pandangan. Namun sepertinya sekrup di kanan-kirinya sudah longgar, sehingga tiap kali melewati polisi tidur, kaca helmku akan turun dengan sendirinya. Dan sialnya jalanan di sekitar stasiun Lempuyangan itu banyak polisi tidurnya. Tiap kali kaca helm itu turun, tiap kali itu juga kami tertawa bersama.

Hujan yang semakin deras memaksa kami berteduh di sebuah angkringan. Sayangnya kemarin saat aku melewati jalan yang sama, angkringan itu sudah tidak ada. Telah berdiri sebuah hotel besar di sana. Seketika aku merasakan rindu, pada Jogja yang dulu. Jogja yang sederhana. Namun bagaimanapun juga, perubahan adalah sebuah kepastian. Seiring berjalannya waktu, dunia akan berubah.  Kota-kota berubah. Jalan-jalan berubah. Manusia pun bisa berubah. Rasa rindu pada seseorang tiba-tiba muncul. Jalan-jalan bisa saja berubah, tapi kenangan akan selalu sama.

Sebuah undangan elektronik yang dikaitkan ke akun facebookku yang membuatku sampai di Jogja kemarin. Seseorang itu tentu punya alasan kenapa tidak mengirimkan undangan itu secara langsung. Lima tahun yang lalu aku mengganti nomor handphoneku dan sengaja tak mengabarinya. Facebook adalah satu-satunya yang tersisa meskipun aku juga tak terlalu aktif menggunakannya. Belasan kali dia mengirimkan pesan pribadi. Aku tak pernah membalasnya. Hingga akhirnya sebulan yang lalu, sebuah notifikasi kuterima. Seorang itu mengirimkan sebuah undangan di akun facebookku. Akhirnya, aku tersenyum lega.

Seseorang itu adalah kamu, yang dulu hampir tiap sebulan sekali menjadi alasanku berkujung ke kota ini. Jarak dan keadaan yang memaksaku agar pintar-pintar membagi waktu, membagi perhatian, membagi kasih sayang. Membagi perasaan.

Selama beberapa tahun, kunjungan ke Jogja selalu dimulai dengan sebuah kebohongan. Ada urusan pekerjaan yang sering kujadikan alasan. Walau terkadang aku tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang sedang melakukan perjalanan dinas ke Jogja. Hanya saja itu bukan tujuanku satu-satunya. Kamu, adalah tujuan utamaku.

Meski begitu, aku tahu kalau kedatanganku ke Jogja sebulan sekali tidaklah cukup untukmu. Masih ada yang kurang. Kau menginginkan lebih dariku. Dalam diammu, dalam kepasrahanmu, kau memintaku untuk memilih. Aku bukannya tak mampu menangkap isyaratmu. Aku bisa. Aku hanya pura-pura tidak tahu. Yang tak bisa kulakukan adalah memilih antara kamu atau istriku.

“Mau sampai kapan?”

Mau sampai kapan? Sebuah pertanyaan yang kerap menjadi pemicu pertengkaran? Emosiku sering terusik tiap kali pertanyaan itu keluar. Hanya karena sebuah pertanyaan yang sesingkat itu, harga diriku sebagai laki-laki seolah terjun bebas ke jurang paling dasar. Pertanyaan sederhana yang aku tak pernah bisa memberikan jawabannya.

Bukan salahmu kalau kau menyimpan harapan terlalu besar. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan. Jalan yang kita tempuh tak melulu lurus dan mulus. Sering kali kita harus melewati jalanan berbatu, berkelok, tanjakan terjal, hingga turunan curam. Tak hanya sekali dua kali kau bilang ingin menyerah. Kau ingin mengakhiri semuanya. Namun aku selalu bisa meyakinkanmu kembali.

“Tenanglah. Semua akan lebih baik di depan sana.” kataku sambil menggenggam tanganmu. Memelukmu. Menghapus air mata yang menetes di pipimu.

Seperti layang-layang, kuterbangkan harapanmu sangat tinggi. Terlalu tinggi. Dengan mantap kukatakan, akan selalu ada jalan untuk kita. Aku bohong. Dari awal jalan yang kita pilih ini sudah salah. Mau diteruskan sampai kapanpun, sampai seberapa jauhpun, hanya akan sampai pada tujuan yang salah. Satu-satunya jalan agar tak semakin tersesat, kita harus berbelok atau sekalian berputar arah. Barangkali kau adalah seseorang yang paling tabah yang kukenal. Itulah membuatku terlalu sayang untuk melepaskanmu.

“Papa kapan pulang?” Wajah seorang gadis kecil terpampang di layar telepon genggamku sebelum keberangkatanku ke bandara tadi pagi.

“Ini lagi mau pulang. Sebentar lagi ke bandara. Terus naik pesawat buat pulang ke rumah. Tunggu ya.” Balasku sambil mengakhiri percakapan dengan sebuah ciuman imajiner.

Lima tahun yang lalu, ketika malaikat kecil itu terlahir di dunia, segalanya berubah. Keegoisanku meluruh. Aku tak bisa membayangkan jika gadis kecilku harus memiliki nasib yang sama sepertimu. Aku tak punya pilihan lain selain melepaskan ikatan itu. Aku bisa membayangkan bagaimana limbungnya dirimu. Sebuah layang-layang yang diterbangkan tinggi, tiba-tiba saja dilepaskan benangnya. Sudah pasti kau akan jatuh melayang-layang tak tentu arah. Jatuh dan jauh.

Sekarang aku sudah lega. Kau telah menikah. Kau telah memiliki kehidupan yang baru. Aku bahagia untukmu. Biarlah kini yang tersisa hanyalah aku dengan secuil ingatan tentangmu. Bahkan kota ini saja tak punya ruang lagi untuk menyimpan kenangan kita. Kota ini telah berubah. Kota ini telah berhenti mengingat kita. Kota ini telah berhenti mengingatku. Kota ini telah berhenti mengingatmu.

Namun siapa yang akan menyangka, seseorang yang baru menikah ini kini berada di tempat yang sama denganku. Sepertinya semesta ini sedang berkonspirasi. Kau berdiri tepat di hadapanku. Barangkali hendak langsung melanjutkan untuk bulan madu setelah kemarin resepsi pernikahanmu. Entahlah.

Lima tahun tak bertemu. Ingin rasanya aku bangkit kemudian memeluknya erat. Sangat erat. Kalau soal rindu, tentu saja aku rindu. Kalau soal kehilangan, aku juga merasakan kehilangan. Tapi aku harus bertahan.

 “Sekian lama ngilang. Enggak ada kabar. Dihubungi enggak bisa sama sekali. Sekarang tiba-tiba kamu ada di Jogja tapi kamu enggak mau nemuin saya. Bahkan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Kenapa kamu tega sama saya?”

Aku diam. Aku tak punya persiapan untuk mengatasi ini semua. Ingin rasanya kubilang padamu, kalau aku memang harus tega. Itu satu-satunya cara agar kamu membenciku. Agar kamu dengan ikhlas bisa melepasku. Namun, entah kenapa semua terasa berat. Lidahku kelu. Hanya dua kata yang sanggup keluar dari mulutku. Bersamaan dengan panggilan dari pengeras suara bahwa pesawatku akan segera berangkat.

“Maafkan saya..” kataku lirih. Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Kemudian aku berbalik untuk menuju terminal keberangkatan.

Sebelum aku sempat melangkah. Kudengar kau berseru dengan suaramu yang bergetar. Aku tak bisa melihat wajahmu. Tapi aku tahu ada beban yang coba kau lepaskan.

“Harusnya aku itu benci sama kamu! Tapi aku nggak pernah bisa..”

  • view 199