Tequila

Suryawan WP
Karya Suryawan WP Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2016
Tequila

Malam belum terlalu malam, namun perempuan itu sudah hampir hilang kesadaran. Sebuah gelas sloki kecil, sejumput garam, dan irisan jeruk nipis dengan bekas gigitan ada di atas mejanya.

Rasa-rasanya baru pertama kali aku mendapati pemandangan seperti ini. Seorang wanita dengan rambut yang dicepol ke belakang, mengenakan kebaya modern warna putih tulang, dan kain batik pesisiran sebagai bawahannya setinggi kurang lebih lima belas sentimeter di atas lutut, tengah duduk di atas kursi bar yang tinggi, menikmati tegukan pahit minuman asli Meksiko. Sesekali kepalanya yang berambut coklat tanah itu disandarkan pada tangannya yang menjepit sebatang rokok yang menyala.

Aku sudah menduga, dia pasti akan ada di sini. Di tempat yang remang namun bertebaran kerlap-kerlip lampu warna-warni ini kami biasa melakukan ritual pesta menghabiskan malam panjang. Ritual yang kami lakukan hampir lima tahun ini, namun kini tak akan pernah sama lagi.

Engineering murtad, begitu kami melabeli diri. Tiga orang yang harus susah payah untuk bisa diterima di fakultas teknik dan ternyata mesti bersusah payah juga untuk bisa keluar dari kampus sialan itu. Mungkin karena sudah eneg dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknik, akhirnya kami memilih pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan teknik sama sekali. Kami murtad dari perteknikan.

Varo, satu-satunya orang di antara kami bertiga yang menjalani siklus hidup normal. Profesinya sebagai bankir memaksanya untuk berangkat ke kantor pagi hari dan pulang menjelang petang. Bisa dipastikan saat Varo menyetir mobil dalam perjalanan menuju kantornya, kami masih terlelap di alam mimpi, kecuali saat Aline punya jadwal pemotretan di pagi hari. Aline selalu benci pemotretan di pagi hari yang memaksanya untuk bangun sedari subuh kemudian berkutat dengan alat rias dan tatanan rambut. Namun demikian, dunia model sudah menjadi hidup Aline yang sudah ditekuninya semenjak remaja.? Katanya tak ada alasan dia lahir di dunia kecuali untuk berjalan di atas catwalk dan menjadi sorotan lampu kamera.

Lima tahun sudah kebersamaan kami. Kedekatan ini dimulai ketika kami menjadi satu kelompok praktikum salah satu mata kuliah. Sejak saat itu kami selalu bersama baik di dalam maupun di luar kampus. Namun yang paling kentara tentu saja kedua temanku itu. Di mana ada Varo, di situ ada Aline.

Di jurusan kami yang didominasi makhluk berjakun, keberadaan betina selalu menjadi mangsa incaran para mahasiswa, tapi tidak demikian halnya dengan Aline. Seolah di dahi Aline sudah ada tulisan ?milik Varo?, yang membuat teman-teman kampusku yang ingin mendekatinya mundur dengan teratur.

Varo, bukanlah seorang yang menonjol untuk urusan akademis, namun wujud fisik dan ketampanan wajahnya yang jauh di atas rata-rata mahasiswa lainnya, membuatnya terkenal di kalangan mahasiswi bahkan sampai ke jurusan lain. Sering kudapati gerombolan mahasiswi dari jurusan lain yang numpang makan di kantin jurusanku hanya untuk melihat dan memperbincangkan sosok seorang Varo. Sorot matanya yang dalam dan pembawaannya yang tenang membuat orang-orang yang belum mengenalnya merasa sungkan.

Aku sendiri heran, bagaimana bisa dia bertahan bersama kami lima tahun ini. Karena Aline kurasa. Bagiku Varo tak ubahnya orang suci. Dalam tiap ritual pesta kami dengan sebotol tequila, sejumput garam, dan irisan jeruk nipis, belum pernah setetes pun yang disesap oleh bibirnya. Saat kami sibuk dengan ritual menjilat sudut antara jari telunjuk dan jempol, kemudian menaburinya dengan sedikit garam, lantas menjilatnya lagi, lalu langsung menenggak sesloki tequila yang dilanjutkan dengan menggigit irisan jeruk nipis, dia sibuk dengan air mineral atau terkadang minuman bersodanya. Bukan sekali dua kali kami seperti setan yang menggoda dan membujuknya untuk ikut minum, namun dia selalu mampu bertahan dengan prinsipnya.

?Kalau aku mabuk, siapa yang akan memastikan kalian pulang sampai ke rumah dengan selamat?? begitu selalu katanya.

Iya, aku hanya ingat sudah tergeletak di kasurku dengan selimut menutupi tubuhku tiap kali pesta kami usai, hal yang sama yang dialami Aline. Aku tidak pernah ingat bagaimana prosesnya dari kelab malam sampai ke ranjangku ini. Sudah pasti Varo harus bersusah payah memapah atau mungkin menggotong kami yang sudah hilang kesadaran sampai ke mobil. Mungkin dia akan minta bantuan petugas keamanan barangkali. Entahlah, aku tidak ingat sama sekali. Kemudian diantarlah kami sampai ke rumah, satu per satu. Selalu begitu.

Aroma kuat tequila menusuk hidungku. Aline melirik sebentar ke arahku ketika aku menghampirinya kemudian duduk di kursi sebelahnya. Matanya sembab. Selain botol dan gelas kecil di atas mejanya, ada selembar kertas warna merah bata, sebuah undangan resepsi yang baru saja kudatangi.

?Aku nggak bisa Yus. Untuk sekadar membuka undangan ini saja aku nggak sanggup, apalagi datang ke resepsinya.? Kemudian diteguk lagi segelas tequilanya. Langsung tandas. Tanpa sisa.

?Sudah Lin, kamu sudah mabuk..? kataku, namun sepertinya dia tidak mempedulikannya.

?Bagaimana pengantinnya? Cantik? Siapa namanya??

?Tiara..?

?Bagaimana dia? Cantik tidak?? suaranya agak meninggi.

?Cantik. Berkerudung.?

?Oh, berkerudung..?

?Cantik mana sama aku??

?Kamu Lin, tentu cantik kamu..? jawabku untuk menenangkannya.

?Tapi sayangnya, Varo tidak memilihku untuk menjadi istrinya. Dia lebih memilih wanita itu. Kenapa Yus? Kenapa??

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah memeluknya, meskipun aku tahu, bukan diriku yang diharapkan untuk menenangkannya, tapi Varo. Selama ini? Varo yang selalu hadir untuk menghapus gelisah dan kekalutannya.

?Kenapa Yus? Apa karena aku tidak berkerudung? Apa karena aku tukang mabuk? Karena aku merokok? Kenapa Yus? Kenapa?? Aline masih mencecarku dengan pertanyaan. Aku diam dan memeluknya semakin erat. Tangis Aline pecah dalam pelukanku. ?Kalau dia minta aku untuk berkerudung, berhenti minum atau pun merokok, akan aku lakukan apapun itu, demi dia, Yus. Tapi dia tidak pernah memintaku..? lanjutnya setengah berbisik, setengah terisak.

Kutepuk-tepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya. Aku masih tidak tahu harus menjawab apa. Yang aku tahu Aline begitu mencintai Varo, itu terlihat dari bahasa tubuh dan tatapan mata tiap kali mereka bersama. Kupikir demikian juga dengan Varo. Kadang aku iri melihatnya. Mereka begitu melengkapi. Aline yang ceria dan meletup-letup mejadi lebih tenang saat bersama Varo. Varo pun menjadi lebih hidup saat bersama Aline.

Aku ingat pernah suatu hari Varo rela pulang dan membatalkan liburannya di Bali hanya demi Aline. Saat itu Aline tiba-tiba sakit, dia terkena cacar air, dia memintaku untuk menghubungi Varo. Aku sudah berusaha meyakinkannya kalau aku sendiri bisa merawatnya, tapi dia tetap ingin Varo ada di dekatnya. Dan memang tak bisa disangkal, Varo merawatnya dengan sepenuh hati. Beberapa hari kemudian karena tak ada kabar, aku datang ke rumah Varo. Kudapati dia tergeletak lemah di ranjangnya, dahinya panas saat kuraba, tubuhnya bentol-bentol. Giliran dia yang terkena cacar air, dan dia tidak memberi tahu kami.

Aku kaget ketika undangan pesta pernikahan itu sampai di tanganku. hari ini Varo menikah, dan bukan Aline mempelai wanitanya.

?Aku titip Aline, Yus..? begitu yang dibisikkan Varo saat kusalami tadi.

?Sudahlah Yus, ayo kita minum lagi!? seru Aline beringsut dari pelukanku dan menuju kursinya lagi, sementara aku hanya menggeleng pelan. ?Kenapa Yus? Biasanya kita juga mabuk kan? Hah?? lanjutnya dengan nada yang meninggi namun lambat. Sesloki tequila terakhir sebelum akhirnya tumbang. Kali ini pahit saja yang disesapnya tanpa penawar, tanpa garam tanpa jeruk nipis.

Malam mulai larut, DJ sudah memainkan musiknya, orang-orang mulai berdesakan turun ke lantai, perempuan ini sudah terhuyung dan hilang kesadaran.

?Aku hanya ingin memastikan kamu pulang sampai ke rumah dengan selamat Lin..? bisikku sambil berusaha keluar melewati celah-celah orang yang berdesakan menari di tengah malam. Aku memapahnya menuju mobil.

?

?

Yogyakarta, Oktober 2013