Sepasang Mata Capung

Suryawan WP
Karya Suryawan WP Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Sepasang Mata Capung

Azan magrib telah bersahutan satu jam sebelumnya, tapi langit saat itu masih biru. Kalau bukan karenamu tentu aku tak akan menyadari. Kamu memang selalu peka dengan segala pertanda alam. Selama perjalanan ke stasiun Tugu, terus kaupandangi langit yang biru batu rubi. Kamu tersenyum. Seolah ada kabar baik yang diisyaratkan oleh birunya langit selepas senja itu.

?Apa yang kamu cemaskan? Lihatlah langit begitu cerah!? katamu ketika kita duduk di sebuah angkringan tak jauh dari stasiun sambil menunggu keretamu tiba. Aku hanya menggeleng pelan kemudian menyesap kopiku perlahan. ?Bulan depan aku pulang.? lanjutmu.

Kulempar pandangan ke jalanan, melihat kendaraan yang lalu lalang. Aku hanya sedang mengalihkan pandangan. Terus terang aku tidak kuat kalau harus berlama-lama menatap matamu yang besar seperti mata capung itu. Ada selidik dalam sorotnya. Entahlah, apakah kamu yang sedang berusaha membaca pikiran, atau kedua mataku ini yang tak pintar berbohong. Aku memang tidak sedang mencemaskan sesuatu, hanya saja aku memang benci perpisahan. Meskipun kaubilang cuma sebulan namun tetap saja aku harus menunggumu penuh pengharapan. Bukankah pada akhirnya harapan juga yang membawa pada kekecewaan?

Harusnya aku sudah terlatih untuk hal seperti ini. Bukan kali pertama aku mengalami. Tiga tahun. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Dan selama tiga tahun ini entah sudah berapa kali aku dikecewakan oleh keadaan. Jarak dua kota yang lebih dari 500km ini yang menjadi musuh besarku. Bukan itu saja, aku masih harus mengalah pada kesibukan kerjamu yang tak tentu. Sebulan lalu masih ada di padang Sumbawa, minggu ini sudah harus ke pedalaman hutan Jambi, dan entah minggu-minggu berikutnya kamu ada di mana, bisa jadi ke pesisir Labuhan Bajo, atau malah ke kota modern semacam Seoul. Pekerjaanmu memang menyebalkan.

Namun bagaimanapun juga, semenyebalkan-menyebalkannya pekerjaanmu, aku tetap harus berterima kasih karenanya. Kalau bukan karena liputanmu ke barak pengungsian empat tahun yang lalu mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi.

Aku masih ingat hari itu. Seorang teman sesama relawan menghampiriku yang sedang mendongeng di tengah kerumunan anak berusia sekolah dasar. Ada reporter dari Jakarta yang ingin bertemu, katanya.

Keluar dari aula kampus di daerah Ring Road Utara yang sudah berubah fungsi mejadi tempat tidur bagi ratusan orang, kudapati seorang laki-laki mengenakan jas hujan bersandar pada sebuah mobil dengan logo stasiun televisi. Hari itu memang hujan, tetapi bukan hujan air. Debu vulkanik telah membuat jas hujannya tak lagi berwarna biru. Selembar masker menutupi wajahnya, namun kedua mata itu tak gagal untuk kukenali. Sepasang mata capung itu milikmu.

Tadinya kujuluki mata capung karena kedua mata itu terlalu besar untuk wajahmu. Belakangan aku baru tahu, mata capung memiliki ribuan lensa yang membuatnya bisa melihat ke segala arah. Capung awas terhadap bahaya. Itulah sebabnya capung susah ditangkap meskipun dari belakang. Sama sepertimu. Kamu awas dengan segala bahaya.

Kau terus menatapku yang berjalan menujumu. Perasaanku tak menentu. Banyak pertanyaan melintas di pikiran. Apa yang akan kulakukan setelah ini? Apa yang akan kulakukan begitu sampai di hadapanmu? Perhatianmu teralihkan pada dua anak kecil yang berkejaran di selasar aula kampus. Mungkin kau juga sedang memikirkan hal yang sama denganku. Tidakkah kita seumuran mereka waktu itu?

Selasa Kliwon. Hari kedua puluh dua bulan September tahun sembilan puluh empat . Saat itu kita sama-sama duduk di bangku kelas empat. Kamu tiba-tiba menarik tanganku setelah kita keluar dari pagar sekolah dan berjalan menuju desa kita di atas bukit.

?Kamu dengar itu? Kamu dengar itu?!? tanyamu dengan wajah serius.

Aku menggeleng. Aku tidak mengerti dengan apa yang kaubicarakan. Aku berusaha melepaskan pegangan tanganmu, tapi kau mencengkeram semakin kuat. Mata capungmu awas memandang ke sekeliling.

?Udara panas. Daun-daun layu. Suara-suara hewan liar.? katamu, sedikit bergetar.

?Kenapa??

?Merapi akan meletus! Kita harus turun!? Kau menarik tanganku.

?Aku berontak. ?Bapak ibuku ada di rumah! Aku harus memberi tahu mereka!? teriakku sambil berlari ke atas. Kamu mengejarku. Dan harus kuakui alam telah melatihmu menjadi pelari yang hebat. Dengan sekali lompatan, tubuhmu sudah menghantamku. Kita sama-sama jatuh berguling di tanah.

?Tidak ada waktu! Kita harus turun!? Kedua matamu menatapku tajam. Seketika aku tak punya tenaga lagi untuk melawan.

Kau sigap menarik tanganku lalu membawaku turun menuju jalan aspal. Aku hanya bisa pasrah dan menangis ketika kulihat awan hitam bergumul-gumul di atas bukit. Dalam sekejap semuanya menjadi gelap. Udara terasa panas. Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang berlarian menuruni bukit. Semua berusaha menyelamatkan diri. Beberapa orang sampai jatuh terinjak-injak.

Sampai di sebuah pertigaan sudah ada beberapa mobil bak terbuka yang menunggu kita. Dalam perjalanan menuju barak pengungsian aku terus terisak. Begitupun beberapa anak kecil yang lain. Banyak yang menangis meraung-raung. Aku takut. Aku takut tak akan pernah lagi bisa bertemu dengan orang tuaku. Kamu memelukku. Tak henti-hentinya menepuk-nepuk punggungku. Berusaha meyakinkanku kalau keluargaku aman. Semua akan baik-baik saja, katamu.

Syukurlah. Ternyata apa yang kaukatakan benar adanya, di antara hiruk pikuk ratusan orang yang ada di barak pengungsian, setelah mencari satu per satu, kau berhasil menemukan kedua orang tuaku. Kamu tersenyum ketika mengantarkanku pada mereka. Itu adalah kali terakhir aku melihatmu.

Beberapa hari kemudian aku baru sadar kalau kau tak pernah terlihat di barak pengungsian. Kucari-cari keberadaanmu di antara wajah-wajah bocah pengungsi. Tapi tak kutemukan. Kemudian kudengar kabar kalau kau sudah dibawa seseorang ke Jakarta. Ibu, bapak, dan adikmu termasuk dalam enam puluhan orang yang tewas karena awan panas Merapi. Sejak saat itu aku kehilanganmu.

Dan, setelah enam belas tahun, tiba-tiba kamu sudah ada di hadapanku lagi. Tiba-tiba kutemukan lagi sepasang mata capung itu.

?Kamu apa kabar?? tanyamu tenang sambil mengulurkan tangan ketika aku tepat di hadapanmu.

Aku tak menjawab pertanyaanmu. Begitupun aku tak membalas uluran tanganmu. Jabat tangan tidaklah cukup. Aku butuh lebih dari itu. Kurengkuh tubuhmu. Memelukmu untuk kehilangan yang telah kualami selama enam belas tahun itu. Erat. Sangat erat. Aku tak peduli dengan abu di jas hujanmu yang berterbangan. Aku tak mau kehilanganmu lagi.

Tiga tahun sudah, hari-hariku adalah menanti kepulanganmu. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan istilah pulang. Bagimana bisa disebut pulang sedangkan kau sudah tidak punya rumah lagi di kotamu dulu. Dalam hati aku berharap agar bisa menggantikan rumahmu yang telah habis oleh amukan Merapi.? Aku ingin selalu menjadi rumah untukmu pulang. Aku ingin kaurindukan saat kaujauh di kota ataupun negeri orang. Satu hal yang aku tahu, aku selalu merindukanmu.

?Kamu mau ada urusan apa ke Jakarta??

Rindu. Urusan rindu. ?Seandainya rindu bisa menjadi jawaban atas pertanyaanmu di telepon waktu itu. Sayangnya kata rindu hanya berhenti sampai pangkal tenggorokanku. Aku tak punya nyali untuk mengucapkan kata yang sesingkat itu. Aku hanya diam.

?Kenapa mau ke Jakarta??

Ternyata diam saja tidak cukup. Kau terus mengejarku dengan pertanyaan. Aku tetap diam. Kita sama-sama diam.

?Jangan ke sini sekarang..? akhirnya kau yang kembali membuka percakapan. Mungkin kau tak tahan dengan keheningan. ?Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu..1)? lanjutmu.

Aku selalu gagal memahami bahasa tingkat tinggimu. Apa kau sedang berusaha merayuku dengan kata-kata kiasan, atau kau memang sedang membicarakan tentang perkiraan cuaca atau semacamnya, entahlah. Namun begitu, kamu tak pernah gagal untuk membuatku semakin jatuh di kedalaman hatimu.

?Kamu bercanda. Mana ada awan berbentuk wajah. Kalaupun iya, lantas kenapa??

?Itu pertanda..?

?Pertanda apa??

?Kumohon, batalkan keberangkatanmu.? Kau tetap tak menjawab pertanyaanku.

Begitu mudah kau memintaku membatalkan rencana kepergianku. Bukan hanya sebulan seperti yang kaujanjikan, kutunggu hingga bulan kedua, ketiga, sampai kelima kau tak juga pulang. Kau tidak pernah tahu seberapa menyiksanya rasa rindu ini, begitu juga kau tidak pernah tahu aku sudah merindukanmu sejak masih bisa melihat punggungmu yang semakin menjauh memasuki peron stasiun itu.

?Kenapa?? Kali ini aku yang mencecarmu dengan pertanyaan.

?Karena..? ada jeda dalam kalimatmu. Aku menunggu.

Kudengar kau menelan ludah, kemudian mengela napas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang bergetar. ?Aku takut terjadi sesuatu, dan tak akan bisa melihat wajahmu lagi..?

Ada hangat dan semburat merah di pipiku. Sudah pasti kau tidak bisa melihatnya. Tapi mungkin kau bisa merasakannya. Sudah kubilang kau manusia yang peka dengan pertanda. Barangkali di ujung telepon sana, kau bisa membaca desahan napas yang keluar dari hidungku. Iya, barangkali kau tahu aku tersenyum karena mendengar jawabanmu.

?Tenanglah aku akan baik-baik saja.? kucoba meyakinkanmu.

Kini, sampailah aku di sini. Memandang senja yang merah di langit ibukota. Sudah satu jam yang lalu pesawatku mendarat. Semestinya kau sudah menjemputku. Entah sudah berapa kali aku menghubungi telepon genggammu. Tak ada jawaban.

Setelah tiga jam menunggu, namamu berkedip-kedip di layar telepon genggamku. Tentu saja aku girang karenanya. Penantianku berakhir juga. Namun ternyata, bukan suaramu yang kudengar. Seseorang mengabarkan keadaanmu yang tak sadarkan diri di sebuah rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan dalam perjalanan menjemputku di bandara. Kakiku mendadak terasa lemas. Seekor capung yang entah datang dari mana terbang berputar-putar di hadapanku, kemudian hinggap di telapak tanganku, sebelum akhirnya terbang ke atas. Kali ini aku benar-benar cemas.

?

Yogyakarta, 9 Oktober 2014

  • Penggalan lirik lagu Firasat ciptaan Dewi Lestari

  • view 390