Apakah di Luar Hujan Sudah Reda?

Suryawan WP
Karya Suryawan WP Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juni 2016
Apakah di Luar Hujan Sudah Reda?

Apakah di Luar Hujan Sudah Reda?

Oleh: Suryawan W.P.

 

Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri lorong temaram berkarpet merah. Aku berhenti di depan kamar bernomor 205. Sesaat aku diam. Ada sedikit keraguan yang mengusik. Apakah kedatanganku ke mari adalah keputusan yang tepat? Bagaimana kalau ternyata salah? Apakah aku harus kembali? Tapi aku sudah sampai di sini.

Kuketuk pelan pintu kamar dua ratus lima. Bukan satu, dua, atau tiga. Selalu berakhiran dengan angka lima. Karena pancasila memiliki lima sila, begitu jawabmu sambil tertawa ketika kutanya mengapa kau selalu menginap di hotel dengan akhiran angka lima. Tawa yang membuat matamu menyipit dengan kerut-kerut halus di sudut-sudut luarnya. Kemudian aku tahu, lima adalah angka favoritmu, sama seperti halnya dengan tanggal kelahiranmu.

Sudah beberapa menit. Belum ada jawaban. Kuketuk lagi pintu kamarmu. Kali ini lebih keras. Aku berlomba dengan suara derasnya hujan di luar. Kuseka dahiku yang sedikit basah oleh hujan di perjalananku datang ke hotel ini. Keluarlah. Ku mohon keluarlah. Aku janji ini tak akan lama. Aku hanya ingin menemuimu sebentar saja. Untuk yang terakhir kalinya. Untuk terakhir kalinya. Dan jika besok-besok kau masih datang lagi, aku janji tak akan lagi menemui.

Keputusanku sudah bulat. Perpisahan adalah satu-satunya piihan yang tak bisa digugat. Semalaman sudah kuhabiskan waktuku bersama  Agi di sebuah kedai kopi. Seperti biasa sahabatku ini akan duduk diam sambil menyesap espressonya perlahan. Dibiarkannya kuselesaikan cerita, kutuntaskan tangis, dan kurapal janji-janji.

Aku kangen.

Besok aku ke Jogja.

Kutunjukkan barisan kalimat singkat pesanmu pada Agi. Kau tahu apa katanya?

“Jangan temui dia!” Agi melarangku untuk menemuimu. Agi benar. Kau memang tak layak untuk ditemui. Namun bagaimanapun juga, aku tetap harus bertemu denganmu. Akan kuselesaikan semuanya. Aku tak ingin ada urusan yang tertinggal kemudian menjadi hantu sepiku di kemudian hari.

“Untuk apa?” Agi bertanya.

“Aku harus menuntaskan semuanya.” Agi diam. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Barangkali karena dia sudah menduga  apa yang akan terjadi selanjutnya. Tenanglah Agi. Aku tak mungkin terperdaya lagi.

Kangen? Kamu pikir kamu itu siapa? Setelah sekian minggu tidak ada kabar tiba-tiba kau bilang kangen, kemudian kamu akan datang. Kau pikir aku ini apa? Cadangan? Atau selingan? Lalu di mana kamu kemarin-kemarin, saat aku sedang membutuhkanmu. Apa kamu tahu, kalau aku sering memikirkanmu? Tak tahukah kamu, kalau aku selalu menunggumu? Ah, kamu tak pernah tahu dan mungkin tak akan pernah tahu. Atau barangkali kamu tahu, hanya saja kamu pura-pura tidak tahu. Iya,  aku yakin kalau kamu mengerti, hanya saja kamu memang tak pernah peduli. Sedangkan aku layaknya orang bodoh yang terus-menerus menunggu, layaknya orang bodoh yang terus-terusan menanti. Tapi kini aku sadar. Semua yang Agi katakan itu benar. Mau sampai kapan aku harus menyiksa diri? Mau sampai kapan aku menjalanai sesuatu yang tidak pasti? Sudah saatnya semua kebodohan ini harus diakhiri. Segala cerita tentangmu itu telah tamat. Telah selesai.

Pintu dua ratus lima terbuka. Kau muncul dengan balutan handuk kimono berwarna biru yang tampak kontras dengan kulit cerahmu begitupun dengan ruang kamar hotel yang serba putih. Kau sunggingkan sebuah senyuman.

“Sudah kuduga.” Barangkali itu kalimat yang akan terlontar dari mulut Agi saat ini. Aku bisa membayangkan, dia sedang bersedekap sambil menggelengkan kepalanya.

Sesungging senyuman dan kedua tanganmu yang terbuka itu tak kuasa untuk kutolak. Dengan serta merta aku menghambur di pelukanmu.  Jari-jariku menjelajahi wajahmu. Kukecup penawar rinduku setelah sekian bulan tak bertemu. Bohong kalau kubilang, aku tak pernah rindu. Aku sangat rindu. Ada aroma mint pasta gigi yang tertinggal di napasmu. Rambutmu pun terasa masih sedikit basah dengan wangi segar shampo yang menguar. Aku sejatuh-jatuhnya di kuasamu. Aku sejatuh-jatuhnya di pelukanmu.

“Selamat ulang tahun” kusodorkan sebuah kotak merah marun.

“Makasih..” Tak ada kata lain yang terucap dari mulutmu usai kaubuka kotak itu. Kau tersenyum. Kau dekap diriku. Semakin dalam. Semakin erat. Sesorot rasa haru tersirat di matamu.  

“Supaya dia terus mengingatmu? Supaya dia terus menemuimu? Supaya usahamu melepaskan diri darinya gagal?” cecar Agi semalam.

Bagaimanapun juga, sepedas-pedasnya ucapan Agi, serewel dan seposesifnya dia, Agi adalah seseorang yang paling bisa diandalkan.  Agi lah yang semalam menemaniku mencari hadiah ulang tahun untukmu. Bahkan dia yang memilihkan arloji analog berwarna silver dengan tali strap dari kulit berwarna coklat yang kini melingkar di pergelangan tangan kirimu.

Untuk apa susah-susah kucarikan kado ulang tahun untukmu? Barangkali Agi benar. Aku ingin selalu kauingat. Aku tidak siap untuk dilupakan. Tapi mau tidak mau, aku harus melupakanmu. Kesadaranku telah kembali. Kuingat-ingat lagi tujuanku datang ke tempat ini. Aku harus pergi.

“Kamu kenapa?” tanyamu ketika ku mencoba melepaskan diri dari dekapanmu

“Aku mau pulang.” jawabku singkat.

“Kenapa?”  tanyamu.

Kenapa? Bahkan untuk sebuah pertanyaan yang sesingkat itu aku tak berhasil menemukan jawabannya. Rangkaian kata yang telah kususun, alasan-alasan yang telah kupilih, semuanya menguap entah ke mana. Aku hanya bisa diam.

 “Tinggallah, di luar masih hujan.” Lanjutmu. Aku menuruti bimbingan tanganmu. Aku duduk kembali ke ranjang. Kupanndangi hujan dari jendela kaca besar. Sesekali cahaya kilat terlihat di langit malam. Januari memang selalu seperti ini. Januari, hujan sehari-hari. Kauberikan secangkir kopi instan yang baru saja kauseduhkan. Kurasa Agi akan maklum dengan semua ini. Di luar masih hujan, tak ada salahnya untuk tinggal sebentar. Kusesap kopiku perlahan.

 “Jangan egois! Apa kau tak punya hati? Dia sudah memiliki istri!” kata-kata Agi semalam terus terngiang.  Apakah aku memang tidak punya hati? Pikiranku berkecamuk. Perasaanku bergejolak. Satu sisi hatiku ingin pergi, satu sisi yang lain ingin tetap di sini. Sebentar aku merasa yang kulakukan ini salah, tapi sebentar kemudian aku merasa tidak benar-benar salah. Bukankah kamu datang karena kemauanmu sendiri? Aku tak pernah memintamu, apalagi memaksamu. Kalau kemudian kau membutuhkan seseorang selain istrimu, barangkali yang salah bukan pada diriku, yang salah ada pada istrimu. Aku tidak salah. Aku tidak mau disalahkan.

Aku tahu. Orang-orang akan selalu menyalahkanku. Mereka akan bilang aku egois. Mereka akan menganggapku keras kepala. Tak apa. Itu karena mereka tidak pernah tahu. Dan aku yakin mereka tidak akan pernah mengerti dengan apa yang kurasakan. Mereka tidak pernah menjalani hal-hal apa saja yang telah kualami. Mereka tidak tahu dengan pengorbanan macam apa saja yang telah kita lakukan untuk bisa bertahan sejauh ini. Lantas kenapa ini semua harus diakhiri kalau aku menikmati? Aku bahagia menjalaninya. Tak ada urusannya dengan mereka.  Bukankah yang terpenting adalah kita? Kebahagiaan antara aku dan kamu. Bukan mereka.

“Apa kau percaya dengan yang namanya soulmate?” Kau memecah keheningan.  Aku hanya menoleh. Di luar masih hujan. Aku tak begitu jelas mendengar apa yang keluar dari mulutmu.

“Apa kau percaya, setiap orang memiliki soulmate. Apakah setiap orang akan bertemu dengan pasangan jiwanya?” kau memperjelas pertanyaanmu. Kali ini aku menggeleng.

“Bukankah jumlah laki-laki dan perempuan di dunia ini tidak sama?” setelah keheningan beberapa saat justru pertanyaan lain yang keluar dari mulutku.

“Barangkali seseorang bisa memiliki lebih dari satu pasangan jiwa.” Kau menimpali.

“Dan itu berarti, ada seseorang yang harus berbagi pasangan jiwa dengan orang yang lainnya.” Balasku. Kau tersenyum. Kauraih kepalaku. Aku pasrah. Kaubelai rambutku kemudian kaukecup keningku.  Seperti hari yang semakin malam, kita pun semakin tenggelam.

“Bagiku pasangan jiwa itu tidaklah selalu memiliki kesukaan atau kebahagiaan yang sama. Bisa jadi justru mereka memiliki kekosongan dan kesepian yang sama. Barangkali mereka tidak harus suami dan istri. Mungkin juga pasangan jiwa itu bisa laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan. Tidak harus laki-laki dan perempuan.” Sayup-sayup masih kudengar kau berbicara. Namun aku sudah tak begitu peduli. Ada yang sedang kuhayati. Tak ada yang lebih ingin kudengar dalam derasnya hujan di malam ini selain detak jantung dan tarikan napasmu yang panjang dan teratur.

Sesuatu bergetar di atas meja. Telepon genggammu berbunyi. Aku cemas. Ada nama seseorang yang kutakutkan. Aku takut  kalau-kalau istrimu yang menghubungi.  Aku hanya bisa pasrah. Namun kemudian aku lega, hingga dering telepon itu berhenti, kau tak beranjak pergi.  Aku tersenyum untuk kemenangan kecil ini. Untuk kesempatan yang tidak setiap hari bisa kualami, aku tidak ingin ada orang lain. Aku hanya ingin ada kita berdua.

Kugenggegam erat tanganmu yang melingkar di perutku. Kuletakkan tepat di dadaku. Dekat dengan jantungku. Kupastikan kalau aku pun punya hati. Dan justru karena aku juga punya hati,kurasa aku pun layak untuk dicintai.

“Apakah di luar hujan sudah reda?” tanyamu dengan suara berat setelah bangun tidur. Kubuka mata pelan. Tanganmu masih kugenggam erat di dadaku.  Di luar langit sudah terang. Hujan telah berhenti. Aku masih ingin tetap di sini.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cerpen pilihan redaksi kali ini sangat apik mengangkat kisah cinta terlarang antara seorang wanita dengan pria beristri. Yang menarik dari kisah ini adalah pergulatan dalam batin wanita tersebut, yang hingga akhir cerita tetap meneruskan hubungannya dengan pria tersebut, dengan dalih cinta yang begitu besar. Selain mengangkat sisi gelap atau konsekuensi negatif dari rasa sayang yang sangat besar terhadap seseorang, alur cerita mengalir dengan sangat detil dan lancar sehingga pembaca bisa merasakan emosi dari masing-masing karakter, terutama pemain utamanya. Pesan moral dalam kisah ini pun memberikan pelajaran penting dan perenungan bagi siapa pun, meninggalkan pertanyaan pada diri sendiri apa yang dilakukan jika berada di posisi sang tokoh utama.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Keren cerpennya

  • Arifin Narendra Putra
    Arifin Narendra Putra
    1 tahun yang lalu.
    Ini tulisan atau cover boy? Keren banget!

  • ai siti zenab
    ai siti zenab
    1 tahun yang lalu.
    Cerita dengan nilai dan sudut pandang yang berbeda, nice story...

  • Mimo 
    Mimo 
    1 tahun yang lalu.
    aku mau nyoba bikin karya juga, semoga bisa sebagus karya @Suryawan