Restu Majene

Suryawan WP
Karya Suryawan WP Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2016
Restu Majene

?

Lima tahun yang lalu pertama kali kuinjakkan kaki di tempat ini, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang menjadi pintu gerbang Sulawesi Selatan. Aku sampai di tempat ini bukan karena urusan pekerjaan. Kuliahku sudah kurampungkan di Surabaya sana, bukan di sini. Aku tak punya keluarga untuk dikunjungi di kota ini. Satu-satunya alasan yang memungkinkan atas kedatanganku kemari adalah untuk berlibur. Sayangnya aku tidak sedang berlibur. Aku terbang ?ke Sulawesi karena sebuah harapan.

Semua begitu berbeda. Dinding-dinding kaca tembus pandang dan dominasi warna putih menjadikan bandara ini terlihat futuristik. Ornamen kapal pinisi serta langit-langit yang bermotif seperti sulaman kain mandar dari Bugis menjaga nilai tradisionalnya. Bandara ini terlihat lebih megah, daripada lima tahun yang lalu.

Kedatanganku kini tak sama dengan yang dulu. Saat itu tak ada koper dengan segala isinya. Hanya tas berisi pakaian seadanya yang kubawa, serta sebuah pigura. Segara, nama laki-laki yang fotonya ada dalam pigura. Mas Gara, begitu aku ?memanggilnya. Aku tak akan pernah lupa tanggal 2 Januari 2007, orang-orang tumpah ruah di bandara ini, wajah-wajah penuh kecemasan dan pengharapan.

?

***

?

Kupandangi wajahnya. Aku ingin berlama-lama menatapnya, menghafalkan tiap lekuk wajahnya. Untuk berkedip sebentar saja aku takut. Aku takut kalau laki-laki di hadapanku ini tiba-tiba hilang. Aku takut kalau lupa tiap detil tentangnya.

?Eliza..? laki-laki itu memanggil namaku pelan. Digenggamnya kedua tanganku.

Aku membalas senyumnya. Kutatap kedua matanya. Kusiapkan dua telingaku untuk mendengar kata-kata indah apa yang akan meluncur dari bibirnya.

?Selamat tahun baru..? lanjutnya yang diikuti dengan tawa khasnya. Tawa yang membuat matanya menyipit dengan kerut-kerut halus di kedua sudut luar matanya.

?Dasar..? kucubit pelan lengannya. Dia tetap tertawa tanpa menghiraukan orang yang lalu lalang di sekitar kami.

Hari pertama di tahun 2007. Semalam kulalui malam pergantian tahun terindah dalam hidupku. Sudah tiga kali kulewati malam pergantian tahun bersamanya. Jari manisku yang menjadi saksi betapa bahagianya aku. Sebuah cincin kini melingkar padanya. Semalam Mas Gara melamarku. Seharusnya aku tenang karena akhirnya laki-laki ini mengikatku. Namun aku justru cemas. Aku takut ikatan ini terlepas.

?Harus ya, kamu pergi? Nggak bisa ya kalau tetap tinggal di Jawa??

Sudah jauh-jauh hari dan entah sudah berapa kali kami membicarakan tentang ini. Perusahaan tempat Mas Gara bekerja membuka kantor cabang baru di Manado. Dia ditunjuk untuk menjadi kepala cabang. Meski akhirnya aku mendukung keputusannya berangkat ke Manado tapi ternyata tetap berat untuk melepasnya. Setelah melewati malam yang membahagiakan dengannya, kini aku harus merelakan kepergiannya.

Banyak rencana yang dibuatnya ketika memberitahuku soal kepindahan ini. Merencanakan berbulan madu di Bunaken. Berdua menikmati keindahan bawah lautnya atau sekadar menyisiri pantainya dengan kaki telanjang. Aku pun mengamini untuk semua rencana indah itu.

?Penumpang pesawat tujuan Manado, silakan masuk ke ruang tunggu..? suara seorang wanita terdengar dari pengeras suara.

?Aku harus masuk, pesawatku sudah mau berangkat..?

Aku pura-pura tidak mendengar. Kupeluk Mas Gara erat. Sangat erat.

?Eliza..aku harus masuk..? Mas Gara meminta pengertianku. Kulepaskan juga pelukanku.

?Lebaran nanti aku akan sowan ke tempat ibu bersama bapak-ibu untuk membicarakan rencana pernikahan kita. Kamu jaga diri baik-baik. Sesampai di Manado nanti kutelepon..? kubiarkan laki-laki ini mencium keningku hingga akhirnya hilang dari pandanganku, melewati pintu keberangkatan bandara Juanda.

?

***

?

?Tante Eliza..?

?Hai Eva..?

Seorang gadis kecil menghambur di pelukanku. Kuciumi kedua pipi putihnya. Usianya delapan tahun. Matanya besar dengan bulu mata yang lentik. Eva mewarisi kecantikan mamanya. Aku tak sempat mengenal mamanya.

?Maaf kami telat..? suara berat seorang laki-laki.

?Ah, nggak Ray. Ini aku baru saja turun kok dari pesawat.?

Raymond, ayah dari Eva si gadis kecil. Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Perawakannya tinggi besar dengan kulitnya yang gelap karena terbakar matahari. Dalam tubuh kekarnya itu ada hati yang lembut.

4 Januari 2007, aku dan 10 orang wartawan lainnya berada di dalam sebuah pesawat Cassa milik TNI Angkatan Laut Armada Timur. Aku dan Raymond ada di sana karena sebuah kesamaan.

Tiga hari setelah keberangkatan Mas Gara, aku belum mendapatkan kabar tentangnya. Kalau semua sesuai rencana, harusnya dua jam setelah berangkat dia meneleponku. Hanya berita di televisi dan koran yang terus mengabarkan hilangnya pesawat Boeing 737-400. Mas Gara satu dari 96 penumpang pesawat itu.

Bersama lima puluhan orang keluarga penumpang yang lain aku diberangkatkan ke Bandara Sultan Hasanuddin pada 2 Januari. Kabar terakhir menyebutkan satu jam setelah pesawat lepas landas tertangkap sinyal emergency di atas laut Makassar. Kemungkinan besar pesawat yang hilang ada di sekitar perairan itu. Sebuah posko informasi dipusatkan di bandara Sultan Hasanuddin ini. Mendadak bandara ini menjadi penuh sesak. Orang-orang mencari kabar tentang saudaranya. Begitupun aku, berbekal foto Mas Gara, berharap ada yang mengenalinya.

Raymond adalah anggota TNI Angkatan Laut. Tugasnya menjadi copilot pesawat Cassa. Aku seorang wartawan untuk sebuah tabloid wanita. Seharusnya kami tidak sedang bertugas. Karena alasan pribadi kami berdua meminta izin untuk ikut dalam pencarian pesawat itu.

?Windy, kamu ada di mana? Tunjukkan dirimu sayang..? Kalimat yang terus diucapkan Raymond.

Laki-laki itu tidak menangis tapi matanya tidak bisa berbohong. Mata itu menunjukkan kecemasan, ketakutan akan sebuah kehilangan. Dengan teropongnya dia terus mengamati lewat jendela cockpit. Tak sejengkal kawasan pun boleh lepas dari pandangannya. Berharap menemukan pertanda keberadaan orang yang dicintainya. Windy, istri yang dicintainya bertugas sebagai pramugari pada pesawat naas itu. Sesekali pesawat Cassa yang kami tumpangi terbang sangat rendah, dengan ketinggian sekitar 30 meter, kami berharap bisa menemukan pertanda. Hingga empat jam pencarian, kami tidak mendapatkan hasil.

Wajahnya kecewa ketika pesawat kami harus kembali ke pangkalan. Kulihat sorot matanya meredup ketika ia duduk di sebelahku. Aku hanya bisa diam, tak mampu menghiburnya.

?Anak saya umurnya tiga tahun. Dia terus menangis, menanyakan mamanya. Saya bilang mamanya akan pulang. Saya sangat yakin, Windy akan baik-baik saja. Tuhan akan menjaganya. Saya ingin membawa kabar gembira untuk Eva anak saya. ?

Aku juga ingin bilang padanya kalau Mas Gara-ku pasti akan baik-baik saja tapi bibirku kelu. Aku diam dalam isakku.

?Mungkin saya terlihat kuat, saya tidak menangis, tapi hati saya remuk..? lanjutnya saat itu.

Pencarianku terus berlanjut. Setelah pencarian lewat udara yang tak mendapatkan hasil, aku mencari keberadaan pesawat langsung di perairan Selat Makassar dengan menumpang kapal nelayan dari desa Babana Kabupaten Pinrang. Kami menyusuri perairan Pinrang hingga Majene. Nelayan-nelayan dari suku Bugis itu begitu ikhlas membantuku padahal mereka tak punya ikatan apapun dengan Mas Gara. Mereka rela berhari-hari meninggalkan pekerjaan mereka, turut dalam pencarian. Raymond tetap melakukan pencarian bersama tim SAR TNI Angkatan Laut. Kami masih bertukar informasi.

Aku terduduk lunglai di antara puluhan orang lainnya di Bandara Sultan Hasanuddin. Mereka membisu. Pilu. Pasrah. Hari itu tanggal 25 Januari 2007 pencarian pesawat yang hilang resmi dihentikan. Sehari sebelumnya, kapal Mary Sears yang didatangkan dari Amerika Serikat mengabarkan kotak hitam dan cockpit voice record dari Boeing 737-400 itu terdeteksi pada kedalaman 2000 meter di perairan Majene yang arusnya deras. Sangat tidak mungkin untuk melakukan pencarian sampai ke sana. Dipastikan tidak ada korban yang selamat dari kecelakaan tersebut, begitupun Mas Gara, begitupun Windy.

?Eliza, kamu tidak apa-apa??

?Iya Ray, aku tidak apa-apa..?

Raymond menyadarkanku dari lamunan masa lalu. Diulurkannya sapu tangan padaku. Aku bahkan tidak sadar air mata telah membasahi pipiku. Kami bergegas masuk ke mobil meneruskan perjalanan menuju ke Majene.

Terakhir aku ke pantai ini 3 Februari 2007. Saat itu kami berangkat dari pantai ini dengan kapal KRI Tanjung Dalpele ke tengah laut. Di laut itulah kenangan orang-orang yang kami cintai tertinggal. Hanya kenangan. Aku, Raymond dan seratusan keluarga korban lainnya melakukan tabur bunga dan doa bersama untuk korban kecelakaan pesawat tersebut. Isak tangis bersahutan. Beberapa orang menangis histeris. Beberapa orang pingsan. Bahkan ada seorang wanita yang hendak memanjat dinding dek kapal berusaha meloncat ke laut.

?Eliza..kumohon tenanglah..Eliza..?

?Ray..?

Tubuhku terasa lemas, lunglai di pelukan Raymond. Yang aku ingat, saat itu angin laut berembus kencang, berbisik di telingaku. Suara Mas Gara yang kudengar, memanggil-manggil namaku. Memintaku datang padanya. Aku adalah wanita itu, wanita yang hendak memenuhi panggilan laut untuk menuntaskan rindu. Raymond dan beberapa petugas yang lain telah menyelamatkanku kala itu.

Aku terisak. Raymond memapahku menaburkan bunga-bunga ke lautan. Beberapa orang melepas karangan bunga dengan foto keluarga yang disayangi ke laut. Setelah tabur bunga itu beberapa orang tetap berdoa sambil menatap laut lepas, ada juga yang mengaji di musola kapal. Sementara aku hanya diam dengan air mata yang terus menetes. Masing-masing orang memilih caranya sendiri untuk mengatasi kesedihannya.

Hari ini kami datang ke pantai ini untuk sebuah kenangan, doa, dan juga restu.

?Windy dan juga Gara, selamanya akan tetap hidup di sini..? kata Raymond sambil menggenggam tangan kananku, meletakkan di dadanya, kemudian di dadaku.

?Mas Gara, Windy, kalian yang mempertemukan kami. Hari ini kami meminta restu kalian berdua. Kami akan menikah..?

?

?

Yogyakarta, 9 Mei 2012

?

?

?

?

  • view 323