Apa Yang Sedang Anda Pikirkan?

Inspirasi Surat Terbuka
Karya Inspirasi Surat Terbuka Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 November 2017
Apa Yang Sedang Anda Pikirkan?

Assalamualaikum teman-teman yang baik. Apa kabar?
Saya sangsi jika bertanya kabar tapi saya sendiri masih suka menanyakan itu. Mungkin kebiasaan. Mungkin bukan. Atau mungkin karena terpengaruh orang lain? Nah, saya rasa ini yang paling memungkinkan.

Sering saya memperhatikan orang lain saat mereka sedang berperilaku, bertutur kata dan berpikir. Orang-orang di sekitar saya misalnya, mereka kadang-kadang suka berubah pikiran dengan cepat dan kadang-kadang saya tak bisa menebak isi pikiran mereka. Itu wajar. Saya bukan Allah yang tahu segalanya.

Tapi ada yang menarik di sini. Bagi saya, isi pikiran adalah satu-satunya hal yang paling mulia selain ketaqwaan dalam diri manusia. Sebab dalam alam pikiran, banyak hal diolah yang kemudian akan menentukan cara beribadah, cara berpikir, bahkan cara berperilaku. Seandainya saya bisa menebak isi pikiran satu orang saja misalnya, wah betapa bahagianya saya!

Saya menulis surat ini untuk berbagi kepada teman-teman semuanya. Berbagi apa? Pengalaman tentu saja. Bagaimana saya berjibaku dengan tebakan pemikiran orang. Di media sosial, terutama facebook, instagram dan whatsapp, saya bisa mengetahui bagaimana isi pikiran orang saat itu. Lha wong pertanyannya saja “what’s on your mind?” kok, masa mau dijawab “saya bersedia menikah”? Kan ngaco.

Canggihnya lagi, kita bahkan terus-menerus memperhatikan status demi status, pernyataan demi pernyataan, ucapan demi ucapan, kegalauan demi kegalauan dan bahkan keluhan demi keluhan. Dan sayangnya, kita kerap mecerap itu sebagai kenyataan. Aduh. Gawat. Padahal pikiran saya menduga status di media sosial itu ya cuma rekayasa manusia di dunia maya. Justru sama sekali bukan isi pikiran mereka.

Maka saya dengan sangat sadar sudah memutuskan untuk berhenti kepo dengan status faceboook teman-teman saya. Selain membuang waktu dan menyakiti mata saya yang terus-menerus melihat layar gadget atau komputer, saya lebih memilih mengamati mereka dengan langsung. Saya mencobanya dengan memulai percakapan terlebih dahulu. Jika teman saya mulai membuka layar gadgetnya, saya tidak menegur. Tapi saya membiarkan ia hanyut dalam kesibukan gadgetnya, membiarkannya terus sampai ia memergoki saya sedang mengamati ia yang mengamati layar gadget. Dari situ biasanya mereka akan merasa malu.

Isi pikiran seseorang memang selalu menarik. Siapa sih yang tidak ingin mengetahui apa yang ada dalam otak Bapak Bangsa kita, Soekarno? Atau apa yang ada dalam otak BJ Habibie? Semua orang tentu ingin tahu lebih dalam mengenai pemikiran mereka. Tapi bukan dari status facebook, instastory atau status di whatsapp tentunya, tetapi dari buku-buku yang ditulis untuk merekam perilaku dan cara bertutur kata mereka.

Mulai saat ini, saya memutuskan untuk tetap menunduk tetapi bukan menghabiskan waktu menunduk untuk mengamati layar gadget. Saya ingin terus menunduk untuk membaca buku tentang pemikiran seseorang dan mengajak ngobrol teman-teman saya di suatu tempat, bukan dalam chatting room di media sosial.

Bagaimana dengan kamu, apa yang sedang kamu pikirkan saat membaca tulisan ini?
Salam lagi yaaa... Assalamu’alaikum Wr. Wb...


Penulis: Achmad Chabib Ainul Mucharror

Sumber gambar.

  • view 80