Surat Terbuka untuk Calon Mahasiswa Seluruh Indonesia

Inspirasi Surat Terbuka
Karya Inspirasi Surat Terbuka Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Oktober 2017
Surat Terbuka untuk Calon Mahasiswa Seluruh Indonesia

Waktu lalu kakanda menulis soal intelektual dan organisasi mahasiswa. Dua tulisan lalu adalah kegeraman kanda kepada mahasiswa yang menganggap dirinya benar-benar maha atau di atas segalanya. Padahal status mahasiswa itu biasa saja. Selain itu, mengagung-agungkan status maha itu jadi menjijikan karena tidak berarti apa-apa.

Sekarang kanda menulis nasihat atau petuah untuk Adinda calon mahasiswa di seluruh Indonesia. Sebagai mahasiswa bangkotan ada baiknya kanda memberi tahu apa-apa saja yang baik dan tidak ketika kuliah.

***

Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) telah selesai. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pun baru diumumkan kemarin. Banyak yang gembira karena lulus di universitas pilihannya. Tentu saja banyak juga yang sedih karena tidak lulus di universitas pilihannya. Tenang saja, banyak jalan menuju sukses. Tapi bagi yang lulus SNMPTN ataupun tidak, hendaknya membaca nasihat kanda, mahasiswa bangkotan ini.

Adinda calon mahasiswa, sebelum duduk di bangku kuliah, hendaknya kalian memutuskan dahulu niat kalian kuliah. Sepanjang umur kanda, niat orang kuliah itu macam-macam. Ada yang memang bernafsu mencari ilmu lebih dalam. Ada yang sekadar ikut-ikutan lingkungannya. Ada yang memang hendak berniat sukses. Sukses dalam arti untuk menjadi kaya. Motif terakhir adalah yang paling banyak. Semua orang pingin kaya kan? Kanda pun ingin kaya agar bisa meminang kekasih.

Mereka ini kanda sebut sebagai golongan pragmatis. Pragmatis itu adalah paham yang suka dengan hal-hal yang praktisnya saja. Jadi buat mereka kuliah itu ambil praktisnya saja, cuma ambil gelar kemudian dapat kerjaan yang bagus di perusahaan terbaik. Tentu saja ini tidak buruk.

Tapi banyak dari golongan ini yang ngehek minta ampun. Golongan ini sering ngecengin orang yang sedang berdemonstrasi. Sebutan macam, massa bayaran, membuat macet, sering dilontarkan dari moncong kaum pragmatis ini kepada orang yang berdemo. Tapi golongan pragmatis ini sama sekali tidak pernah berkontribusi apa-apa untuk mengubah sesuatu. Kanda paham, kalian pasti masih bingung dengan apa yang kanda bilang.

Begini, Adinda pasti sadar kalau negara Indonesia ini tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Demonstrasi adalah salah satu cara mengubah yang tidak baik itu. Meski kanda akui demonstrasi yang tidak dilakukan dengan efektif akan sia-sia. Buang tenaga dan waktu saja. Namun paling tidak itulah usaha orang-orang yang berdemo itu.

Berbeda dengan orang yang berdemo, orang pragmatis ngehek kerjaannya cuma bisa nyinyir. Adinda bisa pantau media sosial pada tanggal 1 Mei nanti. Hitung ada berapa orang yang statusnya mahasiswa tapi nyinyir sama demo buruh. Kemudian Dinda bisa lihat apa yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa model itu selama ini. Pasti Adinda hanya menemukan kegiatannya yang hanya foto-foto keren di tempat jalan-jalan yang instagramable. Foto nongkrong di warung kopi mahal instagramable. Foto lagi menghisap vape. Dan foto-foto instagramablelainnya. Soal mengorganisir massa, mentok-mentok mereka ini jadi event organizer acara keren. Instagramable pula!

Kaum ngehek ini tidak pernah sadar kalau hak-hak yang diberikan kepada buruh itu adalah hasil dari demo buruh. Hak cuti hamil, upah minimun yang setiap tahun naik, uang Tunjangan Hari Raya (THR) dan masih banyak lainnya. Kaum ngehek ini juga bebal, tidak pernah paham kalau nantinya mereka juga jadi buruh, meski berdasi atau berjas. Makanya dinda, berterima kasihlah kepada buruh yang rela berdemo demi seluruh buruh di mana saja.

***

Adinda, sungguh sayang kalau kuliah hanya mengejar gelar sarjana saja. Di tulisan sebelumnya, kanda menyebut kewajiban intelektual itu seperti apa. Mahasiswa itu kaum intelektual. Mahasiswa punya keistimewaan karena punya akses sumber ilmu pengetahuan lebih banyak dari yang tidak kuliah. Sayang saja kalau keistimewaan macam ini disia-siakan dengan nongkrong di tempat instagramable saja.

Adinda pasti pernah dengar soal Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di beberapa kampus ada yang menerapkan kebijakan wajib mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya KKN. Kanda heran, banyak yang bangga dengan model pengabdian macam ini. Seolah dengan pengabdian macam ini bisa menyelesaikan masalah rakyat.

Di kampus kanda, KKN hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja.  Dari KKN pula, banyak teman kanda yang dapat jodoh. Belum lagi waktu KKN yang sebentar sekali. Bagaimana bisa membangun masyarakat dengan hanya waktu sebulan?

Belum lagi soal skripsi atau tugas akhir. Kakanda suka migrain kalau memikirkan ini. Skripsi adalah karya tulis ilmiah, tentu saja. Skripsi pula sering digadangkan menjadi sumbangan kepada masyarakat. Tapi kanda tak pernah merasa demikian.

Lagi-lagi kanda menunjuk hidung sebagian kaum pragmatis. Karya tulis ilmiah kaum pragmatis ini banyak sekali yang asal saja. Mereka ini seringkali copy paste dari Wikipedia sampai skripsi orang lain. Makanya Adinda jangan heran kalau skripsi orang-orang isinya hampir semua sama. Adinda bisa periksa di internet, cari dua judul skripsi yang mirip. Kemudian lihat isinya. Kalau bisa dari kampus yang sama. Pasti isinya mirip!

Itulah contoh kaum pragmatis Adinda. Sudah pragmatis, ngehek pula! Kalau Adinda berminat macam itu, contohlah, tapi jangan ikut ngehek. Diam dan perhatikan saja kalau orang berdemo atau melakukan sesuatu untuk perubahan.

Adinda, kanda ingin menegaskan pertanyaan sekali lagi, untuk apa Adinda kuliah?

Kalau adinda tidak bisa menjawab itu, kanda ingin bilang, “memang kuliah itu penting dan tentu saja itu perlu. Tidak kuliah juga perlu. Jika makan itu perlu maka berak juga perlu, jika hidup itu perlu maka mati juga perlu. Jika beli anggur merah itu perlu, enggak beli anggur merah juga perlu.” Kuliah itu seperti itu adinda.

 Catatan:

Kanda bukan HMI, sungguh! Bukan pula PMII atau dari organisasi lain. Kanda independen. Masak sendiri, makan sendiri, berak sendiri, minum-minum sendiri.

Adinda, jangan pernah mencoba anggur. Cobalah anggur mahal, anggur murah rasanya seperti Kuku Bima.



======
Catatan redaksi:
Surat ini dimuat oleh mahasiswabicara.id. Dan dimuat ulang oleh inspirasi surat terbuka.

  • view 141