Surat Terbuka Mahasiswa untuk Rektor UIN Malang

Inspirasi Surat Terbuka
Karya Inspirasi Surat Terbuka Kategori Renungan
dipublikasikan 19 September 2017
Surat Terbuka Mahasiswa untuk Rektor UIN Malang

Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamualaikum, Prof.

Perkenalkan, saya M. Naufal Ardiansyah, mahasiswa UIN Maulana Maulana Malik Ibrahim Malang. Ada rasa bangga saat mendengar kabar dilantiknya pucuk pimpinan kami yang baru.

Atas nama pribadi, saya ucapkan selamat dan (harus) semangat atas dilantiknya Prof. Dr. H. Abd. Haris, M. Ag sebagai Rektor terpilih UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2017-2021.

Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya menyampaikan beberapa kegelisahan terhadap kondisi kampus saat ini. Pertama, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mahal.

Tiba-tiba saya teringat masa SD ketika membacakan isi pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Lantas, pertama kali yang terbersit dalam benak saya adalah, apakah hak kemerdekaan yang sesungguhnya sudah tercapai? Apakah kebijakan yang adil dan manusiawi sudah ditegakkan?

Saya bermimpi suatu saat, pendidikan murah bisa diakses siapa saja. Jika UTK tetap mahal, oke lah, paling tidak tepat sasaran. Barangkali bisa membantu Biro AUPK dan Kabag. Keuangan mengurangi pelayanan mahasiswa yang berbondong-bondong banding UKT. Kami yakin, kehadiran Prof. Haris membawa keberkahan bagi mahasiswa UKT mahal.

Kedua, kondisi ruang kelas dan fasilitasnya seperti bangku, LCD-proyektor, lampu, dan lain-lain. Sengaja tidak menyebutkan AC karena kelas kami sudah belum ber-AC.

Perlu Prof ketahui, bangku belajar di kelas kami sudah reyok-penyok. Kadang saya prihatin melihat temen-temen terganggu dengan suara riuh akibat gesekan-gesekan mesrah dari bangku kayu kuno inventaris tahun 2017 2003.

Kalau saya sih tidak masalah, Prof, paling tidak bisa mengurangi jatah tidur di kelas. Konsentrasi belajar saja tidak fokus, apalagi tidur. Ah, silakan Prof tengok sendiri deh gimana kondisi ruang kelas kita.

Ketiga, masih tentang fasilitas, yakni penerangan lingkungan kampus. Prof, saya sempat tertampar hidup-hidup sembari mehanan malu. Mahasiswa tetangga bisik-bisik halus, “kayaknya kampusmu cocok deh dijadikan tempat uji nyali. Itung-itung bisa masuk tipi, broooo”. Saya diam seribu bahasa. Saya merespon positif saja. Tapi dalam hati saya bergumam, “ente belum tau gimana pernak-pernik lampu di depan rektorat, tidak kalah dengan taman wisata Balai Kota Malang, broooo”.

Saya berharap selanjutnya untuk dibentuk tim khusus Biro Penerangan Lingkungan Kampus. Biar tidak dikira gedung angker yang dihuni makhluk halus.

Sebentar, saya tarik nafas dulu, Prof. ~Huuuhhhhhh~

Oke, lanjut. Saat ini, yang perlu Prof ketahui, barangkali ini poin surat yang keempat, kondisi asrama (mahad) yang tidak layak huni. Betapa tidak! Info yang saya dapat dari mahasiwa baru, mereka wajib membayar biaya mahad 7.500.000,00 (Tujuh juta lima ratus rupiah) per kepala. Saya hanya bisa membayangkan jika satu kamar diisi delapan mahasantri, maka 60.000.000,00 tarif per kamarnya.

Katakanlah satu mabna terdiri 40 kamar, jadi 2.400.000.000 per mabna. Sedangkan kita punya sembilan mabna. Ohya, belum lagi asrama kedokteran. Biuh! Kalkulator hape saya sampai error lantaran digitnya terlalu banyak. Hihihi. Ada yang bisa bantu saya menghitung? Monggo…

Kemudian, saya bertanya-tanya pada rumput yang bergoyang diri sendiri, anggaran sebesar itu digunakan untuk apa saja. Waktu saya nyantri di Mahad Sunan Ampel Al-Aly (MSAA), amat sangat banyak sekali fasilitas yang dibatasi. Misal, dilarang membawa rice cooker, TV, kulkas dan lain-lain. Kamar mandi pun (khusus putra) kami harus berlomba-lomba mengantri. Tragisnya lagi, sudah lama mengantri, pas giliran masuk, yah, airnya sudah habis. Kasian mereka yang harus menunaikan ibadah mandi wajib sunnah. Ups.

Kelima, kondisi tempat parkir terbatas. Perlu diketahui, Prof, kondisi lahan parkir di kampus kita amat terbatas. Saya kasihan melihat mahasiswa telat masuk kelas gara-gara bingung mencari sisa lahan parkir yang kosong. Ini yang membuat saya lebih nyaman nebeng daripada bawa motor sendiri.

The last but not least, Anda pasti mengetahui perkembangan kampus 3 dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) di Kota Batu. Saat ini, kampus ‘Ulul Albab’ ini tengah dinahkodai oleh Anda sebagai penerus estafet kepemimpinan rektor sebelumnya. Kami optimistis bahwa kelanjutan proyek-proyek pembangunan kampus yang setengah jalan ini akan terus melaju pesat.

Prof. Haris yang terhormat!
Berangkat atas dasar spirit perjuangan mengembangkan kampus ‘Ulul Albab’, kami pantang menyerah menyongsong nama baik almamater tercinta.

Poin-poin dalam Surat Terbuka ini dapat dijadikan bahan refleksi dan kontemplasi bersama. Percayalah, Prof, permasalahan di atas bukanlah warisan, bagi saya, itu adalah harapan masa depan para mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Demikian Surat Terbuka ini dibuat, saya harap menjadi perenungan Bapak Rektor Prof. Haris dan semua Civitas Akademika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Wallahul Muafiq Illa Aqwamith Thoriq,
Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Malang, 29 Juli 2017
M. Naufal Ardiansyah (Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).


======
Catatan redaksi:
Surat ini dimuat oleh www.radarmalang.id. Dan dimuat ulang oleh inspirasi surat terbuka.

  • view 147