Surat Terbuka TKI Ilegal di Malaysia untuk Pak Jokowi

Inspirasi Surat Terbuka
Karya Inspirasi Surat Terbuka Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Juli 2017
Surat Terbuka TKI Ilegal di Malaysia untuk Pak Jokowi

 

Kepada Pak Presiden Jokowi yang kami hormati;

 

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

Pak Presiden,

 

Malaysia adalah negara tujuan TKI terbesar dibanding negara-negara lainnya di seluruh dunia. Pun demikian, kompleksitas persoalannya  sepertinya juga nomor satu dibanding persoalan TKI di negara lainnya. Persoalan TKI ilegal di Malaysia adalah persoalan klasik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Setiap tahun, ratusan bahkan ribuan saudara-saudara kita dideportasi karena melanggar hukum dan/atau melanggar aturan keimigrasian.

 

Bapak tentu sudah tahu, kan? Sejak 1 Juli 2017 lalu, pemerintah negeri jiran Malaysia menggelar razia besar-besaran terhadap pekerja migran tak berdokumen, termasuk pekerja asal Indonesia. Hal tersebut dilakukan setelah berakhirnya program legalisasi pekerja migran ilegal yang dinamakan program E-Kad. Otoritas Malaysia kecewa karena program tersebut kurang mendapat sambutan.

 

Ketahuilah Pak Jokowi ...,

 

Saat ini, ribuan rakyatmu yang menjadi TKI di negeri jiran ketakutan. Bila malam, mereka tidur di hutan-hutan. Mereka adalah para pahlawan keluarga. Mereka adalah pejuang yang terpaksa bersembunyi karena menjadi sasaran razia pihak berwenang.

 

Mereka memang ilegal, Pak Wi. Diistilahkan PATI, pendatang asing tanpa izin. Mereka tidak mempunyai dokumen yang sah, tidak mempunyai permit kerja. Bahkan, ketika pemerintah negeri jiran membuka program legalisasi pekerja asing melalui program E-Kad, tidak semua dari mereka bisa mendaftar karena ada syarat-syarat yang tidak bisa mereka penuhi.

 

Namun, apakah Anda tahu, Pak Jokowi?

 

Mereka menjadi ilegal bukan tanpa sebab. Bukan pula karena bengal, sengaja melanggar peraturan perundang-undangan negeri orang. Sampeyan harus tahu, Pak Wi, mereka butuh pekerjaan. Impitan ekonomi, beban hidup dan harapan kehidupan  untuk menyejahterakan keluarga, menyekolahkan anak-anaknya menjadikan mereka nekat, merentas batas sempadan melalui jalur gelap.

 

Kenapa mereka tidak mau mendaftar program legalisasi? Kenapa tidak mau mengikuti imbauan pemerintah agar mereka yang tidak bisa mendaftar E-kad sebaiknya pulang?

 

Persoalannya tidak sesederhana itu, Pak Wi ... Program legalisasi itu ternyata rumit, harus ada majikan yang mendaftarkannya. Sementara mereka, anak-anak bangsa yang kini terlunta-lunta di negeri tetangga, pada umumnya masuk melalui jalur tikus. Mereka bekerja secara berpindah-pindah, sehingga tidak punya majikan tetap. Tidak punya majikan sah yang bisa mendaftarkan program legalisasi itu.

 

Lalu, kenapa mereka tidak pulang saja? Lagi-lagi, sampeyan harus tahu, Pak Wi! Bagi mereka, pulang ke kampung halaman bukanlah pilihan. Bagaimanapun, kehidupan harus diteruskan. Keluarga butuh makan, anak-anak butuh biaya sekolah. Jika mereka pulang, mau kerja apa? 

 

Bukankah hingga hari ini, negara belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak bagi rakyatnya? Bukankah akar persoalan terjadinya migrasi adalah kemiskinan? Bersembunyi, lari ke hutan-hutan adalah cara mereka untuk bertahan, agar tetap bisa bekerja, dapat mengirim uang untuk keluarganya.

 

Oleh karena  itu, Pak Presiden ...

 

Saat ini mereka butuh uluran tanganmu. Bagaimanapun, negara berkewajiban melindungi setiap warga negara, di mana pun berada, tanpa ada diskriminasi berdasarkan status, legal atau ilegal. Menjadi TKI ilegal memang salah, tetapi makna melindungi bukan berarti membela kesalahannya. Uluran tanganmu bukan berarti membenarkan tindakan mereka, tetapi mencari akar persoalan, memahami dan mencari solusi.

 

Beritahu pembantu-pembantumu, Pak. Menteri-menterimu. Segera lakukan langkah nyata, jangan hanya koar-koar di media. Koordinasikan  antar lembaga/kementrian secara benar untuk mencari jalan keluar.

 

Perlu adanya upaya diplomatik government to government (g to g) untuk selesaikan persoalan ini, Pak. Perlu! Jangan hanya diam, jangan berpangku tangan. Mereka butuh 'tangan' negara agar tak semakin nelangsa.

 

Jika sampeyan sibuk, utus menterimu, Pak. Segera bincangkan. Tata kelola migrasi ketenagakerjaan perlu ada perbaikan. Perundingan kedua negara, duduk bersama, perlu dilakukan segera.

 

***

Jika Pak Jokowi adalah presiden yang merakyat, peduli dengan kaum lemah, izinkan kami mengucap setangkup harap, perhatikan nasib mereka, para pahlawan keluarga yang dengan terpaksa pergi meninggalkan kampung halamannya, membelah angkasa, seberangi lautan, mengadu nasib di negeri orang dengan harga diri, bahkan nyawa sebagai taruhan. Mereka adalah pejuang, bukan pengemis dan  peminta-minta yang  tak mungkin hanya duduk di pematang sawah, menunggu padi menguning milik tetangga.

 

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

 

Kuala Lumpur, 19/7/2017

 

TKI (dan TKI ilegal) di Malaysia.

 

Figo Kurniawan

 

======
Catatan redaksi:

Ini adalah salah satu pilihan redaksi dari beberapa Surat Terbuka yang masuk ke meja redaksi. Selanjutnya tiap hari Senin kami akan menerbitkan surat terbuka yang terpilih. Dan sesuai janji kami, kami akan mengurus pengiriman honorarium selayaknya untuk penulis yang dimuat suratnya. So, terus kirimkan Surat Terbukamu ke email: redaksi@inspirasi.co dan follow juga fanpage facebook kami di https://www.facebook.com/InspirasiSuratTerbuka/.

  • view 722