Surat Terbuka Buat Pak Tito Karnavian (Kapolri)

Inspirasi Surat Terbuka
Karya Inspirasi Surat Terbuka Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Mei 2017
Surat Terbuka Buat Pak Tito Karnavian (Kapolri)

Kepada Yth,

Bapak Jenderal Tito Karnavian (Kapolri)

di

Jakarta

 

Dengan hormat,

Seiring salam dan do'a kami panjatkan kepada Tuhan YME dengan sisa-sisa iman yang masih ada dalam dada kami, semoga Bapak selalu diberi kesehatan, konsistensi serta tetap sukses menjalankan aktivitas sehari-hari di negeri yang kian tidak ramah dan kian tidak toleran ini.

Kami warga sipil yang tak terlatih bela diri semakin kurang mengerti. kami hanyalah warga sipi biasa, yang masih suka berwangi-wangi dan pakaian rapi. Sesekali kami mejeng di mall dan nonton di bioskop atau XXI dan lainnya. Sesekali kami makan-makan di foodcort sesuai dengan kemampuan saku kami. Dan kamipun sesekali senang makan makanan cepat saji untuk dan atas nama gengsi.

 

Pak Kapolri terhormat,

Kapolri sebagai pemangku tanggungjawab utama kemanan jiwa dan kebebasan berfikir. Kami sungguh menaruh harapan banyak kepada bapak akan keamanan dan keselamatan kami, yang unyu-unyu ini. Maafkan kami juga yang terkadang sibuk mencari sesuap nasi dan sisanya untuk bayar kredit ini dan itu, sehingga kami sering tidak terlalu peduli akan lingkungan kami.

 

Bapak Kapolri!!

Jujur akhir-akhir ini kami semakin khawatir dengan masa depan negeri kita ini. Politik Rasisme dan rentetan tindakan "Peng-Ahok -kan" kian marak terjadi, dan kadang kami tidak memahami apa yang harus kami kerjakan. Di lain pihak aparat bawahan Bapak yang kami tau, tidak sepenuhnya memiliki komitmen seperti Bapak. Mereka umumnya masih menggunakan paradigma "Harmonizing politic" atas nama harmonisasi orang yang berbeda dengan mainstream menjadi dimusuhi dan dikriminalisasi.

Sebagaimana Bapak mungkin pernah ketahui, setelah Ahok, masih berderet nama yang telah dipolisikan dan segera dikriminalkan dengan delik penoda dan penista agama, bahkan tidak tau deliknya tiba-tiba ada penista ulama. Dr. Otto Rajasa di Balikpapan, Wisnu Kristanto di Cilegon Banten, Aking Saputra di Karawang adalah contoh dihadapan mata kami. Mereka juga sudah dilaporkan ke Polisi. Tekanan massa yang begitu kuat (political mob) seringkali membuat aparat bawahan bapak menjadi grogi dan tidak mampu obyektif lagi. Dan lagi-lagi atas nama menjaga harminisasi korban selalu diintimidasi dan dijadikan tersalah (blaming the victim). Seakan demi nama baik dan kemananan teritorial dimana anak buah bapak ditugasi harus ada yang menjadi tumbal.

 

Bapak Kapolri yang kami hormati,

Belum lagi, kepala-kepala dearah beserta unsur muspidanya yang juga terdiri Polda dan Polres ke bawah, tidak sepenuhnya memiliki visi dan misi ke Indonesiaan dan ke NKRI an yang terukur dan teruji. Mereka tidak jarang gagap menerima instruksi dari Bapak dan akhirnya bermain aman dengan menumbalkan korban yang hanya seorang diri. Semua itu lagi-lagi demi sekelompok massa yang berani memaki dan mengeroyok pribadi-pribadi. Kasus dr. Fiera Lovita adalah contoh yang nyata bagi kami.

Respon Kadiv Humas Polri tentang kasus dr. Fiera Lovita persis hanya berdasarkan paparan dan informasi dari Polda dan Polres Solok yang telah memaksa korban untuk rapat malam hari. namun sebagai seorang perempuan dengan dua anak yang masih kecil merasa tidak sanggup menghadiri lagi rapat, karena seharian dipepet terus oleh Kadiv Intel Polresta Solok.

Ibu dokter yang sendirian itu akhirnya tidak menghadiri rapat bersama yang dihadiri Polres, Kemenag Solok, FPI. Rapat malam hari berakhir pada suara kompak bahwa apa yang disampaikan oleh dr. Lola dianggap hoax semata, dan korban justru disudutkan bertubi-tubi. Posting-posting respon Gubernur Sumbar dan Polda Sumbar serta jajarannya sama sekali tidak berperspektif korban.

Dan anehnya lagi, petinggi-petinggi Sumatera Barat yang terdiri Gubernur, Kapolda, Kapolresta Solok dan tokoh masyarakat di sana seakan menjadikan perempuan seorang diri itu seakan sebagai musuh bersama yang harus dikendalikan karena dianggap membahayakan kedamaian Sumatera Barat. Sementara FPI yang menyatroni tidak hanya ke RSUD dan itimidasi psikis dianggap suci dan tidak diluruskan sama sekali prilakunya. Ini preseden buruk bagi hukum dan demokrasi di negeri ini.

 

Bapak Kapolri yang kami cintai,

Belum lagi akhir-akhir ini, jiwa-jiwa kami semakin tak teramankan dengan pasti. Bom Halte Kampung Melayu, terus menghantui kami. Belum lagi teroris ISIS yang terasa semakin dekat dengan kami. Terbajaknya Desa Marawi Philipina Selatan semakin membuat kami tidak merasa nyaman lagi di negeri sendiri.

Bapak Kapolri!!! ada banyak yang ingin kami sampaikan berdasarkan data-data kami, namun cukuplah sementara sampai di sini surat ini kami tulisi. Kami titipkan negeri ini dan pajak-pajak kami untuk menggaji para aparatur negara dan para politisi di DPR/DPRD yang terkadang semakin memupuskan harapan kami.

Salam hormat kami yang mencintai Pancasila dan NKRI ini.

 

Sudarto, S.Ag. MA.

  • view 130